
"Farzan, Kenapa kamu diam?" tanya Farhan yang melihat Farzan diam saja.
"E-Tidak, Aku hanya merasa... Harus berangkat bekerja sekarang.
Ini sudah siang."
"Kamu yakin tidak ingin menyusul Shanti?"
"Mas Farhan yang suaminya, Kenapa jadi Aku yang harus menyusulnya, Sudahlah."
"Aku tidak tau apakah Shanti akan kembali lagi atau tidak, Karena Aku rasa setelah ini dia akan menggugat cerai."
Farzan tak lagi menjawab dan pergi meninggalkan Farhan yang belum juga pergi dari rumahnya.
Begitu sampai tempatnya bekerja, Farzan langsung mengerjakan tugasnya. Namun kata-kata Farhan tentang Shanti terus terngiang di telinganya hingga membuat hatinya resah memikirkan bagaimana jika Shanti benar-benar tidak kembali.
"Ahhh... Sialllll...!!!" Farzan merasa kesal pada diri sendiri karena tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya Farzan meninggalkan tempatnya bekerja dan melaju cepat dengan motornya.
Lima belas menit kemudian Farzan sampai ke terminal Bus dan memarkirkan motornya di sembarang tempat. Kemudian Farzan lari terbirit-birit mencari Shanti di semua Bus yang menuju ke kota kelahiran kakak iparnya. Namun dari kelima Bus yang masih terparkir di terminal ia tidak menemukan Shanti di sana.
Dengan lemas Farzan duduk di tangga Bus.
"Jadi Mbak Shanti sudah benar-benar pulang, Bagaimana jika dia tidak kembali lagi kesini seperti yang Mas Farhan katakan."
Setelah berpikir beberapa saat, Farzan kembali ke motornya dan berniat menyusul Shanti ke kampung halamannya.
•••
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam, Akhirnya Farzan sampai di rumah orang tua Shanti pada malam hari. Meskipun ia menyadari tidaklah pantas bagi seorang laki-laki dewasa jauh-jauh mendatangi istri dari kakaknya. Namun ia tidak bisa lagi menunggu hari esok untuk segera mengakhiri keresahan di hatinya.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Farzan mendekati pintu.
Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah yang sudah gelap dan terlihat sunyi sepi seolah menunjukkan seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam mimpi.
Tok... Tok... Tok...
Cukup lama Farzan menunggu dan mengetuk beberapa kali. Namun tak ada satupun orang yang membukakan pintu untuknya.
Tidak menyerah, Farzan pun kembali mengetuk pintu jendela kaca berharap ada yang mendengar dan membukakan pintu untuknya. Namun usahanya itu juga tidak membuahkan hasil sehingga Farzan berpikir untuk menghubungi Shanti melalui ponselnya.
__ADS_1
Baru saja ia mengeluarkan ponselnya, Farzan dikagetkan oleh bunyi pintu yang tengah di buka dari dalam.
Ckleekkk...
"Farzan!"
"Mbak Shanti..."
Keduanya mematung menatap satu sama lain untuk beberapa saat seakan ingin segera meluapkan perasaan yang selama ini tertahan di hati masing-masing.
Tanpa kata, Farzan melangkah mendekati Shanti. Kemudian ia meraih tangan Shanti dan menggenggam nya. Seketika Shanti tersentak dan menarik tangannya kembali.
"Apa yang kamu lakukan di sini Farzan, Kenapa jauh-jauh menyusul ku, Apa yang akan di katakan orang-orang jika mereka tau?"
Farzan hanya terdiam menatap sendu Shanti, Seolah begitu menyesal karena telah mendiamkan Shanti beberapa hari terakhir.
Hingga pada saat Shanti melangkah masuk kembali, Farzan kembali menarik tangannya dan memeluknya.
"Farzan! Egh..." Shanti yang semula ingin memberontak tidak jadi melakukannya ketika merasakan degupan jantung Farzan yang begitu kencang.
Tanpa bicara sepatah katapun Farzan membenamkan dagunya di pundak Shanti, Kedua tngannya memeluk erat tubuh kakak iparnya tersebut hingga tanpa sadar Shanti pun ikut membalas pelukannya.
Hingga beberapa menit berlalu, Shanti membuka mata mengingat wanita yang menginap di rumah Farzan kala itu.
"Lepaskan!" Shanti mendorong tubuh Farzan menjauh darinya.
"Pergilah Farzan!"
"Aku tidak ingin orang tuaku maupun tetangga melihat mu di sini, Apa yang akan mereka pikirkan nanti?"
"Itu bukan alasan yang sebenarnya kan?"
Shanti terdiam, Memang benar itu bukan alasan sebenarnya, Karena alasan utamanya adalah, Shanti merasa cemburu mengingat wanita yang bermalam di rumah Farzan.
"Mbak Shanti, Jawab pertanyaan ku Mbak..."
"Ya! Memang itu bukan alasan yang sebenarnya, Karena alasan yang sebenarnya Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mu mapun Mas Farhan!"
"Benarkah?" Farzan mencengkeram lengan Shanti dan menatapnya tajam seolah masih tak percaya dengan alasan yang di berikan.
__ADS_1
"Lepaskan Aku Farzan! Pergilah dari sini!" Shanti mencoba melepaskan tangannya namun cengkraman tangan Farzan cukup kuat hingga Shanti tak mampu melepasnya.
"Aku tidak akan melepaskan mu Mbak! Sebelumnya Mbak memintaku untuk menjauh, Kemudian pada tengah malam Mbak datang ke kamar ku seakan memberi harapan kepada ku, Tapi sekarang? Saat Aku datang jauh-jauh kemari mengambil berbagai macam resiko, Dengan mudahnya Mbak mengusirku?!"
"Apalagi yang harus ku lakukan Farzan, Bukankah kamu sudah memiliki kekasih? Bahkan kamu sudah berani mengajaknya bermalam di rumah mu! triak Shanti.
Farzan yang mendengarnya tersenyum smirk sembari menggelengkan kepalanya. "jadi Mbak cemburu?"
Shanti memalingkan wajahnya untuk menutupi perasaannya.
"Apa ini artinya Mbak Shanti mencintai ku?"
"Cinta apa? Kamu tidak ada bedanya dengan Mas Farhan, Bisanya hanya mempermainkan perasaan ku!"
"Wanita itu bukan kekasih ku Mbak."
Sontak pengakuan Farzan membuat Shanti merasa sedikit senang dan tak sabar mendengar kata-kata apa lagi yang ingin Farzan katakan.
"Dia hanya adik teman ku."
Shanti yang berdiri membelakangi Farzan mulai mengukir senyum mendengar penjelasan Farzan.
"Malam itu teman ku memintaku untuk menjemputnya di stasiun, Karena kemalaman Aku meminta dia memginap di rumah, Dan pada pagi harinya yang saat Mbak melihat kami ingin pergi bersama, Itu Aku akan mengantar dia ke rumahnya."
"Jadi dia bukan kekasih mu?"
Farzan menggelengkan kepalanya
"Dan kalian tidak melakukan apapun?"
Farzan kembali menggelengkan kepalanya.
Shanti tersenyum bahagia seolah ingin melompat saat itu juga.
Farzan yang melihat raut wajah Shanti yang begitu senang, Menggoda kakak iparnya itu.
"Memangnya apa hubungannya dengan Mbak Shanti dia kekasih ku atau bukan, Mbak Shanti kan tidak mencintai ku."
Mendengar itu Shanti menjadi salah tingkah. Ingin sekali rasanya mengakui perasaannya. Namun statusnya yang masih menjadi istri orang, Membuat Shanti ragu untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung...