
Umpatan tiada henti dari warga sepanjang jalan saat mereka membawa Shanti dan Farzan ke rumah Pak Lurah membuat warga lainnya mengintai dari tirai jendela. Bermula dari satu dua orang yang keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tak lama kemudian warga lain pun berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing.
Kini sepanjang jalan mereka di tonton oleh warga yang ingin tau apa sebenarnya yang terjadi pada mereka bahkan mereka ikut mengiringi Shanti dan Farzan hingga ke rumah pak lurah.
Kasak kusuk warga yang berasumsi dengan pikirannya masing-masing membuat Shanti semakin merasa tak punya muka lagi untuk menatap mereka, Rasa malu yang teramat sangat tidak mungkin bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Tak terkecuali dengan yang Farzan rasakan. Namun ia lebih memikirkan bagaimana perasaan Shanti saat ini, Bagaimana hubungan mereka setelah ini dan bagaima ia akan menjawab pertanyaan yang akan Pak Lurah ajukan pada merey.
Berbagai macam kekhawatiran bersemayam di hati Farzan hingga ia di kejutkan oleh gebrakan meja dari Pak Lurah yang sejak tadi menunggu jawabannya.
"Apa kamu tidak mendengar pertanyaan ku?" tanya Pak Lurah.
"M-maaf Pak, Saya tidak mendengar."
Sorakan dari para warga yang turut berada di ruang tamu, Luar pintu hingga jendela pun bergema memekakkan telinga. Membuat Shanti semakin menyesali apa yang terjadi. Belum lagi kekhawatirannya pada ibunya, Membuat Shanti benar-benar mengutuk dirinya sendiri.
"Tenang-tenang biar Pak Lurah berbicara dulu," ucap salah seorang warga yang membawa Shanti dan Farzan menghadap Pak Lurah.
"Dengar baik-baik, Apakah benar yang di katakan mereka jika kalian telah berbuat mesum di kampung kami?"
Farzan menatap Shanti yang terus tertunduk berderai air mata.
Farzan merasa ragu untuk menjawab karena takut salah bicara dan membuat Shanti semakin malu dan sedih.
__ADS_1
"Kalian masih tidak mau menjawab!?"
Suara lantang Pak Lurah membuat Shanti mengangkat wajahnya dan menoleh kearah Farzan yang belum juga menjawab pertanyaan Pak Lurah.
"Jawab woy jawab, Ngaku aja..." teriakan dari warga kembali mendesak mereka untuk segera mengakui perbuatannya.
Shanti yang tidak bisa mengelak lagi akhirnya mengakui apa yang telah mereka lakukan. Farzan pun shock mendengar pengakuan Shanti dan sangat menyesal karena ia tidak bisa menahan diri sehingga Shanti terkena masalah.
"Jadi benar yang mereka bilang?" tanya Pak lurah kembali memastikan.
"Ya." jawab Shanti singkat.
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu padahal kamu masih memiliki suami?"
Pertanyaan pak lurah kembali memicu kemarahan warga dan kembali meneriaki Shanti dengan caci maki.
Shanti hanya terdiam pasrah. Rasa malu yang semula ia rasakan, Kini berubah menjadi rasa kekhawatiran yang teramat sangat terhadap ibunya yang jatuh pingsan sebelum ia di bawa oleh para warga.
"Bagaimana keadaan ibu sekarang, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibu." batin Shanti yang tidak lagi mendengar teriakan caci maki dari para warga, Jiwanya seakan tidak ada lagi berada di sana hingga Pak lurah memutuskan hukuman untuk mereka pun, Shanti tidak mendengarnya lagi.
••••
Farhan mendekati putranya yang masih menunggu jawabannya.
__ADS_1
Baru saja Farhan ingin menceritakan tentang Shanti kepada Fakhri, Tiba-tiba pekikkan sesak nafas terdengar dari Bu Rahayu. Farhan yang mendengar langsung menoleh ke belakang dan bergegas duduk menghadap ibu mertuanya.
"Simbah kenapa Pak?" tanya Fakhri yang melihat Neneknya sulit bernafas.
Tanpa menjawab pertanyaan Fakhri, Farhan memegang tangan ibu mertuanya dan sedikit meninggikan bantalnya.
"Ibu..." ucap Farhan yang menjadi panik.
Bu Rahayu hanya menggerak-gerakkan bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun suaranya tercekat di tenggorokan seiring nafasnya yang semakin sulit.
Melihat itu, Fakhri histeris dan naik ke atas tempat tidur ke sisi Neneknya.
"Mbah... Mbah... Mbah kenapa, Mbah kenapa Pak?" tanya Fakhri kepada Farhan.
Farhan hanya menggelengkan kepalanya dan mulai merasa takut jika ibu mertuanya akan segera tiada.
"Fakhri tunggu di sini yah, Bapak akan panggil tetangga dulu," ucap Farhan yang bergegas lari mencari pertolongan.
Beberapa menit kemudian Farhan kembali bersama beberapa warga. Namun ia sudah terlambat karena Bu Rahayu sudah tidak lagi bernafas.
"Simbah kenapa Pak, Kenapa Simbah diam saja?" tanya Fakhri.
"Simbah sudah tiada nak." Farhan menatap kosong ibu mertuanya yang sudah terbujur kaku sembari mengusap kepala Fakhri.
__ADS_1
Di saat bersamaan Shanti dan Farzan tengah menerima hukuman dari warga di arak keliling kampung dengan rambut yang sudah di gunting asal-asalan hingga nyaris botak.
Bersambung...