Bukan Niatku Selingkuh

Bukan Niatku Selingkuh
Bimbang


__ADS_3

Shanti kembali ke rumah dan langsung masuk ke kamar mandi.


Sembari menyalakan kran, Shanti menangis sejadi-jadinya mengingat sikap Farzan padanya.


Shanti benar-benar merasa kesakitan di hatinya mengingat Farzan yang selama ini selalu menunjukkan rasa ketertarikannya pada dirinya kini seolah telah berubah seratus delapan puluh derajat.


Terlebih mengingat ada seorang wanita di dalam rumahnya, Membuat Shanti semakin tidak bisa menahan suaranya hingga tangisannya terdengar ke telinga Farhan yang juga terbangun dari tidurnya.


Farhan yang mendengar tangisan sang istri di dalam kamar mandi mendekati pintu dan mengetuknya.


Tok... Tok... Tok...


"Shanti..."


Di dalam kamar mandi Shanti yang terkejut mendengar suara Farhan langsung menghapus air matanya dan mengatur suaranya agar tidak terdengar ia habis menangis.


"Kamu baik-baik saja?"


"A... Y-ya, Aku tidak papa, Aku akan segera keluar," ucap Shanti yang kemudian mencuci muka untuk menghapus air matanya.


Setelah itu Shanti menarik nafas dalam-dalam dan keluar dari kamar mandi.


Ckleekkk...


Dengan wajah basahnya Shanti menundukkan kepalanya saat melihat Farhan sudah berdiri depan pintu. Ia berharap agar suaminya itu tidak mencurigai dan menanyakan kenapa ia menangis. Namun Farhan yang merasa mendengar Shanti menangis bertanya untuk memastikannya.

__ADS_1


"Apa kamu habis menangis?"


Shanti menggelengkan kepalanya mengelak kenyataan yang sebenarnya.


"Meskipun kamu mencoba menutupinya dengan mencuci wajah mu, Namun mata mu menunjukkan jika memang kamu habis menangis." ujar Farhan yang melihat mata Shanti sembab.


"Katakan kenapa kamu menangis, Apa hari ini tanpa sengaja menyakiti mu?"


Shanti tertegun menatap Farhan yang terlihat begitu tulus seakan ia telah benar-benar berubah.


"Shanti..."


"A... Tidak Aku hanya... Baru selesai menonton film sedih jadi Aku ikut menangis," ucap Shanti beralasan.


Shanti hanya tersenyum kecil dan meninggalkan Farhan untuk kembali ke kamar.


Di dalam kamar, Shanti memeluk Fakhri yang masih tidur pulas.


Ia kembali menangis mengingat sikap Farzan kepadanya.


Rasa sakit di hatinya memikirkan Farzan yang terlihat tidak lagi mencintainya benar-benar membuat hatinya sakit melebihi apa yang ia rasakan pada Farhan.


Tangis sesenggukan dipunggung Fakhri, Membuat anak berusia enam tahun itu terbangun.


"Mama..."

__ADS_1


Shanti terkejut mendengar suara Fakhri yang memanggilnya. Ia segera menghapus air matanya begitu Fakhri membalikkan badannya untuk menghadapnya.


"Mama kenapa menangis?" tanya Fakhri yang melihat mata sembab dan sisa air mata di pipi Mama nya.


"Oh... Tidak Sayang, Mama hanya..."


"Mama mu hanya sedih setelah menonton film." sambung Farhan yang baru masuk.


"Mama memang sering kali begitu, Saat Bapak kerja di Kalimantan Mama juga sering menangis." ujar Fakhri.


"Benarkah?" tanya Farhan yang kemudian duduk di samping Shanti merangkulnya.


Fakhri mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali memejamkan mata memeluk Mamanya.


Setelah beberapa menit kemudian, Fakhri kembali tertidur.


Melihat itu Farhan mengusap pundak Shanti yang masih memeluk Fakhri dengan posisi membelakanginya.


"Maafkan Mas yah, Selama ini Mas sudah bikin kamu sedih."


Mendengar itu Shanti semakin merasa bimbang dan bertanya-tanya dalam hatinya. "Apakah Mas Farhan sudah benar-benar berubah?


Apa Aku harus memberinya kesempatan dan benar-benar memperbaiki pernikahan ku untuk melupakan perasaan ku pada Farzan yang tidak lagi mencintai ku?" Shanti terus bergumam memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2