
Bu Rahayu yang melihat Shanti tak kalah terkejutnya.
Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya seperti apa yang warga tuduhkan. Bagaimana mungkin putrinya yang di kenalnya sebagai pribadi yang taat dan pendiam berani berselingkuh di rumahnya sendiri apalagi dengan adik iparnya.
"Ini tidak mungkin," ucap Bu Rahayu.
"Apanya yang tidak mungkin Bu, Lihatnya anak Bu Rahayu." saut salah satu warga.
"Jika masih tidak percaya coba tanya langsung ke orangnya." saut yang lainnya.
"Shanti ini tidak benar kan, Kamu tidak mungkin melakukan seperti yang warga tuduhkan?" tanya Farhan.
Shanti hanya bisa menunduk dan meneteskan air matanya.
Tak bisa di gambarkan betapa malu dan merasa bersalah kepada Farhan yang sudah berubah sejak mereka memutuskan kembali bersama.
"Bu Rahayu dan Mas Farhan lihat kan, Shanti tidak bisa menjawabnya. Berarti memang benar jika mereka sudah mesum!" triak salah seorang warga.
"Sekarang tunggu apalagi bawa dia ke rumah Pak Lurah." triak yang lainnya.
__ADS_1
"Sudah cukup!!!" tegas Farzan.
Semua orang terdiam menatap Farzan yang mendekati para warga.
"Kenapa kalian semua hanya bertanya kepada Mbak Shanti? Ada Aku juga di sini. Kenapa kalian hanya memojokkannya, Apa karena Mbak Shanti seorang wanita sehingga kalian berbuat seenaknya kepadanya?"
"Wah lihatlah dia, Dia mau jadi pahlawan untuk istri kakaknya. Apa ini tidak semakin mencurigakan?" celetuk salah seorang warga.
"Tidak di ragukan lagi, Kalau begitu Ayo bawa mereka ke rumah Pak Lurah, Biar pak lurah yang memutuskan." ujar yang lainnya.
"Tolong jangan bawa anak saya Pak." tangis Bu Rahayu.
"Apa anak ibu masih punya malu? Jika dia masih punya malu, Dia tidak akan mesum di sini!"
"Lihatlah suaminya, Suaminya rela kerja jauh-jauh ke Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tapi dia malah berselingkuh dengan Adik iparnya."
Para warga terus memberondong Shanti dengan berbagai macam tuduhan tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri.
"Apa karena ini kamu tidak ingin Mas ikut mengantar mu sampai rumah?"
__ADS_1
Pertanyaan Farhan semakin membuat warga yakin jika Shanti dan Farzan berselingkuh dan menghianati suaminya yang selama ini di kenal baik oleh warga sekitar.
"Bukan seperti itu Mas..." Shanti mencoba menjelaskan. Namun kali ini ibunya yang ikut mempertanyakan ucapan Farhan.
"Lalu seperti apa Shanti, Kamu tidak mau di antar suami mu, Tapi diam-diam kamu mengajak adik ipar mu, Bahkan saat ibu menyuruh mu mengajak dia masuk, Kamu tidak mengatakan jika dia adalah Farzan. Bagaimana jika para warga tidak datang, Apa kamu akan mengajaknya ke kamar mu?!" dengan nafas yang terengah-engah karena usia, Bu Rahayu tak bisa lagi menyembunyikan rasa kecewanya pada Shanti. Belum lagi rasa malu pada Farhan menantunya dan pada warga yang menyaksikan, Membuat Bu Rahayu yang sudah tua renta semakin terlihat lemah.
Shanti hanya bisa menangis tak tau apa yang harus ia katakan.
Ia tidak ingin membuat kondisi ibunya semakin parah dengan mengatakan apa yang sudah Farhan lakukan selama ini sehingga tak ada lagi perasaan apapun untuk Farhan dan bagaimana bisa ia
berpaling kepada Farzan.
"Bahkan pertanyaan ibunya sendiri pun tidak bisa ia jawab." celetuk warga.
"Kalau begini tunggu apa lagi, Bawa mereka ke rumah Pak Lurah."
"Jangan Pak... Jangan..." tangis Shanti.
Bu Rahayu yang semula meminta belas kasihan kini hanya nampak pasrah melihat tangan Shanti di tarik oleh salah seorang warga.
__ADS_1
Bersambung...