
^^^14, februari, 23^^^
●
●
" Kamu sudah tidur " tanya Radit saat kembali ke kamar.
Elina tidak menjawab dan pura-pura tidur saja, lengannya mencengkeram kuat selimut. Radit tidak bertanya lagi dan naik keatas kasur dan mengambil handphone nya.
" Apa yang sedang Sonya lakukan sekarang, hha " tawa pelannya.
Paginya....
Radit turun ke lantai dasar dan melihat Elina yang tengah sarapan. " Pagi...." duduk di depan Elina. " Ada apa dengan mu " melihat wajah Elina. " Apa yang ingin kamu sampai kan "tanya Elina dingin.
" Hha...kenapa dengan wajah mu " diam dan melihat wajah serius Elina. " Aku tidak sengaja melihat pesan dari ponsel mu " ucapnya.
" Kamu melihat semuanya " kaget Radit. " Tidak " bohong nya. " Syukurlah, lain kali jangan lihat ponsel ku tanpa seizin ku ya " minum kopi.
" Kamu belum menjawab pertanyaan ku " tutur Elina menggemgam erat jas miliknya. " Pesan lelucon saja, kamu jangan cemburu begitu ya " Radit makan dengan lahap.
__ADS_1
" Aku pergi, ada rapat " ucapnya pergi begitu saja. " O...kamu tidak melewatkan sesuatu " ucapnya dengan nada tinggi. " Hah...sudahlah " abainya. Elina keluar dari rumah dengan berjalan terburu-buru naik mobilnya.
KANTOR DANTE
" Batalkan perjalanan keluar negeri ku " ucapnya pada orang di sebrang telp.
Ceklek...
" Elina.." menutup telpon dan menghampiri Elina. " Kamu mau pergi meniggalkan ku juga " ucap lirihnya melihat Dante.
" Elina kamu mendengarkan ku saat menelpon " tanya-nya. " Aku tidak sengaja...." jawabnya. " Kenapa?..., kamu sudah tidak menganggap ku teman lagi " ujarnya.
" Mengapa..." tanyanya. " Karena apa " ujarnya.
" Karena mu Elina " teriaknya. " A...apa yang kamu katakan " ucap Elina gugub.
" Hah.., kamu masih tidak mengerti juga " melihat intens Elina. " Aku memilih tetap disini karena mu, aku memilih disisi mu karena mu juga. Kamu belum menyadari hal itu. " Ucapnya dengan mengatur nafas.
Elina diam dan masih melihat wajah Dante yang berkeringat dan wajah merahnya. " Apa kamu sudah mengenal ku lebih dalam " tanya nya.
" Kamu temanku si kutu buku " jawabnya tidak gugub. " Ch..si kutu buku " menatap kecewa Elina.
__ADS_1
" Saat SMA aku mencintaimu Elina, dan sampai sekarang masih tetap sama. Apa yang kamu pikirkan tentang ku hah....masih tetap sama Teman, keluar " menujuk pintu.
" Dante tolong dengarkan aku " ujarnya. " Keluar " teriaknya dengan ngos-ngosan.
Deg entah perasaan apa saat ini Elina merasa tidak enak dengan jantung nya. Elina perlahan mundur dan melihat Dante tidak melihat nya. Sekali lagi Elina menangis dalam diam keluar dari ruangan Dante.
" Hah...hah "mengatur nafas. " Apa yang aku lakukan, Elina sedang hamil bisa-bisa dia stres..., bodoh kamu Dante " memegang kepala dan keluar dari ruangan.
" Elina..." panggilnya tidak melihat Elina di meja kerja.
Sementara itu Elina di tangga darurat duduk di salah satu anak tangga, kembali mencerna ucapan Dante tadi. Elina kembali flasback ke masa SMA sampai sekarang.
Dulu Dante kutu buku dengan khas rambut klimis dan berkacamata, menjadi teman nya saat dirinya di masa sulit, dan bahkan selalu membelanya saat di rundung siswi lain.
Sering memberinya semangat yang tidak penting. Saat kuliah penampilan Dante berubah bukan si kutu buku lagi, seperti mahasiswa lain lebih santai hanya saja tubuh Dante lebih atletis.
Prilaku dan perhatian nya beda saat SMA, Elina benar-benar tidak peka dengan kode Dante yang di tunjukkan padanya. Malah dirinya mengenalkan Radit yang tidak tahu siapa mudah jadi pacar nya.
Elina sekarang mengerti dan ingat masa-masa dulu dengan Dante yang menerimanya apa adanya.
" Hiks.."menghapus air mata. " Hah....maaf Dante jika aku terlambat menyadari nya " berdiri dari duduknya. " Elina..." panggil Dante.
__ADS_1