
"Mau apa kamu kesini?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Al, dan terlihat sangat jelas Al menyimpan banyak amarah untuk Dhirga.
Tiba-tiba Al berteriak histeris menyebut Dhirga adalah penyebab dari semua ini , penyebab penyesalan besar dalam hatinya.
Ya memang , mungkin jika Dhirga tidak muncul lagi saat mereka sedang liburan di Bali Al tidak akan ragu untuk menerima Rafa sebagai kekasihnya.
Mungkin jika Dhirga tidak muncul lagi , Al sudah bahagia bisa move on darinya.
Mungkin jika Dhirga tidak mumcul lagi , Al sudah menyadari perasaannya pada Rafa dan tidak membuat hubungannya dengan Rafa merenggang.
Al terus berteriak-teriak dan hendak memukul Dhirga, untung saja ditahan oleh Papa Danish.
Karena kehebohan itu Dokter yang tadi memeriksa Al keluar dari ruangan untuk melihat apa yang terjadi.
Dokter tersebut langsung memanggil beberapa suster dan meminta mereka membawa Al keruang rawat.
Al kemudian diberi obat agar tenang dan sekarang Al tengah tertidur pulas.
"Pak Bu, saya mohon untuk tidak membuat pasien mengalami emosi yang kuat seperti tadi, itu bisa mempengaruhi kejiwaannya karena saat ini pasien sedang depresi, buat pasien tenang ya Pak Bu" jelas Dokter panjang lebar.
"Baik Dok, kami minta maaf" jawab Papa Danish.
"Tidak perlu minta maaf Pak , kita kerja sama ya semuanya agar pasien cepat pulih. Saya permisi dulu" kemudian Dokter pergi.
Al harus menjalani rawat inap di rumah sakit khusus mereka yang mengalami masalah dengan psikisnya.
"Dhirga minta maaf Om Tante , seharusnya Dhirga tidak datang hari ini" ujar Dhirga.
"Ya . memang seharusnya kamu tidak muncul lagi dalam hidup Al" emosi itu masih terasa pada Mama Elvina karena anak gadisnya semata wayang sudah hampir gila seperti ini karena lelaki yang datang dan pergi sesuka hatinya.
"Tante , Dhirga benar-benar minta maaf , niat Dhirga datang hari ini ingin minta pengampunan dari Al , Dhirga tidak menyangka Al akan seperti ini. Dhirga juga mau pamit sama Om dan Tante , Dhirga akan benar-benar pergi dari hidup Al. Ini ada surat untuk Al, Dhirga titip. Mungkin lebih baik saat kondisi Al sudah pulih baru memberikannya Tan,"
Dhirga memberikan sebuah amplop berwarna putih pada Mama Elvina. Dan kemudian Dhirga pamit pergi.
***
Dua bulan telah berlalu dan perkembangan kesehatan Al sudah sangat baik.
Al menjalani hipnotis setiap hari selama dua bulan ia dirawat inap. Kini Al telah banyak bicara walaupun terkadang masih suka melamun , tapi itu tidak berpengaruh buruk untuknya.
"Sepertinya pasien sudah sangat membaik, kini ia hanya merasa sedikit kesedihan saat mengingat kekasihnya yang meninggal. Itu wajar karena saya tidak bisa dan tidak mau menghilangkan ingatan itu biarlah ia mengenangnya , tetapi jangan sampai berlarut" jelas Dokter muda tersebut sedangkan matanya tidak lepas dari Al yang sedang tertawa dengan Letta.
"Saya sangat berterima kasih karena Dokter dengan telaten mengurus anak kami" ujar Papa Danish.
Dokter muda yang ternyata bernama Angga itu tersenyum manis.
Dia menjadi sangat cantik saat sudah kembali menjadi dirinya, batin Angga.
Lesung pipi disebelah kanan itu terus muncul dan hilang saat Al tertawa dan berhenti tertawa.
__ADS_1
Angga jadi ingat saat pertama kali Danish dan Elvina membawa anak mereka yang depresi berat dangan tatapan mata yang kosong. Sangat berbeda dengan yang saat ini tengah bercanda dengan sababatnya itu.
"Kapan Al boleh pulang Dok?" pertanyaan dari Mama Elvina menginterupsi Angga untuk kembali tersadar dari kekagumannya pada Al.
"hmm.. mungkin minggu depan" jawab Angga yang diangguki oleh orang tua Al.
Angga berjalan menghampiri Al.
"Hai Al. Apa yang kamu rasa saat ini?" tanya Angga basa basi.
"Mungkin bosan Dok" jawab Al asal dan kemudian tersenyum jahil. Ya Tuhan senyumnya.
"Sabar ya , kalau kamu terus membaik minggu depan sudah boleh pulang , paling cepat minggu ini. Asal kamu janji tidak akan merasa sedih lagi" reflek tangan Angga mengelus rambut panjang Al.
Angga tersadar akan tingkahnya dan akhirnya pamit pergi agar tidak melakukannya lagi. Angga menyentuh dada bagian kiri merasakan detak jantungnya menggedor dinding dadanya.
-Seminggu kemudian-
"Haaahhh... akhirnya aku kembaliiiii" teriak Al saat dirinya menginjakkan kakinya kembali dirumah setelah dua bulan menjadi pasien.
"Non Al... Ya Allah.. Alhamdulillah Non sehat?" salah datu assisten rumah tangga yang sudah ikut dengan keluarga Tunggadewa berpuluh-puluh tahun itu menghampiri Al dengan raut bahagia.
"Al sehat banget mbok...." Al kemudian memeluk assisten itu dengan bahagia.
Papa Danish dan Mama Elvina yang baru saja masuk dan melihatnya langsung tersenyum hangat.
"Eh Tuan sini mbok bawa tasnya Non Al ke atas" ujar Mbok dan merebut halus tas besar itu.
"iya Tuan" jawabnya dan kemudian berjalan menuju kamar Al.
Papa Danish merangkul pundak Al dan menuntunnya menuju ruang tv.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin Papa kasih sama kamu" Papa Danish mulai bicara saat mereka telah duduk di sofa besar tersebut.
Mama Elvina mengeluarkan sepucuk surat dari Dhirga pada Al.
"Ini dari Dhirga, kamu baca aja tapi ingat kontrol emosi kamu" Mama Elvina terlihat sedikit ragu saat memberikan surat tersebut.
Al menerimanya dengan tangan bergetar.
"Boleh Al baca dikamar?" tanya Al dengan suara yang sedikit bergetar.
"Tentu sayang, tapi kontrol emosi kamu ya," Papa Danish kembali mengingatkan. Mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada anak semata wayangnya.
Al kemudian berjalan menuju kamarnya dilantai dua. Dan segera menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Dengan perlahan Al mendaratkan bokongnya pada pinggiran kasurnya. Melihat amplop yang bertulis "Ini yang terakhir, dari Dhirga untuk kamu"
Al menghembuskan nafasnya perlahan berusaha mengatur nafas dan menyiapkan mentalnya.
Perlahan Al membuka amplop putih itu dan melihat selembar kertas yang dilipat, mengeluarkannya dengan perlahan dan membukannya dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
Dear, My Baby Abriana Alka Tunggadewa.
Aku tau aku sangat brengsek, tapi aku sungguh tidak ingin meninggalkanmu.
Aku selalu berharap kita akan bersama selamanya setelah badai ini berakhir.
Tapi tanpa aku sadari aku malah membuatmu begitu terluka.
Sungguh, masih bisakah aku dengan tidak tau dirinya meminta kau kembali ?
Tapi aku tau kau akan menjawab apa.
Tidak!!
Bahkan aku bisa mendengar suaramu saat mengucapkannya dengan tegas.
Masih bisakah aku yang telah menyakitimu begitu dalam ini untuk meminta sedikit maafmu ?
Al, aku memang bodoh melepasmu yang begitu sempurna demi rasa takutku.
Aku takut saat itu, mungkin bila aku tidak memenuhi permintaan Merry dia akan berbuat yang tidak baik padamu.
Itulah alasan mengapa aku pergi untuk tinggal di Bali bersamanya.
Hingga bayinya terlahir, dan aku diam-diam menjalani test DNA,. dan apa kau tau hasilnya ?
Bayi itu bukanlah anakku, dan aku memaksa Merry untuk berkata jujur.
Setelahnya aku menyiapkan hati dan merasa sanggup untuk menemuimu.
Tapi saat aku menemuimu semua telah berubah.
Aku terlambat datang, hatimu telah terisi.
Hari-hatimu telah berwarna bersama Rafa.
Alka, apa kamu percaya bahwa aku begitu cemburu pada Rafa yang bahkan saat dia tak dapat lagi merebutmu dariku?
Aku cemburu saat kamu lebih hancur saat Rafa meninggalkanmu.
Alka kini aku tersadar, hati dapat berubah, hari berputar mengubah segalanya bahkan yang tak dapat diubah sekalipun.
Aku ingin kau bahagia, walau bukan aku alasanmu tersenyum.
Karena bersama perlu dua hati yang saling mencintai bukan hati yang memaksa untuk bersama.
Selamat tinggal Al, biarkan aku menjagamu dari jauh dengan doa-doa yang kupanjatkan.
I will always love you until the last breath.
Dhirgham Haidar Irhab
__ADS_1