
Al memberanikan diri datang ke makam Rafa. Rafa menyesal itu masih ada, tapi mungkin sudah tak seperti dulu.
Rasa tidak menerima kematian Rafa juga masih ada, tapi tidak seperti dulu. Kini sedikit demi sedikit Al menerimanya, karena menurutnya mau ia menerimanya atau tidak Rafa tetap tak dapat kembali.
Al meletakan buket bunga mawar putih pada batu nisan itu. Air matanya menetes tapi tak banyak. Dadanya sesak tapi tak sesesak dulu.
"Assalamualaikum Kak,. Aku datang, maaf aku baru datang, aku begitu terpuruk akan kehilanganmu, tapi percayalah kini aku sudah mengikhlaskanmu.. Aku akan mendoakanmu selalu." suara Al hampir tak terdengar, lirih.
"Kak kalo aku boleh sedikit egois, apa boleh aku meminta pada Tuhan agar mengembalikanmu? Atau aku yang menyusulmu? Kak mungkin aku bodoh, aku minta maaf kak, aku sungguh mencintaimu" Al tak dapat lagi melanjutkan kalimatnya, Al mulai terisak.
Al memanjatkan doa-doa untuk Rafa dan pergi meninggalkan tempat yang menguras air mata itu.
***
Hari ini ada jadwal kontrol Al dengan Dokter Angga, Mama dan Papanya memaksa untuk menemaninya tapi Al merasa ia akan baik-baik saja.
Tok..tok..
"Masuk," terdengar samar dari dalam.
"Siang Dok" sapa Al lembut, sebenarnya Al masih canggung dengan kejadian Dokter Angga yang mengelus kepalanya waktu itu.
"Hai Al, sini duduk" Dokter Angga menunjuk sofa yang terdapat di ruangannya.
Dan Al menurutinya, tatapan Angga membuatnya malu.
Angga langsung mengalihkan pandangannya.
Jangan membuatnya tidak nyaman, batin Angga yang kemudian mengambil sebuah buku , mungkin catatan untuk Al.
"Berbaringlah Al, buat dirimu senyaman mungkin" ujar Angga.
Bagaimana bisa nyaman kalau ia menatapku seperti itu dan lagi aku berbaring membuat lebih takut, kesal Al dalam hati.
Tapi Al tetap membaringkan tubuhnya di sofa dan Angga duduk di sisinya sedikit menjaga jarak takut Al tidak nyaman.
"Pejamkan matamu dan santai ya" walau bingung tapi Al tetap mengikutinya.
"Tarik nafas.. Buang. Itu bisa buat kamu santai" ujar Angga dan diikuti Al. Dan benar beberap kali melakukannya kini Al lebih santai.
__ADS_1
"Oke, gimana kabar kamu?" tanya Angga.
"Baik banget Dok" jawab Al dengan mata yang tetap terpejam.
"Gimana hubungan kamu dengan orang tua kamu?"
"Baik banget, Mama dan Papa selalu ada buat aku, mendukung apa aja yang aku mau lakukan selama itu positif"
"Hubunganmu dengan sahabatmu?"
"Letta? Baik juga , walau aku sedikit iri karena bulan depan dia akan bertunangan dengan Naufal"
"Hmm... kenapa iri?"
"Aku juga ingin merasakan bahagia bersama orang yang aku cinta, tapi apa daya dia udah engga ada" Angga mencatat apa yag dirasakan Al.
"Kamu juga berhak bahagia, kamu harus tetap menjalani hidup kamu, kamu masih muda, buka hati untuk orang lain sepertinya bagus"
"Aku engga tau, aku merasa hati aku engga tertarik lagi sama cinta" jawaban dari Al membuat Angga langsung menoleh padanya.
Wah , perlu perjuangan yang keras ni, batin Angga. Ehh..gimana gimana?
"Perjalanan kamu masih panjang, setelah kamu lulus kuliah kamu akan bekerja saat itu kamu akan bertemu banyak orang dan banyak kemungkinan kamu untuk jatuh cinta lagi, bahkan saat ini misalnya kamu bertemu banyak orang kan kamu tidak tau mungkin saja kamu bertemu jodohmu?"
Al terdiam cukup lama, mencoba untuk mencerna kata-kata Angga.
"Tidak apa jika aku jatuh cinta? Bagaimana dengan Rafa?" lirih Al. Al sudah hampir manangis.
"Al.." ucap Angga menggenggam tangan Al.
"Rafa sudah bahagia di sana, dan dia akan bahagia kalau kamu juga bahagia walaupun bukan dia yang akan menemani hari-harimu, bukan dia yang akan kamu lihat terakhir kali sebelum menutup mata di malam hari dan bukan dia yang kamu lihat pertama kali saat kamu membuka matamu di pagi hari. Tapi percayalah, dia akan bahagia untukmu"
Ucapan Angga membuat hati Al sedikit ringan, membayangkan Rafa bahagia untuknya membuatnya tersenyum kecil.
"Kamu udah merasa lebih baik?" tanya Angga dengan sangat lembut, entah karena dia adalah psikiater atau ada hal lain.
Al mengangguk dan membuka matanya, kemudian ia bergeser dan duduk dengan tegak. Air matanya meleleh dipipi Al mengusapnya dan tersenyum.
"Apa yang kamu rasa sekarang?" tanya Angga yang entah udah kesekian kalinya.
__ADS_1
"Laper" Al memang sepolos itu.
Angga tertawa mendengar jawaban Al, gadis ini sangat polos.
"Ya memang sudah lewat dari jam makan siang, aku juga belum makan, ayo aku traktir. Kamu mau makan apa?" tanya Angga yang kemudian meraih kunci mobil dan ponselnya.
"Ehm, engga usah Dok, aku pergi sendiri aja" Al bingung harus jawab apa, mereka belum begitu dekat, ya dekat karena hubungan Dokter dan pasien saja.
"Kau menolakku?" Angga melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Oke, ayo makan ramen" jawab Al semangat dan langsung menarik tangan Angga, membuat Angga tersenyum kecil.
Dan berakhirlah mereka disini, di restoran ramen yang tidak jauh dari rumah sakit.
Memang Al tampak seperti baik-baik saja, seperti tak terjadi apapun. Tapi bagi mereka yang tau Al sangatlah rapuh mereka pasti akan menjaga mood Al tetap baik.
"Al cuti kuliah ya?" pertanyaan itu ia simpan sejak kemarin dan akhirnya terucap juga.
"Iya Dok, Papa mau aku bener-bener sembuh dulu. Tambah lagi banyak kenangan aku sama Rafa dikampus, mungkin aku mau pindah kampus aja" jawab Al sedih karena merasa harus meninggalkan kampus yang memiliki banyak kenangan bersama Rafa.
"Pertama panggil aku Angga aja jangan pakai embel-embel Dok kalo diluar, engga enak didengar" dan dia tertawa, tawa yang sangat manis.
"kedua, kamu melupakan bukan berarti kamu harus membuang semua kenangan bersamanya, boleh kamu mengingatnya tapi dalam batas wajar agar kamu tidak kembali depresi" Al masih setia mendengarkan Angga.
"Ini Tuan dan Nyonya pesanannya"
"Terima kasih," jawab mereka bersamaan.
"Ya ampun Tuan dan Nyonya serasi sekali, yang satu tampan dan mapan yang satu muda dan cantik, semoga langgeng. Selamat menikmati" ujar pelayan itu tak tau kondisi.
Al dan Angga membeku, apa mereka seperti pasangan ?
Biarlah malah bagus, batin Angga.
Maygat apaan si tu orang, batin Al.
Dan keduanya makan dengan pikirannya masing-masing.
Setelah menghabiskan makanan mereka keluar dari restoran tersebut dan sekali lagi dipuji oleh pelayan yang sama.
__ADS_1
"Duh manisnya, pasangan baru ya masih malu-malu" ujar si pelayan dengan temannya setelah Angga dan Al berjalan melewatinya.
Al mendengarnya dan menahan malu. Bagaimana mungkin ada yang menganggap mereka ini pasangan. Ya walau memang betul pasangan sih, pasangam Dokter dan Pasiennya.