Bukan Begini Seharusnya

Bukan Begini Seharusnya
Semua Terasa Hampa


__ADS_3

Al mengikuti arah pandang Leta , begitu pula denga Rafa . Al hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Leta .


“Jadi ini yang bikin kamu nangis ?” Rafa seperti akan menerkam Dhirga .


Terlihat sekali bahwa Rafa masih peduli pada Al .


Leta mengarahkan pandangannya pada Rafa dan tersadar sang pujaan hati masih memuja gadis lain . Leta mengira baku hantam beberapa tahun lalu sudah membuatnya menyerah tapi kenyataannya tidak . Rafa tetap masih mengagumi Al .


Rafa beranjak dari kursinya dengan muka merah padam menahan emosi , Al dan Leta yang menyadari itu langsung ikut beranjak mengikuti Rafa dan mencoba untuk menghalanginya tapi Rafa tidak bisa lagi dilarang . Leta dan Al mengikuti langkah Rafa dengan sedikit berlari .


Bugh!! Bugh!! Bugh!!


Tanpa aba-aba lagi Rafa langsung menghajar Dhirga tanpa ampun dan semua yang menyaksikan menjerit histeris saat darah segar mulai mengalir pada sisi bibir Dhirga .


Al merasa dejavu .


Kenapa terjadi lagi , batin Al yang merasa pusing dengan semua ini . Al menarik Rafa agar berhenti menghajar Dhirga , bagaimanapun ia masih pacarnya . Al tak bisa lagi merasakan air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti . Miris melihat Dhirga babak belur dan sedih melihat Rafa menjadi brutal karena selama ini Rafa sangat lembut terhadapnya .


Al juga merasa sesak saat melihat Merry berjongkok untuk menolong Dhirga . Ingin rasanya Al memeluk Dhirga yang hampir tak sadarkan diri tapi apa daya Merry telah mendahuluinya .


Leta dengan susah payah menghalangi Rafa yang tampak masih belum puas ingin menghajar Dhirga . Leta terus memanggil nama Rafa agar tenang . Rafa menatap Al yang hanya bisa menangis tanpa suara menyaksikan semua ini membuat Rafa yang seperti dirasuki setan kemudian melunak dan melepaskan diri dari Leta .


Rafa memeluk Al yang masih saja tak bersuara . Berharap Al untuk memarahinya atau menamparnya tapi Al masih saja terdiam menatap Dhirga . Dhirga dengan susah payah bangun untuk manggapai Al tapi tak ada sedikitpun Al bergerak untuk menghampirinya . Hatinya perih menatap Dhirga penuh luka dan darah tapi lebih perih saat membayangkan alasan Dhirga datang ketempat ini bersama Merry , apalagi Al melihat sendiri bagaimana Dhirga memperlakukan Merry .


“Al-ka..” ucap Dhirga tertatih . Kini semua mata menatap pada Al bahkan pejalan kaki mulai membuat lingkaran kecil disekeliling mereka .


“Ini tidak seperti yang kamu lihat Al” Dhirga masih dengan susah payah mengucapkan setiap katanya karena sudut bibirnya yang robek dan perih.


Al masih diam tak tau harus bicara apa . Kemudian Rafa menggandengnya dengan lembut menuju mobilnya . Al menurut mengikuti Rafa , mungkin lebih baik seperti itu . Al berjalan dan sesekali menoleh ke belakang menatap Dhirga yang menatapnya dengan sedih seolah ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan .


Dalam perjalanan pulang Al hanya diam , Rafa dan Leta tak tau harus berbuat apa . Tak tau cara menghiburnya karena orang bodoh pun akan beranggapan bahwa Merry tengah mengandung anak dari Dhirga jika melihat Merry yang datang ke dokter kandungan bersama Dhirga . Bahkan orang yang belum pernah hamil pun tau ke dokter kandungan ya bersama suami .


Tapi bagaimana dengan ini ?


Al mengalihkan pandangannya pada jalan yang agak macet , air matanya sudah tak lagi mengalir tapi jejaknya masih jelas terlihat di wajah cantiknya .


“Menurut kalian hubungan mereka apa?” Al mulai membuka pembicaraan yang sedari tadi baik Rafa maupun Leta takut untuk memulainya .


Rafa dan Leta sontak menoleh pada Al yang masih saja sibuk memandangi jalan yang padat .


“Kalo aku bilang Dhirga cuma antar kamu bisa merasa lebih baik ?” Tanya Rafa yang tak ingin Al semakin sedih .


Mungkin ini pertama kalinya ia begitu peduli pada seorang gadis .


Al hanya menggeleng menandakan bahwa jawaban itu tidak membuatnya lebih baik .


“Kamu harus membicarakannya Al , biar kamu tau apa yang harus kamu lakukan selanjutnya..” Leta ikut menasehati Al , sebagai sahabat yang baik Leta tidak mau Al terus saja merasa sedih .


“Mungkin untuk sekarang aku ingin break sampai hati aku tenang baru saat itu aku menemuinya” Al bingung harus bagaimana mungkin ini yang terbaik karena bicara saat emosi akan membuat semuanya makin berantakan .


“Everything the best for you” Rafa hanya bisa menyemangati gadis pujaannya.


Rafa merasakan elemen baik dan elemen jahat mulai mengambil alih akal sehatnya.


Kesempatan bagus boss , lu bisa langsung masuk nikung si Al. Kata si Jahat.


No , lelaki sejati tidak nikung. Si Baik tidak setuju dengan si Jahat.


Rafa mengacak-acak rambutnya dengan frustasi . Biarkan semua berjalan seperti air , kalau memang jodoh tidak akan kemana dan kalau kemana-mana ya berarti bukan jodoh .

__ADS_1


Mobil melaju dengan santai , matahari mulai terbenam dan meninggalkan semburat senja pada langit yang berganti dengan malam .


Al merasa suasana hatinya semakin tak jelas ditambah dengan Dhirga yang sama sekali tidak mencoba untuk menghubunginya , entah lewat chat atau telpon . Al berpikir positif , mungkin Dhirga tengah sibuk mengobati luka-lukanya tapi tiba-tiba rasanya sesak mengingat Merry yang mengobati luka Dhirga .


Mobil memasuki kompleks perumahan elite tempat Al tinggal , beberapa meter dari rumah Al melihat mobil Dhirga terparkir di pinggir jalan .


“Stop ka” pinta Al yabg melihat mobil Dhirga di depan sana .


Rafa menghentikan mobilnya dan belum sadar kenapa Al minta untuk berhenti , tak lama Al keluar dari mobil diikuti oleh Rafa dan Leta .


Al menghampiri mobil Dhirga mencari dimana si pemilik mobil . Dan terkejut saat melihat Dhirga yang masih berdarah bersandar pada bagian depan mobil , menunduk seolah menahan sedih yang tak bisa lagi di ungkapkan .


Luka itu masih ada , bahkan darah itu belum di bersihkan dan mengering pada bagian-bagian dimana darah itu mengalir.


“Bang” panggil Al.


Rafa yang awalnya hendak menghampirinya saat tau pemilik mobil itu di tahan oleh Leta yang kemudian menggeleng pelan.


“Beri mereka waktu” bisik Leta, kemudian Leta dan Rafa pergi dari sana .


Dhiga langsung memeluk erat tubuh Al.


“Engga seperti yang kamu lihat Al , aku hanya menemaninya” jelas Dhirga yang masih saja memeluk Al dengan erat .


Al seolah mati rasa  , tak dapat merasakan pelukan Dhirga . Al menangis dalam pelukan yang tidak dibalasnya itu.


“Aku butuh waktu bang , please kasih aku waktu” pinta Al seraya mengurai pelukan dari Dhirga.


“Baby , aku serius , aku cuma anter , bukan aku ayah dari anak yang dikandung Merry” Dhirga masih berusaha untuk melukkan hati Al .


“Lalu siapa bang ?!” Al menuntut jawaban dari Dhirga , tapi Dhirga bungkam tak dapat menjawab.


Dhirga hanya diam mendengar kekecewaan Al . Dhirga tak tau harus berbuat apa.


“Bang sepertinya banyak yang kamu sembunyikan dari aku ya ? Aku ngga tau apa-apa tentang kamu , sedangkan kamu tau semuanya tentang aku . Aku ngerasa engga adil , aku mau kita break ya” kesedihan Al sudah tak bisa lagi dibendung .


Dhirga kaget mendengar Al yang minta break darinya , memang ini salahnya yang sudah berbohong pada Al .


Tak juga mendapat jawaban dari Dhirga , Al langsung masuk ke dalam rumah . Anggap saja Dhirga menyetujuinya.


Entah bagaimana kelanjutan hubungan mereka . Al takut jika suatu hari ia akan lebih dikejutkan dengan rahasia Dhirga yang sebenarnya . Bahkan Dhirga tak bisa memberitahunya siapa ayah dari anak yang dikandung Merry .


🌺🌺🌺


(beberapa bulan kemudian)


“Alkaa..” sapa Rafa saat mereka bertemu di koridor kampus.


“Hai ka ,” Al membalas sapaan dari Rafa .


Sudah 6 bulan berlalu , Al sama sekali tidak menghubungi Dhirga dan begitupun sebaliknya .


Dhirga bak hilang ditelan bumi . Pernah sesekali Al datang ke studionya Om Adhit tapi staff bilang mereka pindah ke luar kota . Tapi kenapa tak satu pun dari mereka yang memberitahunya .


“hai. Ngelamun mulu sih ?” Suara Rafa membawanya kembali. Kini Rafa dan Leta yang selalu bersamanya , menemaninya dan membantunya melupakan Dhirga .


Yup Leta kini pindah kuliah karena tidak betah di Bandung dan lebih tepatnya tidak bisa jauh-jauh dari Al.


Rafa entah sudah berapa kali menyatakan cintanya pada Al . Tapi masih saja tidak ada jawaban . Rafa mengerti mungkin Al masih menunggu Dhirga kembali .

__ADS_1


Waktu terus berlalu hingga sampai pada ujian akhir semester dan semua mahasiswa disibukkan dengan ujian tertulis dan ujian praktek , tak terkecuali Al . Walaupun hati galau tapi dunia tetap berputar , kehidupan terus berlanjut . Al tidak ingin kisah cintanya membuatnya kehilangan masa depan .


Setelah ujian semua mahasiswa diliburkan selama dua bulan , ada yang pergi liburan dan ada yang memanfaatkan waktu dengan kerja part time . Sampai waktunya liburan dimulai Al masih belum bisa menentukan kegiatan apa yang akan mengisi waktunya.


“Liburan kita ngapain ya Al ?” tanya leta sambil nyeruput ice coffe lattenya .


“Lu mau part time apa treveling?” Leta menoleh pada Al dengan tatapan kesal .


“Gue nanya sama lu Al , malah balik nanya sih” Leta memasang wajah cemberut dan Al hanya tertawa melihatnya .


Thanks ya Let, batin Al . Ia merasa hidupnya kini menjadi lebih ringan berkat Leta yang selalu menghiburnya.


“Bali yuk” ajak Al


“Nah gitu dong” Leta kembali semangat mendengar ucapan Al.


“Yah bilang aja sih kalo lu ngajak treveling , pake pura-pura nanya”


Leta tertawa keras , modusnya ketahuan sama Al.


“Ajak ka Rafa yuk” pinta Leta.


Al memutar bola matanya , hafal betul dengan sahabatnya satu ini .


“Al..” Leta memegang tangan Al dengan lembut , dan Al menoleh pada Leta.


“Udah selama ini Dhirga engga ada kabarnya , lu engga mau buka hati buat kak Rafa ? Jangan khawatir gue udah punya gebetan kok , kalo memang itu yang buat lu engga mau buka hati untuk kak Rafa” Leta tau betul sahabatnya ini begitu sayang padanya , dan Leta tau dengan pasti apa yang buat Al tidak mau buka hati untuk kak Rafa.


Al hanya tersenyum kecil .


Tak lama kemudian datanglah seorang cowok , yang dikatakann ganteng juga tidak tapi dia ini tidak jelek . Melihatnya seperti tidak ada bosannya . Cowok yang baru saja melewati pintu dan masuk itu berjalan ke arah Al dan Leta .


“Hai..” sapa cowok itu pada Leta dan langsung mengecup manja kening Leta .


“Hai sayang..” jawab Leta tak kalah manja . Leta kemudian melingkarkan tangannya pada pingganh cowok itu .


“Al kenalin ini cowok yang tadi gue cerita sama lu” Leta mengenalkan cowok itu pada Al.


“Hai . Gue Ghibran Naufal Rizal panggil aja Naufal” sapa Naufal dengan ramah dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabatan .


“Hai , aku Abriana Alka Tunggadewa panggil aja aku Al” jawab Al sambil menerima jabat tangan dari Naufal.


Ya Naufal memang terlihat begitu mencintai Leta dan juga terlihat lebih dewasa dari Leta . Mungkin seumuran dengan Rafa .


Al tersenyum melihat Leta dan Naufal terlihat begitu sangat saling mengasihi . Naufal memang tidak setampan Rafa dan tidak terlihat bad boy seperti Dhirga tapi sifatnya yang supel membuatnya menjadi menarik ditambah dengan lesung pipit yang timbul saat ia tersenyum . Manis .


“Al…” Leta memanggil Al dengan lembut dan kemudian menggenggam lembut tangan Al . Al membalasnya dengan senyum yang lembut juga . Al tau apa yang akan dikatakan Leta .


“please , beri kesempatan untuk kak Rafa” Leta memohon pada Al . Bukan karena apa-apa tapi Leta adalah saksi betapa gigihnya Rafa memenangkan hati Al .


Kemudian Al mengangguk dan tersenyum . Leta memeluk Al karena sangat bahagia , Al akhirnya mau membuka hati untuk orang lain.


“Tapi gue baru buka hati gue ya Leta , jangan paksa gue buat mencintai ka Rafa dalam waktu singkat” kata Al pada Leta , karena takut nantinya Al akam dipaksa untuk mencintai Rafa sepenuh hati .


“Mencintainya atau tidak itu keputusanmu , tapi membantumu untuk move on adalah tugasku” sekali lagi Leta memeluk Al yang duduk di sampingnya.


Naufal yang baru saja mengenalnya juga ikut bahagia , mungkin Leta sudah menceritakan semuanya pada Naufal.


Semoga ini adalah awal yang baik untuk kita semua , batin Al.

__ADS_1


__ADS_2