
Farzan yang melihat Shanti di perlakukan sedemikian rupa segera mendekap tubuh Shanti dan melepas paksa tangan warga dari cengkramannya kepada Shanti.
"Tidak bisakah kita selesaikan secara baik-baik disini?" tanya Farzan.
"Tidak bisa! Kalian telah berbuat mesum di desa kami jadi kalian harus ikut kami menghadap Pak Lurah, Biar Pak Lurah yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk kalian!"
"Lihatlah, Di depan Kakaknya saja yang masih sah menjadi suami Shanti dia berani memeluknya. Bagaimana tadi saat mereka berduaan, Kalian bisa bayangkan sendiri." timpal warga lainnya
Mendengar itu Farzan langsung melepaskan dekapannya.
Ia tidak tahu apa lagi yang harus di lakukan. Karena apapun yang akan ia katakan, Akan selalu salah di mata mereka.
"Terserah apa yang ingin kalian lakukan, Ibu sudah pasrah," ucap Bu Rahayu.
"Lihatlah ibu mu sudah menyerahkan semuanya kepada kami, Sekarang kita dengar bagaimana keputusan suami mu." ujar salah seorang warga yang kemudian bertanya kepada Farhan.
"Mas Farhan, Di sini Anda orang yang paling di rugikan dan tersakiti atas perselingkuhan mereka. Keputusan apa yang akan Anda ambil untuk istri dan adik Anda? Apa Anda akan membiarkan kami membawa mereka ke Pak Lurah?"
Farhan terdiam menatap Farzan dan Shanti beberapa saat.
Setelah itu dengan tatapan dinginnya ia memberikan keputusannya pada warga yang sudah menunggunya.
"Bawa Mereka ke Pak Lurah." ujar Farhan.
Shanti dan Farzan tercengang mendengar keputusan Farhan yang tega menyuruh warga membawa mereka ke rumah Pak Lurah.
"Apa yang Mas katakan, Apa Mas Farhan tidak memikirkan Fakhri?" tanya Farzan.
__ADS_1
"Kamu meminta ku untuk memikirkan Fakhri sementara dirimu saat melakukan hal keji itu tidak memikirkannya?!"
"Mas! Fakhri putra mu, Seharusnya Mas yang lebih memikirkannya," ucap Shanti mencelah pembicaraan.
"Kamu meminta ku untuk memikirkan Fakhri sementara kamu sebagai ibu tidak memikirkannya dan berbuat mesum dengan Om nya sendiri. Kamu bukan hanya menghianati ku Shanti tapi kamu juga akan membuat malu Fakhri di depan teman-temannya!"
Para warga yang mendengar ucapan Farhan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju atas ucapan yang Farhan lontarkan.
"Cukup Mas! Jangan melontarkan kata-kata yang menunjukkan seolah-olah Mbak Shanti istri dan ibu yang buruk. Selama ini bukankah Mas Farhan yang tidak menjalankan kewajiban Mas sebagai seorang Ayah dan suami? Bahkan Mas Farhan juga memiliki ist..."
"Lihatlah Bapak-bapak." Farhan langsung memotong ucapan Farzan dan kembali meyakinkan warga jika dirinya selama ini sudah menjadi suami dan Ayah yang baik.
"Mereka yang tertangkap basah, Mereka yang berselingkuh tapi mereka menuduh ku tidak menjalankan kewajiban ku sebagai Ayah dan suami, Bukankah Bapak-bapak tau jika Aku bekerja jauh-jauh ke Kalimantan untuk memenuhi tanggung jawab ku, Bapak-bapak juga sudah mengenal ku cukup lama, Jadi Bapak-bapak bisa menilai siapa yang berkhianat dan tidak melakukan tanggung jawabnya."
Para warga saling melihat satu sama lain seolah ingin mengetahui pendapat satu sama lain.
"Mas benar-benar licik! Jadi ini tujuan Mas memberitahu ku jika Mbak Shanti pulang? Agar Aku menyusul dan di saat bersamaan Mas menunggu hal ini terjadi?" triak Farzan.
"Kamu salah paham Adik ku. Aku mengatakan itu karena Aku merasa sedih Shanti pulang tanpa mau ku antar sampai ke rumah. Tapi kamu malah mengambil kesempatan ini untuk menyusulnya. Dan... Sekarang Aku jadi merasa curiga apa alasan Shanti tidak mau ku antar karena memang ingin kamu yang menyusulnya? Kalian sudah lama kan menjalin cinta di belakang ku?"
"Ya! Tidak salah lagi... Sekarang tunggu apa lagi Mas Farhan, Biar kami membawa mereka ke Pak Lurah." ujar salah seorang warga.
"Mereka sudah mengotori kampung ini jadi biarkan mereka menerima hukuman yang akan Pak Lurah berikan." saut yang lainnya.
Bu Rahayu hanya bisa menangis sembari memegangi dada'nya yang terasa sangat sesak. Bahkan kedua kakinya juga terasa sudah tidak menapak lagi di lantai hingga lima menit kemudian tubuh rentanya jatuh tersungkur.
"Ibu....!!!" jerit Shanti yang langsung berlari mengangkat kedua bahu sang ibu ke pangkuannya.
__ADS_1
"Ibu... Maafkan Shanti..." tangis Shanti yang melihat ibunya antara sadar dan tidak. Namun Farhan yang melihat itu bukannya iba, Justru ia memisahkan antara anak dan ibu itu dengan membopong tubuh ibu mertuanya dari pangkuan Shanti.
"Bawa mereka ke rumah Pak Lurah, Biar Aku yang mengurus ibu mertuaku!" tegas Farhan.
"Mas! Punya hati nurani gak sih!? Ibu mertua mu adalah ibu Shanti, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada beliau saat Shanti tidak ada di sampingnya?" triak Farzan.
"Bu Rahayu begini karena kalian, Jadi akan lebih baik jika kalian menjauh darinya," ucap Farhan menjeda ucapannya.
"Bapak-bapak bawa mereka dari sini!" tegas Farhan lagi.
Warga pun menuruti perintah Farhan dan masing-masing orang memegangi kedua tangan Shanti dan Farzan.
"Apa lebih penting mempermalukan kami daripada kesehatan Bu Rahayu?" triak Farzan yang sudah di tarik paksa oleh warga.
Mendengar itu Farhan mengabaikan itu semua dan membiarkan Istri dan Adiknya di bawa ke rumah Pak Lurah untuk di adili, Sementara Farhan membawa ibu mertuanya ke dalam dan membaringkan di kamarnya.
Kamar yang bersebelahan dengan kamar yang Fakhri tempati, Membuat bocah enam tahun itu terbangun dari tidurnya karena suara pintu tua yang terbuka. Fakhri yang tidak mendapati sang ibu di sampingnya turun dari ranjang dan keluar mencarinya.
"Ma... Mama..." Fakhri mencari-cari Shanti ke kamar mandi dan dapur. Tidak menemukan Shanti di sana, Fakhri pun masuk ke kamar Simbah nya (Nenek) Fakhri di buat terkejut oleh kehadiran Bapaknya yang berada di kamar Simbah nya. Terlebih melihat Simbah yang terlihat begitu lemah dan kesakitan.
"Bapak.... Kenapa dengan Simbah?"
"Dan kapan Bapak datang?"
"Terus Mama kemana?"
Pertanyaan-pertanyaan dari bocah enam tahun itu membuat Farhan berpikir jawaban apa yang harus ia katakan di depan ibu mertuanya yang masih terlihat setengah sadar.
__ADS_1
Bersambung...