
Setelah cukup lama hanya saling menatap tanpa kata-kata,
Shanti berinisiatif membuka pembicaraan.
"Apa yang dikatakan ibu itu bena?"
"Mama, Kenapa masih bertanya, Siapa lagi yang melakukan ini kalau bukan Om Farzan?" celah Fakhri yang memang telah di beri pengertian oleh Shanti tentang permasalahan mereka.
"Yang ku katakan benar kan Om?"
Farzan hanya tersenyum dan mengusap kepala Fakhri.
"Kamu sudah besar, Sudah semakin pintar." ujar Farzan.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Farzan sembari melirik Shanti.
"Kami baik Om, Om Farzan apa kabar?"
"Baik Sayang."
"Sekarng Om Farzan terlihat sangat keren, Om juga sudah punya mobil," ucap Fakhri melihat mobil hitam di belakang Farzan.
"Hanya mobil murah, Biar gak kehujanan," ucap Farzan merendah.
Kemudian Farzan mengajak Fakhri untuk melihat rumah mereka yang sudah di tinggalkan mereka sejak lima tahun lalu.
Tidak langsung menyetujui, Fakhri menoleh kearah Mamanya seolah menunggu izin darinya.
"Ayolah Mbak, Apa Mbak Shanti tidak ingin melihat rumah ibu?"
Tanpa bisa menolak permintaan Farzan, Shanti mengangguk setuju untuk ikut dengan mereka.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Shanti yang duduk di samping Farzan melihat-lihat dengan kagum mobil yang Farzan miliki, Tapi yang membuat pikirannya resah dan tak bisa berhenti bertanya-tanya "Kenapa Farzan mau merawat makam ibunya selama lima tahun ini, Aakah Farzan tidak menikah, Atau Farzan masih mencintai ku?"
Berbagai macam pertanyaan di benak pikiran Shanti terhenti saat mobil yang mereka kendarai berhenti.
Shanti melihat keluar jendela dan menatap rumah dua lantai yang cukup megah, Sangat kontras dengan ruma di sekitarnya.
Rumah yang dulu menjadi saksi penderitanya kini telah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Hah! Benarkah ini rumah Simbah?" tanya Fakhri yang begitu terperangah melihatnya.
"Itu benar Sayang, Ini rumah Simbah Rahayu, Kamu mau lihat?"
Fakhri mengangguk penuh semangat dan langsung turun dari mobil.
"Kita turun Mbak," ucap Farzan yang kemudian turun terlebih dahulu. Kemudian ia berputar dan segera membukakan pintu mobil untuk Shanti.
Shanti yang secara bersamaan membuka pintu, Membuat keduanya berhadapan tanpa bisa menghindari kontak mata mereka yang beradu. Membuat keduanya merasa canggung seolah baru pertama kali mereka berkenalan.
"Ya..." Farzan mengangguk pada Shanti dan mendahuluinya.
Kemudian Farzan memberikan kunci kepada Fakhri untuk membukanya sendiri.
"Bukalah," ucap Farzan menunjukkan kunci pintu utama.
Fakhri dengan semangat membuka pintu tersebut dan langsung berlari ke dalam, Farzan tersenyum dan berniat mengejar Fakhri. Namun baru beberapa langkah ia masuk, Shanti menghentikannya.
"Untuk apa kamu melakukan ini semua Farzan?"
Farzan menoleh ke belakang menatap Shanti.
"Kita sudah tidak ada hubungan apapun, Kenapa kamu melakukan ini semua?"
__ADS_1
"Untuk menebus semua kesalahan di masa lalu, Untuk membersihkan nama baik mu di hadapan warga yang telah menghakimi mu tanpa belas kasihan."
Shanti terhenyak mendengar apa yang Farzan katakan.
"Dan sekarang Mbak Shanti tidak perlu lagi meninggalkan kampung ini hanya untuk bersembunyi dari mereka karena sekarang nama Mbak Shanti sudah bersih di mata mereka. Aku sudah berhasil membuktikan bahwa Mbak Shanti tidak seburuk yang mereka tuduhkan."
"Bagaimana cara mu membuktikan?"
"Apa Mbak Shanti lupa siapa yang membawa kerja Mas Farhan ke Kalimantan?"
"Pak Husni?"
"Ya, Beberapa hari setelah kepergian Mbak Shanti, Pak Husni pulang kampung, Aku coba bertanya tentang kebenaran tentang Mas Farhan yang menikah lagi saat bekerja bersamanya. Semula Pak Husni menolak untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun setelah sehari di rumah dan mengetahui cerita tentang..." Farzan menghentikan ceritanya karena takut membuat Shanti sedih mengingat masa lalu buruknya.
"Lanjutkan saja Farzan."
"Tentang perpisahan Mbak Shanti dan Mas Farhan membuat Pak Husni menceritakan jika memang benar Mas Farhan telah menikah lagi, Bahkan bukan hanya menikah lagi, Tapi Mas Farhan sudah seringkali begonta ganti wanita sebelum akhirnya menikahi perempuan yang bernama Ajeng."
"Lalu?"
"Lalu setelah Aku memiliki cukup uang, Aku ikut berangkat ke Kalimantan bersama Pak Husni, Untuk mencari bukti dan saksi.
Setelah Aku berhasil mendapatkannya, Aku menunjukkan semua bukti dan menghadirkan saksi di depan seluruh warga desa yang telah di kumpulan oleh Pak Lurah."
"Setelah itu apa yang terjadi?"
"Apa lagi? Mereka memang tidak membenarkan perbuatan kita, Tapi mereka tidak lagi menyalahkan kita sepenuhnya, Mereka tidak lagi memandang kita dengan hina, Bahkan mereka merasa bersalah karena kejadian itu, Ibu mu tiada."
Shanti menatap haru Farzan yang mau bersusah payah membersihkan namanya. Bahkan Farzan rela mengeluarkan banyak uang untuk merenovasi rumah serta rutin mengurus makam ibunya.
Bersambung...
__ADS_1