
Seolah hukuman yang di berikan masih belum cukup hanya dengan mengarak keliling kampung, Kini para warga menuntut Pak Lurah menyuruh Shanti dan Farzan berdiri di tengah lapangan hingga pagi.
Meskipun pada awalnya Pak Lurah keberatan namun karena desakan dari warga, Akhirnya Pak lurah pun menyetujui permintaan para warganya. Namun baru saja Pak Lurah selesai memerintahkan itu. Salah seorang warga berlarian menyusup di antara warga yang tengah menyaksikan hukuman Shanti dan Farzan.
"Permisi Pak Lurah," ucap warga tersebut.
"Ada apa?"
"Maaf Pak lurah, Saya kesini mau menyampaikan jika Bu Rahayu meninggal dunia."
Shanti yang mendengarnya begitu shock hingga hanya air mata yang mampu bicara. Begitupun dengan Farzan dan Pak Lurah yang turut sedih mendengarnya.
Tanpa mempedulikan hukuman yang tengah mereka jalani, Shanti mendorong tubuh Pak Lurah dan berlari meninggalkan lapangan dengan jeritan memanggil ibunya.
"Mbak Shanti..." Farzan pun ikut berlari mengejar Shanti. Sementara Pak Lurah dan para warga tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya pergi karena rasa iba di hati masing-masing.
Begitu sampai rumah, Shanti langsung berlari menuju kamar ibunya.
Langkahnya terhenti di ambang pintu dengan nafas yang memburu,
Netranya hanya tertuju pada jasad ibunya telah terbujur kaku di tempat tidur hingga dua orang warga, Farhan hingga Fakhri yang berada di sisi ibunya seolah tak terlihat di matanya.
"Mama..." tangis Fakhri yang kemudian turun dari tempat tidur dan berlari ke arah Shanti. Namun Shanti mengabaikan bocah berusia enam tahun itu dan melangkah mendekati ibunya.
Farhan pun terdiam melihat keadaan Shanti yang sedemikian rupa akibat hukuman yang baru saja ia alami, Bukan itu saja, Bahkan kini Shanti terlihat seperti mayat hidup dengan sikap dinginnya yang hanya menatap ibunya tanpa berkata-kata.
Farzan yang baru sampai berhenti di depan Fakhri yang menangis,
Kini bocah berusia enam tahun itu bukan hanya menangisi Neneknya yang telah tiada, Namun ia juga menangis melihat potongan rambut Mamanya yang begitu pendek seperti laki-laki.
"Apa yang terjadi dengan Mama dan Om Farzan, Kenapa Mama dan Om rambutnya di cukur acak-acakan begitu?"
__ADS_1
Farzan yang tidak tau harus menjawab apa pada Fakhri hanya memeluk keponakannya tersebut.
Kini semua orang melihat Shanti yang masih mematung menatap ibunya. Seperti masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Setelah beberapa menit kemudian Shanti menjerit histeris memeluk ibunya.
"Ibuuuuuuuuuu..." tangis Shanti.
Hatinya begitu pilu menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya, Dimana saat ia menerima hukuman dari para warga di saat bersamaan ibunya meninggalkan dirinya selamnya.
Shanti sungguh menyesali perbuatannya yang membuat malu ibunya . Selain itu ia juga begitu menyesal karena di saat-saat terakhir ia tak ada di sisi ibunya.
Farzan memejamkan mata merasakan kepiluan yang sama.
Ia tidak kalah menyesalnya dari Shanti. Karena nafsu sesaat yang tidak bisa ia kendalikan, Membuat wanita yang ia cintai harus menerima hukuman dan kehilangan ibunya.
Sementara Farhan hanya menatap kosong Shanti. Ada sedikit penyesalan di hatinya karena dirinya Shanti menerima semua ini.
"Shanti... Ikhlaskan ibumu, Mungkin dengan ini ibu tidak akan pernah merasa sakit lagi."
Mendengar itu, Shanti mengangkat sedikit kepalanya dengan rahang yang mengeras, Kedua tangannya mengepal menahan amarah di hatinya.
"Shanti... Ibu mu harus segera..."
"Diamlah Farhan!!!" hardik Shanti.
Mendengar Shanti yang baru pertama kalinya menyebut namanya secara langsung membuat Farhan begitu shock. Ia tidak pernah menduga Shanti yang selama sepuluh tahun pernikahan begitu patuh dan menghormatinya kini terlihat begitu menakutkan.
"Sudah cukup selama ini Aku diam, Tapi sekarang tidak lagi.
Cukup Farhan.. Cukup!!!"
__ADS_1
Farhan hanya diam melihat kemarahan Shanti, Kemarahan yang belum pernah ia lihat selama mereka menikah.
"Selama sepuluh tahun lebih Aku hanya diam meskipun kamu tidak memenuhi tanggung jawab mu, Bahkan hingga kemarin saat kamu memiliki wanita lain Aku masih memaafkan mu dan memilih untuk kembali demi Fakhri. Tapi hari ini... Karena ulah mu Aku tidak bisa menemani ibu ku di saat-saat terakhirnya."
"Shanti..." lirih Farhan mencoba mendekati Shanti.
"Jangan coba mendekat! Pergilah dari sini karena Aku tidak ingin lagi melihat mu maupun memiliki hubungan apapun lagi dengan mu!"
"Apa yang kamu katakan Shanti?"
"Pergilah dari sini Farhaaannnn!!!" triak Shanti.
Melihat para warga yang mulai berdatangan, Farhan yang merasa malu, Pergi meninggalkan kamar.
Setelah kepergian Farhan, Tanpa sengaja pandangan Shanti dan Farzan beradu, Farzan mencoba mendekat. Namun baru beberapa langkah, Shanti juga melarang Farzan mendekatinya.
"Kamu juga Farzan," ucap Shanti dingin.
"Apa?"
"Apa masih tidak jelas?"
"Pergilah dari rumah ku, Dari hidup ku, Karena Aku juga tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengan mu!!!"
"Mbak Shanti..."
"Pergilah Farzan!!!"
Seperti halnya Farhan, Farzan pun pasrah dan pergi meninggalkan rumah Shanti.
Bersambung...
__ADS_1