Bukan Niatku Selingkuh

Bukan Niatku Selingkuh
Pulang Kampung


__ADS_3

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Shanti yang sudah berpamitan kepada Bulek Wati dan Paklek Wanto di minta Farhan untuk berpamitan pada Farzan. Namun dengan cepat Shanti langsung menolaknya.


"Kenapa?" tanya Farhan.


"Nanti kita terlambat, Lagipula sepertinya Farzan belum bangun." ujar Shanti beralasan.


Farhan melihat rumah Farzan yang memang masih tertutup tak ada tanda-tanda Farzan sudah bangun.


"Kamu benar, Sepertinya dia belum bangun, Kalau begitu ayo kita berangkat."


Shanti mengangguk dan dengan berat hati melangkah pergi dengan terus melihat rumah Farzan.


"Shanti... Apa yang kamu lihat?" tanya Farhan yang melihat Shanti terus menoleh ke belakang.


"E... Tidak, Ayo."


Farhan pun dengan penuh perhatian memakaikan helm kepada Shanti. Kemudian ia membopong tubuh Fakhri ke motor bagian depan.


"Sudah siap?" tanya Farhan menoleh ke belakang melihat Shanti yang sudah naik.


"Ya." saut Shanti singkat.


Sepanjang perjalanan menuju terminal, Shanti hanya bisa memikirkan Farzan yang tidak bisa ia lihat sebelum ia pergi.


Meskipun sikap dan tutur kata Farhan begitu lembut. Namun semua itu seakan sudah terlambat karena kini di hati dan pikiran Shanti hanya ada Farzan, Sang adik ipar yang kini bersikap begitu dingin padanya.

__ADS_1


"Hhhhuuuuffffttt..." Shanti menarik nafas dalam-dalam menepis keresahan hati dan pikirannya. Ia sudah bertekad untuk pulang ke rumah orang tuanya untuk mencari jawaban atas permasalahan di hatinya.


"Mungkin dengan menjauh dari mereka semua, Aku bisa menentukan pilihan hatiku, Apakah Aku harus terus bersama Mas Farhan demi Fakhri atau meminta penjelasan dari Farzan bagaimana perasaan sebenarnya kepada ku, Atau malah tidak keduanya." Shanti terus bergumam dalam hati.


Sesampainya di terminal, Farhan menyuruh Shanti dan Fakhri duduk di ruang tunggu, Sementara itu ia membeli tiket untuk dua kursi.


"Apa kamu yakin tidak ingin di antar sampai ke rumah?" tanya Farhan memastikan.


"Tidak Mas."


"Kenapa kamu begitu keberatan Aku ikut dengan mu, Apa kamu belum benar-benar memaafkan ku?"


"Aku sudah memaafkan mu Mas, Tapi sekarang Aku meminta waktu, Jika semuanya membaik Aku akan menelfon Mas untuk menyusul kami." ujar Shanti sembari mengusap kepala Fakhri.


"Ya sudah ayo naik ke Bus, Kalian tunggu di dalam saja." titah Farhan membawakan tas pakaian mereka.


Shanti dan Fakhri pun naik ke atas dan mengambil kursi sesuai nomor yang tertera di tiketnya.


Setelah bus terisi penuh, Farhan pamit turun. Tak lupa ia mencium kepala putra semata wayangnya tersebut. Kemudian Farhan mengulurkan tangan kepada Shanti dan langsung di sambut dengan hormat olehnya.


"Baiklah kalau begitu kalian hati-hati ya, Kabari kalau sudah sampai."


"Iya Mas."


Setelah berpamitan. Farhan pun langsung meninggalkan terminal dan melaju cepat dengan motornya yang sudah mati pajak.

__ADS_1


Begitu sampai ke rumah ia bergegas ke rumah Farzan melalui pintu belakang.


Farzan yang tengah bersiap berangkat kerja terkejut melihat Farhan yang tiba-tiba ada di rumahnya. "Mas Farhan, Ada apa kemari?" tanya Farzan yang sejak kakaknya kembali pada Shanti tak pernah lagi bertegur sapa.


"Apa kamu sudah benar-benar melupakan perasaan mu kepada Shanti?"


Mendengar pertanyaan Farhan, Farzan terdiam sejenak.


"E... Kenapa Mas menanyakan itu, Bukankah sejak Mas kembali pada Mbak Shanti Aku tidak lagi ikut campur urusan kalian?"


"Ya itu benar, Makanya sekarang Aku ingin tau, Bagaimana reaksi mu jika mengetahui Shanti telah meninggalkan ku dan kembali ke rumah orang tuanya?"


"Apa!?" Farzan begitu terkejut dengan apa yang Farhan katakan.


"Ya, Meskipun Shanti mau kembali pada ku, Tapi hatinya tidak lagi untuk ku, Dia terus saja melamun dan sedikit bicara kepada ku, Meskipun dia tidak mengatakan apa yang tengah ia pikirkan, Tapi Aku tau betul jika dia sedang memikirkan mu."


"Apa yang Mas katakan, Mbak Shanti tidak pernah mencintai ku. Bahkan terakhir kali sebelum Mbak Shanti memutuskan untuk kembali kepada Mas, Dia memintaku untuk menjauh dan tidak ikut campur dengan urusannya.


"Apa kamu pikir kata-kata perempuan bisa di percaya? Mulut mereka bisa saja mengatakan tidak padahal dalam hatinya berkata iya, Mereka bisa mengatakan menjauhlah padahal mereka ingin kita mendekat. Mereka sering kali mengatakan hal berbeda dari apa yang mereka inginkan. Kita sebagai laki-laki harus peka memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan."


Farzan terhenyak mendengar apa yang Farhan katakan.


"Apa sebenarnya tujuan Mas Farhan mengatakan ini kepada ku?" batinnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2