
Keesokan harinya Shanti dan Farhan sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing, Setelah Farhan pergi mengantar Fakhri ke sekolah dan Shanti selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Shanti bersiap untuk berangkat bekerja.
Ia meninggalkan rumah dan berpapasan dengan Farzan yang tengah mengeluarkan motornya.
Netra mereka bertemu sesaat sebelum akhirnya Farzan memalingkan pandangannya tanpa menyapa Shanti.
Begitu sakit yang Shanti rasakan karena ketika ia telah merasakan cinta dalam hatinya Farzan seolah menjauh darinya.
Ini memang kesalahan Shanti sendiri yang dengan tegas mengatakan agar Farzan tidak lagi mengharapkan dirinya. Namun setelah Farzan menuruti keinginannya, Justru Shanti merasa hatinya begitu tersiksa.
Shanti memberanikan diri untuk mendekati Farzan. Namun baru tiga langkah ia berjalan, Seorang wanita keluar dari rumahnya.
"Maaf ya Mas lama." ujar wanita tersebut.
Bagaikan di sambar petir di siang hari, Shanti begitu terkejut dan semakin merasa tercabik-cabik. Ia semakin merasa penasaran siapakah wanita tersebut yang sejak malam berada di rumah Farzan.
"Apakah setelah semua yang Farzan katakan padanya, Dengan mudah ia menemukan gantinya?" Shanti terus bergumam dalam hati. Ia benar-benar penasaran dan ingin bertanya secara langsung kepada Farzan untuk memperjelas siapa wanita itu dan bagaimana perasaannya kini pada dirinya.
"Gak papa, Udah yuk berangkat." ujar Farzan memberikan helm kepada wanita itu.
Wanita itu mengambil helm dari tangan Farzan dan melihat Shanti yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
"Dia siapa Mas?"
__ADS_1
"Oh, Dia Mbak Shanti, Kakak ipar ku," ucap Farzan datar seolah tak ada lagi perasaan yang tersisa untuk Shanti.
Wanita itu tersenyum dan ingin mendekati Shanti. Namun Farzan melarangnya dan menyuruhnya naik ke motor.
"Nanti kita terlambat," ucap Farzan sembari melirik Shanti.
Wanita tersebut pun akhirnya hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah sembari naik ke motor dengan berpegangan pinggang Farzan yang membuat Shanti semakin terbakar cemburu.
Tanpa perasaan, Farzan membunyikan klakson di depan Shanti hingga membuat Shanti terkaget dan hampir terjatuh ke tepi jalan.
Namun Farzan yang tidak melihat hal tersebut langsung pergi begitu saja tanpa peduli perasaan apa yang tengah Shanti rasakan.
"Aku tidak bisa seperti ini terus, Aku harus mengakhiri semuanya." batin Shanti.
Malam harinya, Shanti yang belum bisa tidur seperti malam-malam sebelumnya menatap Fakhri yang sudah tertidur pulas. Kemudian ia menatap sang suami yang juga sudah memejamkan matanya.
"Apa Mas sudah tidur?" tanya Shanti yang terus menatap kosong ke atas.
"Hmm..." saut Farhan sembari terus memejamkan matanya.
"Besok Aku ingin pulang ke rumah orang tua ku," ucap Shanti.
"Apa!?" Farhan yang terkejut mendengar apa yang Shanti katakan, Terlonjak bangun dan menatap sang istri.
__ADS_1
"Apa yang tadi kamu katakan Shanti? Apa maksud mu ingin pulang ke rumah orang tua mu, Apa kamu ingin kita bercerai?"
Shanti menarik nafas dalam-dalam dan ikut duduk menghadap Farhan. "Beri Aku waktu beberapa hari, Setelah itu akan ku putuskan apakah kita akan bercerai atau tidak."
"Shanti... Apa kamu masih tidak percaya dengan perubahan Mas?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Mas benar-benar berubah atau tidak, Tapi ini masalah hati."
"Hati? Apa kamu tidak mencintai Mas lagi?"
"Sudahlah Mas, Berikan Aku waktu dan izin untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan."
"Ya... Baiklah, Tapi Mas antar yah..."
"Tidak! Biarkan Aku pulang hanya dengan Fakhri."
Farhan terdiam seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Mas tidak mengizinkannya?"
"A-e... Ya. Tentu Mas mengizinkannya, Sekarang tidurlah besok Mas antar kalian ke terminal."
Shanti menganggukkan kepalanya dan kembali berbaring mememeluk Fakhri.
__ADS_1
Bersambung...