Brothers Conflict

Brothers Conflict
Episode 34


__ADS_3

Sepulang Ivy dari cafe bersama Nicolas, wajahnya tidak lepas dari senyuman indahnya. Ivy memasuki mansion besar itu dengan sedikit heran karena para pelayan yang tidak menyambut dirinya seperti biasa.


"Di mana mereka? Mengapa mansion bisa sesepi ini?" gumam Ivy sambil melangkahkan kedua kakinya menuju ruangan lainnya.


Ruang makan pun terlihat kosong, Ivy kembali memutar tubuhnya dan menuju ruang tamu. Tidak menemukan apa pun, Ivy memilih untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua. Saat Ivy melewati kamar Grim, ia mendengarkan desahan-desahan seorang wanita, langkahnya semakin cepat lalu membuka pintu besar yang tertutup rapat di hadapannya.


Cklek


Pintu terbuka dan menampilkan ruangan yang kosong, kembali desahan itu terdengar membuat Ivy mengerutkan keningnya.


"Apa para pelayan itu melakukan sex di kamar Grim?" Ivy kembali bergumam dan mengikuti suara desahan yang membuatnya muak, karena setahunya Grim sedang berpergian.


Langkahnya terarah menuju balkon dan perlahan Ivy dapat melihat siapa yang sedang bersanggama di malam penuh awan hitam ini.


"Grim?" panggil Ivy sambil sedikit memiringkan kepalanya.


Lelaki tampan yang berstatus kakak tirinya itu menoleh dan menatap datar adiknya. Grim menghembuskan napasnya kasar lalu melepaskan penyatuannya dengan seorang wanita yang terlihat terengah-engah dengan wajah yang memerah menahan malu.


"Ahh, maaf aku mengganggu." Suara merdu Ivy benar-benar membuat Grim mendengkus kesal.


"Ya, kau sangat mengganggu. Lain kali ketuk pintu dahulu sebelum masuk!" bentak Grim membuat Ivy menatap tajam kakak tirinya itu.


"Kau ... mulai berani membentakku? Baiklah, aku akan membuatmu ingat apa yang sudah aku alami setelah memasuki keluarga Verleon!" desis Ivy.


Dengan cepat Ivy mendorong dan sedikit mengangkat tubuh Grim keluar pagar balkon.


"GRIM!!!" Wanita yang disetubuhi oleh Grim berteriak histeris kala melihat Ivy membuat Grim hampir terjatuh dari lantai dua jika saja tangannya tidak berpegangan dengan pagar balkon.


"Apa yang kau lakukan, Dasar Jalang!" bentak wanita itu kepada Ivy.


"Velly, cepat pergi dari sana!" Grim berteriak menyuruh wanita itu untuk pergi.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu!"


"Cepat pergi sebelum adikku menyakitimu!" jawab Grim sambil menatap memohon pada Ivy.


"Ivy, tolong–"


"Aaaaakkhh,"


Braakk

__ADS_1


Grim membulatkan kedua matanya saat melihat tubuh wanita yang baru saja ia setubuhi menghantam tanah. Ivy memangku wajahnya dengan kedua tangannya di pagar balok sambil tersenyum miring ke arah Grim.


"Jangan pikir aku sudah mulai melemah di hadapan kalian," ucapan Ivy membuat Grim menoleh cepat.


"Kau!"


"Dan jangan pikir, aku sudah mulai terjatuh pada pelukan kalian." tambah Ivy membuat Grim mencengkram pagar besi yang menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Dan jangan pikir aku tidak akan membuat kalian luka-luka seperti dulu, membunuh satu orang atau lebih yang berada di sekitar kalian cukup memberikanku hiburan. Mempermainkan kalian benar-benar menyenangkan," kekeh Ivy yang langsung saja berdiri tegak dan berlalu keluar dari kamar Grim.


"Sialan!" rutuk Grim sambil meloncat naik, lelaki tampan itu langsung saja melihat tubuh wanita panggilan yang ia rayu bersimbah darah di bawah sana.


Dengan cepat Grim mengambil ponsel miliknya lalu menelepon seseorang.


"Albert, bersihkan tubuh wanita yang berada di bawah balkon kamarku. Jika ia masih hidup, kau bunuh saja. Dan jangan lupa hilangkan jejakku,"


"Baiklah, Tuan Muda."  jawab lelaki di seberang sana.


"Ivy benar-benar kembali, ini akan semakin sulit untuk menaklukkan dirinya." gumam Grim sambil berjalan mondar mandir menatap cemas ponsel miliknya.


"Apa yang harus aku lakukan?!" Grim menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Di sisi lain, Ivy memasuki kamar mandi miliknya dan memilih berendam di air dingin yang telah tersedia. Diberikannya sabun aroma lavender dan green tea ke dalam bathtub. Wanita itu melepaskan pakaiannya dan segera memasuki tubuhnya ke dalam air.


"Hahaha ...." Ivy tertawa keras sambil menepuk permukaan air hingga kelelahan.


"Seharusnya aku merekam wajah seriusnya itu, dia benar-benar berpikir aku seperti wanita lainnya yang mudah terjatuh dipelukan pria tampan," kekeh Ivy dan kembali tertawa keras.


Semua sudah memasuki rencana Ivy, dengan menarik Nicolas dalam hidupnya, ia yakin akan semakin membakar api cemburu ketiga kakak tirinya itu. Ivy benar-benar melakukannya dengan baik, menyampingkan urusan hati dan bahkan hingga saat ini ia masih terus menjaga hatinya untuk jauh dari hal yng membuatnya bisa terjatuh.


Ivy benar-benar membuat ketiga kakaknya dan Nicolas berpikir bahwa dirinya sudah terjatuh. Lagi-lagi Ivy tertawa sambil memegang perutnya yang mulai kelelahan. Satu rencana lagi telah ia selesaikan, kini Ivy hanya menunggu hasil semua dari rencana yang telah ia laksanakan.


"Bukankah cinta itu kejam?" gumam Ivy sambil menutup kedua matanya.


"Ya, cinta itu kejam, membunuh siapa pun tanpa terkecuali, mengambil apa pun yang dimiliki, dan melenyapkannya apa pun dengan mudah. Mengerikan dari pembunuh bayaran sekalipun," gumam Ivy.


Tanpa sadar Ivy jatuh tertidur di dalam sana dengan tubuh yang mulai mendingin. Trace yang baru sampai mansion langsung menaiki tangga dan ingin bertemu dengan Ivy. Dilihatnya kamar Ivy yang sepi membuat Trace mengerutkan keningnya.


Bodyguard tampan itu langsung saja membuka pintu kamar mandi dan mendapati Ivy yang tertidur pulas di dalam bathtub. Trace hanya menggerutu dalam hati, ia tidak ingin Ivy jatuh sakit karena hal konyol seperti saat ini.


"Kau baru saja aku tinggal beberapa hari dan sekarang kau justru terlihat lelah." rutuk Trace sambil membaringkan tubuh Ivy di atas ranjang.

__ADS_1


"Apa aku harus menghangatkanmu? Sepertinya tidak, kau akan menendangku keesokan harinya." tanya Trace dan ia jawab sendiri.


Trace mengambil handuk lalu mengelap kering tubuh Ivy, dengan hati-hati Trace melakukannya tanpa ingin membuat Ivy terbangun. Lelaki itu mengambil pakaian tidur dari dalam lemari dan memakaikannya pada Ivy.


"Good night, little sister." bisik Trace sambil mengecup kening Ivy.


Ponsel milik Trace bergetar membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya yang kini tertuju pada layar ponselnya. 'Rosaline' nama itu tertera, Trace langsung saja menjawabnya.


"Yes, Mom?" jawab Trace sambil berjalan keluar kamar.


"Bagaimana kabarmu? Maaf, sangat sulit berbicara denganmu ketika ada Alexander di dekatku." tanya Rosaline terdengar sedikit khawatir.


"Sangat baik, Mommy, tidak perlu mencemaskan aku." jawab Trace sambil tersenyum.


"Aku senang mendengarnya, anakku memang harus seperti itu. Apa kau sudah makan?" tanya Rosaline terdengar lega.


"Belum, aku baru saja sampai setelah meninggalkan Ivy beberapa hari. Maafkan aku yang meninggalkannya karena aku memiliki urusan penting lainnya." jawab Trace sambil menuju kamarnya.


Langkahnya terhenti saat melewati kamar Grim, ia mendengar percakapan antara dua orang yang ia tahu salah satunya adalah suara Grim.


"Trace, jangan tinggalkan Ivy. Kau tahukan Ivy sering sekali melakukan apapun sesukanya, kau harus menjaganya dengan baik, Trace. Dia adikmu," jawab Rosaline tedengar histeris.


"Mommy, tenanglah aku akan tetap menjaganya. Dan lagi pula ... Ivy adalah orang yang paling berharga untukku." jawab Trace sambil kembali mendengaran percakapan Grim dengan orang lain.


"Baguslah, aku senang mendegarnya itu darimu. Kau jaga diri baik-baik karena aku tidak ingin putraku terserang penyakit." jawab wanita paruh baya itu di sebrang sana.


"Mom," panggil Trace sambil kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya.


"Ada apa Trace?"


"Apakah aku boleh membahagiakan Ivy dengan caraku sendiri?" tanya Trace dengan suara sedikit bergetar, Rosaline terdiam cukup lama hingga akhirnya wanita paruh baya itu kembali bersuara.


"Bercerminlah, dan lihatlah matamu, apa yang kau lihat dari sosok Ivy?" tanya Rosaline lirih.


"Wanita yang kucintai," jawab Trace tanpa keraguan.


"Kalau begitu, bahagiakan Ivy setelah semuanya berakhir."


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2