Bukan Begini Seharusnya

Bukan Begini Seharusnya
Sehancur Ini


__ADS_3

Perpisahan yang paling menyedihkan adalah ketika kita terpisah untuk selamanya. Tak bisa bertemu, tak bisa saling memeluk untuk melepas rindu.


Kini Al dan Rafa berbeda dunia, hanya doa yang dapat dipanjatkan sebagai tanda rindu pada sang raga yang tak bisa lagi bertemu.


Al sedikit kecewa atas keputusan orang tua Rafa, mengapa harus di hentikan pengobatan yang menyebabkan meninggalnya Rafa. Mungkin saja jika sedikit lagi bersabar Rafa akan terbangun.


Tapi saat melihat Mama Dewi begitu hancur akhirnya Al tau bukan hanya dirinya yang kehilangan, mereka juga merasakannya.


Rasanya begitu sakit dan begitu menyesakkan. Ini semua harus berakhir dan bagaimana ia bisa mengakhiri yang belum dimulai?


Air mata tak bisa berhenti terus membasahi tanah tandus yang ada dihati tapi tak membawa kesejukan melainkan perih yang tak kunjung membaik.


Raga yang kini tertutup kain putih tak bisa lagi di sentuhnya, tak bisa lagi dipeluknya, dan diantara semua yang terjadi yang paling menyakitkan adalah Rafa meninggalkan Alka dengan perasaan yang belum sempat diakuinya.


Alka seperti raga tak bernyawa, hilang jiwa, bahkan lupa bagaimana menggunakan tubuhnya. Lemas tak bertenaga.


Di pojok ruang tamu yang menjadi tempat paling memilukan itu Alka terus termenung menyesali nasib cintanya dengan Rafa, ingin rasanya mencaci keadaan yang tak pernah berpihak padanya.


"Al.." suara serak Letta membuatnya tersadar bahwa ia masih ada didunia ini, dunia yang tak lagi ada Rafa di dalamnya.


Dengan lemah Al menoleh pada Letta, menatap Letta yang sama hancurnya dengan Al.


"Lo mau makan? Gue ambilin kalo mau" pertanyaan yang tak ada dalam pikiran Al, bahkan ia lupa kapan terakhir kali makan.


Masih dengan sama lemahnya ia pun menggelengkan kepalanya dan menatap kembali raga tak bernyawa didepannya.


"Let, gue harus gimana?" itu adalah pertama kalinya Al mengeluarkan suaranya setelah sekian jam ia hanya menangis tanpa bersuara.


Terkadang meraung terdengar lebih baik daripada menangis tanpa suara, karena rasanya lebih menyesakkan dan melelahkan.


"Ikhlaskan sayang" Letta kemudian menarik Al untuk masuk dalam pelukannya.


"How to do it?" pertanyaan yang Letta pun tak dapat menjawabnya.


Letta juga tidak tau bagaimana caranya mengikhlaskan. Tangis itu terdengar lagi dan bahkan lebih memilukan dari sebelumnya.

__ADS_1


***


Hari sudah semakin siang, raga yang sudah tak bernyawa itu pun dikebumikan dengan di antar oleh semua orang yang begitu mencintainya, diiringi oleh Tahlil yang terus menggema hingga ke relung sukma.


Tubuh yang dulu selalu merengkuh tubuh ringkih Al kini telah sampai di peristirahatan terakhirnya, di banjiri dengan air mata yang entah mengapa tak dapat berhenti mengalir.


Tubuh yang dulu selalu menjadi tempat ternyaman untuk Al kembali itu kini tak dapat lagi menjadi sandaran.


Tubuh yang dulu selalu kuat memikul rasa sakit karena cinta sepihak itu kini telah pergi tanpa ada yang sanggup menolak.


Tinggal Al seorang yang masih setia terduduk disamping peraduan sang pujaan, menatap gundukan tanah yang tertutup ribuan kelopak bunga.


Matanya terus menatap nisan yang bertuliskan "Rafardhan Athalla", seperti mimpi ketika membaca nama itu disebuah batu nisan. Membuktikan bahwa Rafa benar-benar telah pergi.


Kenyataan yang terus menghantamnya itu menimbulkan rasa sesak disetiap pukulan.


Tangis Al tak dapat dibendung lagi, Al akhirnya histeris memanggil-manggil Rafa.


"Raafaaa...!! Rafaa...!! kamu jahat Rafaa..." jeritnya ditengah tangis yang terdengar menyiksa itu.


Bahkan dedaunan disekitarnya mungkin dapat merasakan sakit yang Al rasa.


Langit menunjukan kesedihannya dengan menitikan titik-titik air hujan, Al masih setia memandangi batu nisan Rafa. Hanya sebuah batu, tapi itu adalah penghubung antara Al dan Rafa sang kekasih yang meninggalkan sejuta penyesalan di hati Al.


Air yang turun dari langit itu semakin deras seperti air matanya yang semakin deras. Letta yang sejak tadi menunggunya di tempat lain sudah tak sabar lagi dengan sahabat bodohnya itu. Dengan langkah tegas Letta menghampiri Al yang terduduk ditanah becek itu. Pakaiannya tak nampak lagi seperti pakaian karena penuh dengan tanah.


Letta memayungi Al yang masih terdiam seolah tak merasakan hujan dan dinginnya udara disektarnya.


"Al, ayo kita pulang"


Tak ada jawaban dari manusia yang seperti mati itu, mungkin jika ditinggal sendirian bisa-bisa Al menggali kuburannya sendiri disamping kuburan Rafa.


Letta menarik paksa lengan Al tapi dihempas dengan kasar oleh Al.


"Apa lo pikir kak Rafa bakal seneng liat lo begini?" ucap Letta dengan nada yang sedikit tinggi.

__ADS_1


Al masih diam membisu, tapi ucapan Letta ada benarnya.


Letta mencoba menarik lengan Al lagi dan kini Al sedikit lebih menurut, Al bangkit dan mereka berjalan meninggalkan tempat dimana Rafa disemayamkan.


***


Tubuh ringkih itu terlihat semakin kurus semenjak kepergian Rafa seminggu yang lalu. Sejak saat itu Al seolah ikut mati bersama Rafa. Al terus saja mengurung diri didalam kamarnya. Hingga membuat kedua orang tuannya khawatir. Setiap jam makan asisten rumah tersebut selalu membawakan nampan berisi makanan dan minuman untuk nonanya yang masih berduka, tapi selalu untuh saat di ambil kembali.


"Sayang ini mama.." ucap Mama Elvina dengan sedih menatap anak semata wayangnya yang sedang berdiri di samping jendela kamarnya yang besar, menatap kosong pada pemandangan kota didepannya.


Al menoleh perlahan pada Mamanya.


Wajahnya suram, auranya gelap seperti tak ada tanda kehidupan. Kantung matanya menghitam, tulang pipinya semakin menonjol.


Astaga, batin Mama Elvina.


Mama Elvina langsung memeluk tubuh kurusnya Al dan bertekad akan membawanya ke psikiater.


"Pa, kita harus bawa Al ke psikiater pa" ujar Mama Elvina saat merasakan kehadiran suaminya.


"Anak kita engga gila ma" nada bicara Papa Danish sedikit meninggi.


"Iya tapi Alka kita bisa jadi gila bila kita diam saja!!" Mama Elvina sudah geram dengan suaminya yang tak ada tindakan apapun.


Dan akhirnya mereka memutuskan membawa Al pada psikiater.


Dokter menjelaskan bahwa Al merasakan penyesalan yang membuatnyaerasa bersalah, ia merasakan kehilangan sebagian dari jiwanya dan Dokter menjelaskan ada kemungkinan untuk Al mengalami gangguan kejiwaan apabila tidak obati , Dokter menyarankan metode hipnotis mungkin bisa membuatnya lebih baik lagi.


Akhirnya sepasang orang tua yang ingin anaknya kembali itupun menyetujui anaknya menjalani terapi hipnotis.


Tak ada yang menyangka kehilangan Rafa membuat Al begitu hancur, sehancur itulah Al. Sedasyat itulah efek dari kehilangan Rafa.


Mereka keluar dari ruangan praktik tersebut dan melihat Dhirga tengah duduk menunggu mereka keluar.


Begitu melihat mereka keluar Dhirga langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Om , tante" sapa Dhirga sopan dan mencium punggung tangan kanan mereka.


"Mau apa kamu kesini?" kalimat itu keluar dari bibir Al. Akhirnya Al mengeluarkan suaranya tapi disertai dengan amarah yang terlihat jelas.


__ADS_2