Bukan Begini Seharusnya

Bukan Begini Seharusnya
Yang Hidup Bagai Mati


__ADS_3

Alka tengah berlari di koridor rumah sakit dengan jejak air mata yang masih belum kering di pipi.


Akhirnya kakinya berhenti berlari disebuah kamar intensif. Di dalam sana ada seorang lelaki yang akhir-akhir ini berhasil menggetarkan hatinya.


Tubuh lemah Rafa berbaring dengan banyak selang ditubuhnya. Alat pendeteksi jantung mengalun merdu dan teratur menandakan tubuh lemah itu masih hidup meskipun hilang kesadaran.


Alka hanya bisa menyentuh Rafa dari kaca pembatas. Air matanya mengalir lagi seperti air bah. Membasahi wajahnya yang tampak kacau. Hatinya hancur melihat Rafa begitu tak berdaya dan pasti merasa sangat kesakitan.


"Al.." suara lirih yang sama rapuh terdengar menggema.


Alka menoleh dan melihat ada Letta juga Naufal dengan keadaan sama kacaunya. Alka langsung memeluk tubuh Letta dengan erat seolah takut tubuh itu akan menghilang lagi. Alka kemudian menumpahkan rasa dalam dadanya perasaan yang entah datang darimana.


Hanya tangis yang dapat menjelaskan apa yang mereka rasa.


"Tadi kak Rafa nelpon gue , dia bilang mau ke rumah lo. Mau memperjelas semuanya dan dia mau minta maaf sama lo. Gue bilang oke karena ini adalah saatnya kalian untuk baikan. Engga lama dari itu nomor kak Rafa nelpon gue lagi ternyata itu polisi bilang..kalo..kak..Rafa..kecelakaan...." suara Letta terdengar sangat pilu. Dan Al hanya mendengarkan sambil menangis.


Tak ada kata yang terucap dari bibir mungilnya, hatinya hancur, merasa sedih saat membayangkan Rafa mengalami ini semua saat hendak menghampirinya. Bayangan Rafa berputar-putar dalam kepalanya membuat dadanya semakin sesak.


"Let, orangtua kak Rafa gimana?" Alka tiba-tiba ingat orangtuan Rafa yang tidak ada di dalam negeri kareka pekerjaan ayahnya Rafa sebagai Kedutaan Indonesia di Malaysia.


"Gue udah kabarin, tadi gue telpon pake hape kak Rafa.." Al hanya mengguk sebagai jawaban.


Ponsel Al bergetar dalam tasnya. Dengan malas Al meraih benda pipih itu. dan nama yang tertera di layar itu semakin membuat Al membeku.


"Kenapa?" tanya Letta yang penasaran dengan apa yng terjadi, pasalnya wajah Al begitu pucat.


Al menyodorkan ponselnya pada Letta. dan mata Letta membelalak begitu membaca "Bang Dhirga" adalah nama yang tertera di layar itu.


Letta memandang Al seolah minta penjelasan kenapa bisa Dhirga menghubunginya lagi dan Al hanya menggeleng seolah mengerti apa yang Letta pikirkan.


"Angkatlah mungkin masih ada yang belum tuntas antara kalian" Al kemudian menjauh dari Letta dan Naufal.


Tangannya bergetar hebat. Jangtungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dengan ragu AL akhirnya men-slide tombol hijau di layarnya.


"ha..halo" ucap Al ragu.


"baby, aku di Jakarta. Bisa kita ketemu? kamu di rumah enggak?" Al seperti hendak meledak. Kenapa Dhirga merasa seolah diantara mereka tak terjadi apapun.


"Aku engga di rumah" jawab Al dingin.


"kamu dimana?"


"Aku di rumah sakit xx"


"kamu sakit baby?" terdengar suara Dhirga sangat khawatir.

__ADS_1


"No, kaka Rafa kecelakaan dan masih koma" kenapa saat mengingat Rafa yang terbaring lemah membuat Al merasa sesak sekali.


"..." tak adajawaban dari Dhirga.


"hallo?" baru saja AL hendak mengakhiri panggilan.


"Aku kesana. bukan untuk jenguk tapi untuk jemput kamu"


Kemudian panggilan benar-benar terputus. Dhirga sangat terlihat tidak suka saat mendengar Al menemani Rafa yang koma di rumah sakit.


Kenapa getar itu hilang saat tau bang Dhirga akan datang menemuiku, batin Al.


Al melangkah gontai menuju Letta berada, dan benar saja Letta langsung menanyainya. Lebih tepat mengintrogasinya.


Al menjelaskan dari A sampai Z. Menjelaskan tentang perasaannya hatinya yang jungkir balik tak menentu bila ingat Rafa dan tak ada lagi getar yang selalu dia rasa saat bersama Dhirga. Bahkan hanya mendengar sura Dhirga saja bisa membuat jantungnya berlompatan didalam sana. Tapi barusan saat suaranya sampai di indra pendengarannya sama sekali tak ada sengatan listrik yang dulu ia rasa.


"Lo udah jatuh cinta sama Rafa, Al" Letta menyimpulkan.


"I think so..." suara Al lirih bahkan hampir tak terdengar. Untung saja jaraknya dengan Letta sangat dekat jadi Letta bisa mendengarnya dengan baik.


"Let..." suara Al sangat ragu.


"Yes?"


"its oke sayang..Tapi gue berharap lo ga begitu lagi. Gue merasa kehilangan lo, apa lagi ka Rafa"


Mata Al langsung menatap tubuh lemah itu dan air matanya menetes kembali mengingat betapa jahatnya ia.


"Dokter bilang boleh masuk kok, tapi lo harus steril.. Gih liat kak Rafa, gue rasa dia lagi nungguin lo"


Al terlihat ragu, masuk atau tidak. Ingin sekali masuk dan memeluknya tapi dia merasa bersalah.


"Ga pa-pa Al..Rafa butuh lo" kini Naufal yang bersuara, walau baru mengenal tapi Naufal mulai mengerti mereka.


Dengan langkah lemah dan ragu Al memberanikan diri untuk masuk setelah steril.


Al membukan pintu itu berharap Rafa akan terbangun saat mendengar suara langkan kaki Al tapi nyatanya tidak.


Tak dapat berkata apa-apa, pemandangan yang menyakitkan ini sungguh membuat Al sesak nafas.


"Hei..kak..ayo bangun.." ucapnya tercekat menahan tangis, bahkan untuk bicara normalpun tidak bisa.


Digenggamnya tangan dingin Rafa, tangan Rafa terlihat pucat dengan selang infus tertancap menyakitkan di sana.


Wajah tampan ini biasanya ceria tapi mengapa sakarang sangat menyedihkan dengan luka-luka yang belum mengering.

__ADS_1


Alka tak dapat lagi menahan tangisnya. Akhirnya menunduk terisak sambil terus menggenggam tangannya.


"Ma..afin aku ka..hiks..aku..hiks..aku..ga kuat..liat kamu begini..hiks" ucap Al dengan tangis kian pilu di akhir kalimatnya.


Sungguh saat ini ia sangat berharap Rafa akan bangun dan mengelus kepalanya lembut. Tapi harapannya sungguh menyakitkan, Rafa tak menunjukan tanda-tanda siuman.


Tangis Al semakin menyedihkan. Bakan sesak di dadanya sangat menyiksanya.


"Kak Rafa.." lirihnya.


"Apa kalo aku mengakui persaan aku sama kamu maka kamu akan bangun dari tidur kamu kak?"


"Kak, aku sayang kamu kak, please bangun kak biar kita bisa sama-sama mulai dari ulang lagi kak..hiks..kak..hiks.."


Drrttt...ddrrtttt..


Ponsel Alka bergetar dan Al memeriksanya. "Bang Dhirga". Kenapa sekarang rasanya ingin sekali mencaci orang ini.


"Kak, akun pulalng dulu ya.. Besok aku pasti datang lagi setelah kuliah" Kemudian Alka mencium kening Rafa. Menciumnya dalam. Hingga tanpa sadar airmatanya menetes di kening Rafa.


"I love you" ucapnya lirih. Dan berjalan keluar.


Begitu membuka pintu Al kaget dengan keberadaan Dhirga yang mentapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bang Dhirga liat tadi gue nyuim kak Rafa ya?, batin Al.


"hh..Ayo pulang" perintahnya dan langsung menarik lengan Al kasar.


"eh lo jangan kasar dong sama cewek" Naufal membela Al dan memegang lengan Al yang bebas.


"Lo siapa? Lepas tangan lo dari Al" ucapnya dingin.


Naufal menatap Al, Al mengangguk dan Naufal melepaskannya.


"Gue balik dulu ya.. Boleh tolong jagain kak Rafa?"


"tentu sayang" jawab Letta dan kemudian Al pergi bersama Dhirga.


.


.


BERSAMBUNG


Jangan lupa vote love dan komen yaa..

__ADS_1


__ADS_2