Bukan Salahku Part 1 : Mengkhianati Mu

Bukan Salahku Part 1 : Mengkhianati Mu
Bab.11


__ADS_3

^^^26, februari, 23 ^^^




Para suster membawa Elina yang mendorong kasur tersebut ke ruangan lain. Suster sudah sampai di ruangan baru, sedangkan Dante memilih untuk menuggu di luar.


SSetelah suster keluar Dante masuk ke dalam melihat Elina sedang makan. " O...Dante " senyum Elina. " ☺ " senyum Dante menghampiri dan mencium kening Elina.


" Kenapa..., apa yang kamu lakukan. " Elina bersemu merah. " Hha....☺." Tawa Dante. " Aku mengkhawatirkan mu, kamu harus cepat sembuh. " Mengambil sendok di tangan Elina dan mengambil makanan untuk menyuapi nya.


" Buka mulutmu..." Titahnya. Elina membuka mulutnya dan menerima suapan Dante dan mengunyah nya. " Apa Radit yang...." Diam dan menunduk.


" Bukan..., tapi orang lain " jawabnya. " Apa..., jika bukan Radit siapa? "

__ADS_1


" Aku juga berpikir juga Radit, tapi bukan....Pasti orang lain yang tidak suka padaku, maaf Elina Aku malah menyusahkan mu. "


" Tidak..., kenapa bicara seperti itu. " Memegang tangan Dante. " Justru.., seperti kebalikannya aku yang selalu menyusahkan mu. " Lirihnya.


" Kenapa kita berdebat soal menyusahkan siapa. " Ujarnya. " Hhaha...." Tawa keduanya. " Kembalilah sehat hmm..." Mengelus perut Elina.


" Aku tidak mau melihat mu terbaring di sini."


" 😐..., maafkan aku " ujarnya memegang tangan Dante diperut nya. " Kenapa?..." tanda tanya. " Aku tidak melihat mu, menyia-nyiakan mu, aku menyesal dengan pilihan ku. " Ucapnya melihat Dante.


" Jangan bilang seperti itu. " Mendekat dan mencium bibir Elina lembut. " Mm..." Melepas ciuman dan menahan dada Dante. " Kenapa..." Tanyanya. " Aku baru sembuh, takut kamu tertular. " Ucapnya.


"Ada apa kemari...."Tanya dingin Dante. Elina memegang tangan Dante, sang empu tersenyum dan melepaskan tangan Elina.


" Elina baru siuman, bukan waktu kunjungan..." Menatap dingin Radit dengan bersedekap dada. " Aku ingin bicara berdua dengan Elina, tanpa dengan mu. " Ucap Radit.

__ADS_1


" Bicaralah, aku tidak mau bicara empat mata dengan mu. " Tutur Elina. " Aku tidak ada niat jahat datang kemari. " Melihat Dante dan Elina.


" Ada apa " tanya Elina. " Segeralah daftar perceraian kita ke pengadilan, agar kalian cepat menikah. " Senyum nya melirik Elina dan Dante.


" Berkacalah, bukan kami saja yang salah disini. " Sahut Dante. " Aku lupa..., begitu saja, Elina....Aku nantikan surat dari pengadilan darimu. " Ujarnya sambil tersenyum dan berlalu keluar.


" Ada apa dengan nya, kenapa menyuruh mu yang daftar. " Kesal Dante. " Jangan pikirkan tentang perceraian, Elina fokus pada kesehatan mu. " Bawel Dante duduk di tepian kasur rumah sakit.


" Hha...., kamu lucu sekali bawel, tenang saja aku akan fokus untuk kesehatan ku dulu. " Senyumnya mengelus pipi Dante. "


" Aku ingin tanya sesuatu, jawablah dengan jujur. " Tanya Elina. " Apa..., tenanglah. " Ujar Dante. "Apa..., anak ini bayi kita berdua. " Melihat Dante sambil memegang perutnya.


" Apa...." Kagetnya. " Kenapa pertanyaan mu seperti itu. " Ucap gugubnya. " Hah..., berarti benar kamu memang ayah dari bayi ini. " Lirihnya menunduk.


" Ba....Bagaimana kamu tahu. " Tanya balik. " Aku baru ingat setelah pertengkaran ku dengan Radit, dia tidak mengakui bayi ini adalah anaknya. " Melihat Dante. Hiks....Setelah menaiki mobil aku ingat aku dan Radit baru melakukannya sekali dan Radit menyuruhku untuk KB, aku tidak terlewat untuk suntik KB, dan mendekati hari party kolega mu aku baru ingat telat KB. " Melihat Dante.

__ADS_1


" Elina " memegang tangan Elina lembut. " Jangan salah paham Dante, aku bicara seperti ini, bisakah kamu ceritakan apa yang terjadi di sudut pandang mu. " Pintanya.


" Apa kamu menyesal mengandung bayiku. " Tawanya mengemgam erat tangan Elina. " Jika iya.., tidak mungkin bayi ini masih ada di dalam rahim ku. " Senyum Elina. " Hha.." Tawa Dante. " Muach..." Mencium perut buncit Elina.


__ADS_2