
Liburan mereka sudah tidak terasa menyenangkan. Apalagi saat Al meminta ijin untuk kembali ke Jakarta lebih dulu membuat mereka semua tidak ada lagi alasan untuk tetap berlibur.
Setelah hari dimana Al bertemu dengan Dhirga semuanya berubah. Al kembali menjadi Al yang tidak banyak bicara dan hanya melamun sepanjang hari. Al kembali menjadi layaknya mayat hidup.
Itu membuat amarah Letta pada Dhirga semakin menggunung.
"brengsek!!" Maki Letta sesaat setelah menutup pintu kamar Al.
Disana ada Naufal yang siap sedia menenangkan emosi Letta dengan mengelu-elus punggungnya.
Jadwal kepulangan mereka mundur satu hari karena tidak ada tiket.
"aku benci sama dia babe" bisik Letta menahan geram.
"iya aku tau , tapi jangan begini nanti malah buat Al makin terpuruk" bujuk Naufal pada Letta.
----------
Hari ini mereka kembali ke Jakarta .
Al tak bertemu dengan Dhirga lagi , pertemuan yang sangat singkat itu membuat semua ketenangan yang sudah ia bangun hancur berantakan.
Al yang mulai ceria kini kembali menjadi Al beberapa bulan lalu. Banyak melamun , tak banyak bicara , dan suka menyendiri.
Sikap Al yang seperti ini membuat Rafa kembali harus berjuang keras untuk mengembalikan Al nya.
Seminggu sudah mereka kembali pada aktifitas mereka yang disibukan dengan tugas-tugas kampus.
Al tak berbeda jauh dengan hari itu . Dia kembali menjadi gadis pemurung dan itu membuat semua orang dekatnya sedih.
"Pagi Al.." sapa Rafa saat bertemu Al di koridor kampus.
"hai ka" dengan senyum di paksakan kemudian Al berlalu.
Rafa hanya memandang punggung Al yang mulai berjalan menjauh . Tanpa sadar Letta telah berdiri disampingnya.
"Ka .. " panggilnya lirih , terasa banyak sekali kesedihan yang terdengar dari suaranya.
"Hai Letta" sapa Rafa memaksakan keceriaannya.
Mereka kemudian berjalan menuju coffe shop yang tersedia di kampus mereka.
"Are you oke kak ?" Letta akhirnya menanyakan pertanyaan yang sudah lama di pikirkannya.
__ADS_1
Ia penasaran bagaimana hati Rafa.
Rafa menggeleng sembari memegang cangkir kopinya.
"Engga mungkin gue baik-baik aja Let. Gue udah berjuang keras buat bikin Al ngelihat gue , tapi sekarang..." Rafa sengaja menggantung ucapannya , tapi Letta memahami maksudnya.
"Gue harus gimana kak buat bantuin lo ?" Tanya Letta yang bingung harus bagaimana.
"Lo cukup selalu di samping Al itu udah cukup banget buat gue"
"Tapi lo tau sendiri kak , engga cuma lo yang dia jauhin , gue juga" Letta mulai menitikan air matanya .
Letta paham apa yang dirasakan Al sekarang ini , tapi dia sedih dengan sikap Al.
"Mungkin biar aja dia sendiri dulu, biar tenang dulu" Letta setuju dengan Rafa.
Jika Al tidak menganggap mereka ada maka mereka hanya perlu melakukan hal yang sama pada Al. Itu yang terbaik untuk sekarang , mengingat Al tak ingin di ganggu.
----------
Alka duduk termenung di sofa kamarnya mengingat kembali kenangannya bersama Dhirga.
~> Flashback on
"Baby , kamu janji ya bakal sama aku terus" ucap Dhirga yang berbaring di paha Alka.
Dhirga langsung bangkit karena shock dengan jawaban Alka yang sangat masuk akal.
"Terus aku harus gimana biar kamu berjodoh sama aku?" Wajah Dhirga yang memelas membuat Al tertawa.
~> Flashback off
"Mungkin Tuhan maunya aku dengan yang lain bang , aku terlalu sakit bila bersamamu" ucap Al lirih di akhir kalimatnya.
Tetesan yang jatuh rasanya sebentar lagi bukan air melainkan darah yang mungkin lebih jelas menceritakan jika matanya lelah meneteskan cairannya.
Al meraih ponselnya yang tergeletak di sebelahnya. Membuka aplikasi Whatsapp yang biasa digunakannya untuk chating. Tapi tak ada satupun pesan dari Letta atau Rafa.
Apa mereka marah karena diabaikan ? Batin Al.
Kemudian Al mencoba untuk mengirim sebuah pesan pada mereka tetapi pesan itu hanya menunjukan satu centang berwarna abu , menandakan pesannya tidak terkirim.
Rafa menerima usul dari Letta untuk menjauh hingga Al sendiri yang datang mencarinya. Bahkan Rafa menurut saat Letta memintanya untuk memblokir nomor Al.
__ADS_1
"Esok aku akan minta maaf" ujar Alka kemudian membaringkan tubuhnya bersiap untuk terlelap.
----------
Pagi ini Alka bangun dengan semangat baru untuk bangkit dan melupakan Dhirga . Ia telah lelah , benar-benar lelah. Lelah menunggu dalam ketidak pastian . Sebenarnya sudah pasti , Dhirga sudah menikah dengan Merry bukan kah itu kepastian yang benar-benar pasti?
"Pagi pa ma" sapa Al pada orang tuanya.
"Hai sayang" papa Danish mencium pipi anak kesayangannya.
"waahh , anak mama sudah kembali?" Mama Elvina benar-benar senang melihat Al dengan semangat baru .
Jelas terlihat dari penampilannya yang cantik. Kantung mata dan mata pandanya telah hilang itu bertanda Al istirahat dengan benar semalam. Wajahnya di poles natural , karena setelah kembali dari liburannya jangankan make up mungkin rambut saja tidak disisir olehnya karena tak ada semangat untuk melakukan apapun. Bahkan sempat mengurung diri 3 hari dalam kamar.
Al tersenyum manis. Ia telah bertekad untuk melupakan Dhirga.
Setelah menyelesaika sarapannya akhirnya Al berpamitan pergi ke kampus dengan membawa mobil sendiri.
Al menunggu Letta di parkiran, dan benar saja tak lama kemudian terlihat Letta berjalan santai memasuki pagar kampus setelah berpamitan dengan Naufal.
"Letta" panggil Al dengan senyum hangat.
Letta menoleh , tersenyum dan pergi meninggalkannya. Letta masih kesal dengan Al, tidak seharusnya mengacuhkannya.
Letta sebenarnya tidak tega bersikap kejam seperti itu , ingin sekali rasanya memeluk Al. Letta dapat melihat Al yang berbeda pagi ini , Al terlihat seperti lebih fresh.
Al bersedih karena diabaikan Letta. Mungkin ini juga yang dirasa Letta saat ia mengabaikannya.
Yasudah tak apa , nanti ia akan mencoba bicara pada Letta lagi.
Tapi sampai selesai kulianya Letta sama sekali tidak menghiraukan Al sama sekali.
Akhirnya Al mengerti seperti apa rasanya diacuhkan. Al berjalan menuju parkiran dengan lemas. Dikoridor ia berpapasan dengan Rafa yang sedang duduk asik memaikan ponselnya.
"Kak Rafa.." sapa Al ragu-ragu.
Mendengar suara yang begitu dirindunya Rafa mendongak dan melihat Al yang sedang tersenyum manis padanya.
Ahh senyum yang ku rindu, batin Rafa.
Rafa kemudian berdiri dengan perlahan, mengusap pipi Al denga sayang dan lembut kemudian Rafa pergi dari hadapannya.
"Kak.." panggil Al tercekat , suaranya tertahan, dadanya sesak melihat punggung Rafa menjauh darinya.
__ADS_1
Tanpa sadar bulir bening itu menetes lagi, kali ini bukan karena Dhirga. Tapi entah mengapa melihat Rafa menjauh ia ingin sekali memluknya , menahanya untuk dirinya sendiri. Ingin rasanya meminta egonya untuk menguasai dirinya. Ingin rasanya meminta Rafa jangan pergi.
"Kak Rafaaa...." lirihnya dengan derai air matanya.