
Kini Al tengah berada di dalam mobil bersama dengan Dhirga. Dan keduanya masih betah berdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Al membuang pandangnnya ke luar tak ingin bersitatap dengan Dhirga. Dan Dhirga yang masih mem-fokuskan diri pada jalan di depannya padahal pikirannya melayang entah kemana.
Kenapa Al mencium kening Rafa dan mau repot-repot untuk menangsinya?, batin Dhirga.
Kenapa dia kembai?, batin Al.
"Baby.." panggil Dhirga. sedangkan Al merasa muak dengan panggilan itu. Bagaimana bisa suami orang memanggilnya 'Baby'.
Al tak ingin menjawab panggilan Dhirga. Al tetap saja membisu menatap luar.
"Ada yang ingin aku jelaskan ke kamu" Dhirga menepikan mobilnya di salah satu kafe.
Al mentap Dhirga dengan bingung. Masih bisa mengajaknya nongkrong tanpa dosa sedangkan pikiran Al dipenuhi dengan Rafa yang terbaring tak sadarkan diri.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Al sinis.
"Kita bicara di dalam, sambil kamu makan. kamu belum makan kan ?"
"Apa penting aku makan atau ga? Apa dulu saat bang Dhirga tinggalin aku sempat mikirin aku udah makan apa belum?" sarkas Al.
Dhirga merasa bersalah karena saat itu meninggalakan Al tanpa penjelasan. Dan tiba-tiba muncul seperti kemarin saat mereka berlibur tanpa menjelaskan apapun juga. Dan kini dia benar-benar muncul untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dhirga melepas sabuk pengamannya dan duduk menyamping menghadap Al mencoba menarik tangan Al. Tapi Al langsung menepisnya kasar.
"Merry dengan tidak tau dirinya mengaku bahwa anak yang dikandungnya itu adalah anakku, orangtuaku marah bahkan aku habis di hajar papa Al. Dan papa mengajak kita semua pindah ke Bali setelah aku menikahi Merry saat itu..."
"Kenapa bang Dhirga ga pernah bilang sama aku? apa maumu bang? hilang kemudian datang dan hilang lagi dan saat aku benar-benar sudah bisa menerima kamu sama Merry bang Dhirga datang lagi" Al memotong penjelasan Dhira, rasanya Al sudah sangat tidak sabar.
"Karena abang berharap suatu saat nanti ketika kebohongan Merry terbongkar kita masih bisa kembali seperti dulu."
"kembali seperti dulu? Kita? Jangan mimpi bang. Aku ga mau jadi pelakor" ucapan Al barusan membuat Dhirga kaget, apa Alka-nya yang menggemaskan telah berubah menjadi Alka yang kejam.
"Siapa yang bilang kamu pelakor? Ga Al, kamu bukan pelakor karena kita dari dulu memang couple kan? bahkan sampai saat ini"
Al menatap Dhirga tidak percaya.
__ADS_1
"Sampai sekarang? bang hubungan kita sudah berakhir di saat kamu ninggaliln aku tanpa penjelasan" nada suara Al sedikit meninggi.
Dhirga benar-benar tidak percaya dengan Al yang sekarang. Al marah , kecewa dan sedih di saat yang bersamaan.
"Aku ga tau harus gimana lagi sama kamu bang..hiks..aku bingung..hiks" air mata itu menetes lagi , entah sudah tetesan keberapa.
"Al.. jangan nangis, aku ga bisa liat kamu begini" Dhirga menangkup tangan Al yang di gunakan untuk menutup wajahnya.
"Aku emang pernah jatuh cinta, jatuh cinta sangat dalam sama kamu, tapi kamu menyakitiku sedalam aku mencintai kamu...hiks...aku ga bisa lanjutin ini lagi bang..."
"No, Al.. Jangan bilang gitu aku ga mau kita pisah.." Dhirga memotong ucapan Al.
Kini mata Dhirga mulai berkaca-kaca. Hampir meneteskan butir bening itu.
"Apa kamu tau aku sangat tersiksa Al..ak...."
"KAMU EGOIS BANG! KITA UDA GA BISA SAMA-SAMA LAGI...kasian Merry, walu itu bukan anak kamu tapi kamu sekarang suaminya.." lirih Al di akhir kalimatnya.
"Dan aku mencintai kak Rafa." tegas Al.
Dhirga tak begitu kaget karena sudah menduga hal ini akan terjadi tapi tetap saja rasanya menyakitkan. Dhirga melepaskan tangan Al lemas. Dan butir benih yang ditahannya tak dapat lagi ditahan. Menetes begitu saja menghinati tuannya.
"Aku tau kamu akan bilang begitu, dan aku tau ini akan datang. Ini semua memang salahku" ucap Dhirga lirih. Kepalanya ditundukkan tak berani menampakan wajah kesakitannya pada Alka.
"Maafkan aku" ucap Al kemudian keluar dari mobil Dhirga dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat di saat yang tepat.
Taksi itu membawa Al kembali kerumahnya. Sepanjang jalan Al hanya menangis. Ingin marah pada keadaan yang tak membiarkannya bahagia. Ingin berteriak pada waktu yang tak dapat di putang ulang.
***
Hari sudah menunjukan pukul 14.20 WIB, saat Al tiba di rumah sakit.
Al berjalan tanpa semangat menuju kamar Rafa. Ia melihat lelaki dan wanita paruh baya tengah menangis didepan kamar Rafa. Dan Letta dan Naufal yang duduk di kursi tunggu.
"Let..Fal.." sapa Al begitu kakinya sampai disana.
__ADS_1
Mereka semua menoleh pada Al.
"Om..tante.." sapa Al sopan dan mencium tangan mereka bergantian.
"Sayang kamu pasti Alka" ucap wanita itu yang ternyata Mamanya Rafa, Mama Dewi.
"I-iya tante" jawab Al bingung mengapa mereka tau Al.
"Rafa sering cerita tentang kamu"
Al tersenyum mendengar Rafa suka menceritakannya pada orangtuanya.
"Tadi dokter habis periksa keadaan Rafa, dokter bilang...hiks...Rafa..hiks..Rafa.." Mama Dewi tak dapat melanjutkan kalimatnya membuat Al semakin penasaran tapi merasa ada hal buruk yang akan terjadi.
Air bening itu menetes tanpa bisa dilarang.
"Sudah ma, jangan buat Alka sedih." ucap Papa Rudi menenangkan istrinya.
Alka memberikan senyum terpaksanya, dan menggenggam tangan Mama Dewi.
"Tante tenang ya , kak Rafa kuat kok." entah siapa yang dihiburnya, mungkin dirinya sendiri.
Mama Dewi mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang dari dalam tasnya. Memberikannya pada Al.
"Rafa telah menyiapkan ini, kemarin tante menemukannya di dalam laci mejanya, ini untuk kamu, meskipun Rafa tak akan sadar lagi tapi ini tetap menjadi milikmu" Al melihat kotak persegi panjang berwarna maroon itu dan menerimanya dengan tangan yang bergetar hebat.
Al membuka kotak tersebut, penasaran apa isinya. Ternyata sebuah kalung berwarna perak, kalung yang begitu cantik dengan design yang simple, Rafa benar-benar tau selera Al.
Tangis itu tak dapat lagi dibendungnya begitu melihat kalung cantik pemberian Rafa. Ia sangat berharap Rafa lah yang memberikan kalung itu padanya dan memakaikan padanya.
Mama Dewi memakaikan kalung itu pada Al dan dua wanita berbeda generasi itu berpelukan saling menguatkan satu sama lain. Tangis Letta juga pecah dalam pelukan Naufal.
Dari kejauhan Dhirga memperhatikan mereka semua. Dhirga terluka melihat mereka , ingin rasanya marah tapi entah dengan siapa karena ini semua meang salahnya.
"Al.." lirihnya kemudian pergi.
__ADS_1
Dokter bilang bahwa tak ada kesempatan Rafa untuk bangun lagi, dengan kata lain sebenarnya Rafa sudah tidak ada hanya karena bantuan alat membuatnya seperti masih ada. Dan kedua orangtuanya telah menandatangani surat persetujuan untuk melepas alat-alat yang ada ditubuh Rafa. Bukan karena ia tega tapi justru karena ia tak tega melihat anaknya menderita karena alat-alat yang menahannya untuk pergi.
Mendengar penjelasan itu Al kemudian menangis histeis. Bagaimana bisa ini semua terjadi. Bahkan Al belum mengucapkan kata cinta itu pada Rafa. Bahkan ia belum meminta maaf pada Rafa. Al menyesali semua yang sudah ia sia-siakan. Al menyesali kebodohannya.