
"Ok.. one..two..thre...good.. ganti posenya,, Al rangkul leher Dhirga dong " photografer mengintrupsi.
Aduh dia ngga tau apa aku lagi kesel sama bang Dhirga
Batin Al kesal karena yang bersangkutan senang-senang aja sedangkan dirinya terus saja terbayang saat Dhirga mencacinya hingga spechless.
"profesional lah Al" bisik Dhirga di telingan Al membuatnya merinding karena suaranya begitu berat dan sexy seolah menahan hasrat untuk menerkamnya.
Oke kita buktikan apa itu profesional.
Batin Al kesal. Mulai lah Al berpose mesra pada Dhirga , Al merangkulkan lengannya pada Dhirga dan menarik kepala Dhirga untuk bersandar pada dadanya yang sontak membuat Dhirga membelalakan matanya . Al tersenyum licik. Dhirga tidak mau kalah dia pun mulai membenamkan sebagian wajahnya pada dada Al , karena Al duduk d kursi yang tinggi membuat kepala Dhirga sejajar dengan dada Al.
"oke..good .. ganti pose.. oke selesai . Wah keren nii hasilnya" ujar sang photografer puas.
Al langsung turun dari bangku dan berjalan setengah berlari menuju fitting room menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Dan Dhirga tersenyum puas saat melihat Alka kabur karena malu padanya. Dhirga melihat hasil foto mereka dan memang beberapa foto terakhir ekspresi mereka benar-benar natural.
"keren ni om, kirim ke aku ya" pinta Dhirga pada om nya yg berperan sebagai sang pothografer.
"gw tau Dhir lu naksir am Al , ye kan ?" Todong om Cris.
Setdeh to the point amat.
Batin Dhirga , dan langsung pergi meninggalkan om nya yang tersenyum karena tingkah dua remaja ini.
Dhirga memegangi dada sebelah kirinya tepat dimana jamtungnya berada , merasakan debar yang begitu terasa saat dia mengingat posenya denga Al tadi.
"Ehh kebanyakan minum kopi apa ya gue ?" Gerutu Dhirga kebingungan.
Tepat di depan fitting room Alka membuka pintunya hendak pulang , tapi langkahnya terhenti saat melihat Dhirga berdiri membatu d depan fitting room sambil memegangin dadanya. Mata mereka bersitatap . Menatap dalam diam .
Kenapa ? Apa dia sakit ? Batin Al.
Saoloh dek cantik bener abang kagak kuat. Batin Dhirga tanpa sadar memegang dadanya lebih kuat.
"Kenapa bang ? Sakit ?" Tanya Al polos.
Dhirga yang sadar langsung melepaskan cengkraman tangannya.
"eh-ah ? Engga juga sih" Terbata bukan lah cara bicara Dhirga yang biasa .
"terus kenapa dadanya dipegangin kayak tadi?" Entah polos atau pura-pura polos Al bertanya soalah tak tahu.
Ni gegara lu neng.
Batin Dhirga gemas karena gadis ini tak jua peka pada sikap yang Dhirga coba perlihatkan dengan nyata.
"Ya engga apa-apa juga sih . Kenapa kamu kepo" jawab Dhirga dengan datar.
"oh . Oke" singkat , padat , dan jelas , jelas kalau Al kesal dengan jawaban Dhirga yang tak jelas.
Karena kesal Al langsung meninggalkan Dhirga yang masih terpaku ditempatnya.
"eh..eh.. mau kemana ?" Seakan tersadar Dhirga langsug menghalau Al yang sudah siap untuk kabur.
"Cabut!" ketus adalah jurus andalan cewek kalau lagi kesal.
"kan mau nemenin abang ke toko buku!" Heii sejak kapan Dhirga menyebut dirinya sendiri dengan abang.
Seolah jijik Al tiba-tiba bergidik ngeri mendengar Dhirga menyebut dirinya sendiri dengan sebutan abang.
"kan Al bilangnya engga janji , sekarang Al engga bisa karena Al ada janji ketumuan sama temen. Bye!" Al langsung kabur karena takut dipaksa untuk ikut dengannya.
Tapi Dhirga malah mengekor dibelakang Al.
"ngapain sih abang ngikutin ih ?!" Kesal . Al ingin sekali berteriak pada Dhirga mengingatkan kembali ucapan yang pernah diucapnya hingga menusuk hati.
"karena kamu engga mau nemenin yaudah abang yang nemenin kamu" bertanya atau perintah.
__ADS_1
"whatever" mau bilang gimanapun tetap saja Al yang kalah .
Biarkan saja dia ikut , padahal hari ini ada Kak Rafa.
Batin Al . Tujuannya hanya satu agar Dhirgasadar bahwa Al sudah move on.
• Starbucks-Plaza indonesia•
Pertemuan apa ini kok lebih terlihat seperti Al yang sedang dicomblangin sama cowok itu , siapa juga itu cowok banci yang ngeliatin Al dengan pandangan yang penuh nafsu.
Batin Dhirga yang langsung jutek saat Rafa yang hanya memandang Alka sejak gadis itu datang.
Alka yang tahu sedang dipandang intens oleh Rafa mendadak kalem didepan gebetan. Membuat Dhirga memerah karena kesal.
Mungkin dia tidak sadar dia kesal karena cemburu.
"Al lu dateng sama siapa ? Ganteng banget , kenalin ke gue kek" Kekira Athaleta Almeera Rahman best friend Al yang mulutnya seperti keran bocor.
"Lu engga tau aja sih dia itu pyikopat" jawabnya asal membuat mata Leta membelalak bulat.
Ganteng sih tapi sayang..
Batin Leta sangat menyayangkannya.
"abang denger Al. " jleb , mau ngomongin orang tapi orangnya denger.
Abang , panggilan itu membuat Al , Leta , dan Rafa menoleh bersamaan pada Dhirga.
"Dia pacar kamu Al?" Memberanikan diri untuk bertanya daripada mati penasaran , kalau memang dia bukan pacarnya jadi masih ada kesempatan , kalau dia pacarnya dia akan mundur teratur.
"BUKAN !"
"IYA!"
Bersamaan tapi tidak kompak membuat mereka kaget dan saling menatap.
Biang kerok . Batin Al begitu kesal pada Dhirga.
"sejak abang nyium kamu di tempat pemotretan kemarin .!"
WHAT!
Membelalaklah semua mata memandang mereka . Termasuk Al yang tidak percaya Dhirga akan membongkar aib itu.
"oke.maaf ya Al kayak nya pacar kamu engga suka sama aku , aku pergi dulu ya . Inget Al lain kali jangan bawa anjing peliharaan saat pergi ketemuan sama gebetan" jleb. Dengan tatapan mata Rafa yang seolah mengisyaratkan pada Dhirga yang notabene berumur 18tahun tapi sikap seolah anak 12tahun.
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
Kacau .
Dua remaja yang sudah dianggap dewasa oleh negara itu baku hantam di cafe orang.
Al dan Leta berteriak histeris saat darah amis mengalir dari sudut bibir dan hidung pria-pria tamvan ini.
Seketika mereka sudah dikerumuni oleh orang-orang yang berniat melerai dan sebagian hanya berniat menonton.
"abang. Udah bang , kita pergi ya" entah dapat kekuatan dari mana Alka memeluk erat Dhirga dari punggungnya membuat Dhirga menghentikan aksinya membabibuta memukul Rafa.
"Awas lu ya!" Ancam Dhirga .
"Leta , tolong ka Rafa ya" pinta Al pada Leta yang sudah mengelap darah segar yang terus saja mengalir dari hidung Rafa.
"oke Al" jawab Leta singkat
Dhirga menarik kasar tangan Al , membawanya keparkiran mobil dan langasung menancapkan gasnya dalam-dalam setelah memastikan Al telah menggunakan seat belt nya.
Mereka tetap diam . Diam dengan pikiran mereka masing-masing . Dari sudut matanya Al dapat melihat Dhirga begitu marah terlihat dari mulutnya yang terkatup rapat.
"Kenapa harus marah ? Kan abang juga bukan siapa-siapa Al , bukannya abang risih sama Al kenapa sekarang marah saat Al punya gebetan? Abang kira abang itu siapa . Harusnya abang dewasa dong , kalau abang engga suka sama Al ya biarkan Al punya gebetan dan move on dari abang . Engga begini caranya" Teriak Al meluapkan emosi yang terpandam sejak lama , dengan pikirannya yang terus saja berputar-putar hingga membuatnya pusing.
__ADS_1
Al meluk gue karena mau gue tenang atau engga tega liat gebetannya babak belur ?. Batin Dhirga yang diikuti pukulannya pada setir mobil dengan keras membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Al kaget melihat Dhirga yang tiba-tiba memukul setir mobil. Ingin memanggil jadi takut.
Mobil terus saja melaju denga cepat kearah perumahan elit daerah Bintaro.
Al dan Dhirga memang tinggal berdekatan hanya beda blok saja , tapi saat mobil Dhirga berbelok kearah blok rumahnya Al panik.
"bang." Panggil Al yang pasti Dhirga tau maksudnya , Al tidak mau dibawa kerumah Dhirga.
"Diam!" Bentak Dhirga dia kesal dengan ucapan Al yang semuanya benar.
Mobil yang mereka tumpangi sampai pada salah satu rumah mewah Emerald dikawasan Bintaro sektor9. Dhirga langsung memarkir mobilnya dengan asal dan langsung turun dan membanting pintu mobilnya.
Memang menyeramkan saat Dhirga marah , jadi kebayangkan saat Dhirga mencaci Al bahkan sampai Al menangis tanpa bisa mengucapkan apa-apa.
Merasa ditinggalkan Al langsung turun dan mengikuti langkah Dhirga.
Saat memasuki rumah Al disambut oleh Bi Inah pembantu rumah Dhirga yang sudah sangat mengenal Al karena dulu dia sering sekali datang berkunjung.
"non Al , duh tambah cantik lama engga ketemu , non teh sehat nyak ?"
"Bii..Al sehat bi , Al kangen deh dimasakin" Al manja karena maskan Bi Inah ini enak luarbiasa.
"Bibi kepasar dulu ya nanti bibi masakin non , mau ?"
"Mau banget" Al mengangguk semangat mengingat perutnya sudah konser.
"sok atuh temenin si aden itu diayunan belakang kalihatan lagi kesal" peka mungkin karena dia sudah tua jadi sangat paham pada majikannya yang diurus sejak bayi olehnya.
"bi hati-hati ya"
Al berjalan perlahan membawa kotak P3K
menuju tempat yang tadi dibilang Bi Inah , menghampiri Dhirga yang sedang terduduk diayunan sambil mengayun pelan.
Al berdiri didepan ayunan yang dinaiki Dhirga supaya Dhirga berhenti dan membiarkannya membersihkan luka pada wajahnya.
Ayunan berhenti . Dhirga menatap Al dengan amarah yang terlihat jelas. Tanpa butuh persetujuan dari Dhirga, Al langsung mendaratkan pantatnya disamping Dhirga .
Al mulai menuang alkohol pada kapas dan mulai membersihkan luka nya , tanpa bicara sepatahkatapun . Dhirga terus saja menatap Al dengan tatapan tajamnya karena ingin melahap Al.
"Apa kamu segitu bencinya sama abang?" Tanya Dhirga pada Al membuat Al menghentikan aktifitasnya dan menatap tepat dimanik matanya Dhirga.
kini mereka saling nematap seolah mencari kebenaran pada mata mereka .
"Bukannya abang yang sangat benci sama Al?" Sakit saat kejadian itu teringat lagi olehnya.
"Al itu uda 3 tahun yang lalu , dan sebenarnya abang engga pernah benci kamu , saat itu abang sedang capek . Maaf ya. Maaf kalau abang baru berani mnta maaf sekarang, kamu boleh kok mukul abang" kata maaf yang tertunda sekian lama akhirnya terucap.
"gimana bisa Al mukul abang, Al begitu sayang sama abang," soelah berdesis Al tidak berani bicara terlalu keras karena malu . Tapi karena mereka duduk sangat dekat jadi Dhirga sempat dengar apa yang Al ucapkan.
"kamu ngomonga apa ? Coba ucap lagi" goda Dhirga
"Al suka sama abang" masih menunduk malu Al tak berani menatap Dhirga.
"apaan sih ngomongnya kayak tikus gitu suaranya" bukan tidak dengar tapi Dhirga ingin Al bica lebih tegas saja .
Karena kesal Dhirga terus saja tidak dengar akhirnya Al bicara keras-keras.
"Al itu suka sama abang dari dulu tapi apa ? Abang seolah cuek . Giliran sekarang Al mau move on abang malah sok baik bikin Al goyah . Udah deh kalau cuma mau mempermainkan Al . Al pulang" hampir menangis dibuatnya , Dhirga merasakan sesak saat melihat Al begitu pedih mengucapkan kata demi kata itu dengan amarah.
Dhirga tersenyum saat mendengar pengakuan Al yang sebenarnya sudah tau tapi rasanya sangat bahagia saat mendengarnya.
Ditariklah Al kedalam pelukan Dhirga. Dipeluknya dengan sayang seolah Al adalah guci dari zaman dinasti ming yang sangat berharga yang apabila dipeluk terlalu kuat dia akan pecah.
"i love you Alka" hanya itu yang bisa mewakilkan perasaannya pada Al.
Al yang tadi meronta-ronta minta dilepaskan langsung membeku saat tau bahwa Dhirga juga memiliki perasaan yang sama . Perasaannya terbalaskan. Al pun membalas pelukan Dhirga dengan rasa yang sama .
__ADS_1