
^^^27, februari, 23^^^
●
●
" Maaf kelalaian ku untuk menjaga mu, aku kecolongan ada yang ingin menjebak mu, seseorang ingin meniduri mu. " Ucapnya.
" Siapa dia..., aku tidak mengingat nya. " Berpikir. " Di dalam pikiranku, orang yang sama " Ucap Dante.
" Orang yang sama, orang yang membenci mu atau kolega mu? " bingung nya. " Hah..., aku yakin mereka bukan orang yang sama. " Ucap Elina.
" Maksud mu..." Bingung Dante. " Bisa jadi bukan keduanya.., tapi " melihat wajah Dante. " Apa?..." Dante menuggu jawaban Elina.
" Maaf jika aku menyembunyikan ini lama, aku takut kamu terluka mendengar nya. " Apa...., siapa orangnya. " Penasaran Dante. " Paman.., ya paman. "
__ADS_1
" Paman?....,paman siapa " Dante tambah bingung. " Paman Benzo " ingatnya. " Aku tahu rahasianya tanpa sengaja, dia menginginkan mu meniggal untuk warisan ayahmu. "
" Apa..." Kagetnya. " Elina kamu, itu berbahaya untukmu bertemu dengan paman, dia gila...." Gumamnya. " Kamu ingat paman mu.." Tanyanya.
" Ya....Sejak kecil ayahku dan paman selalu bertengkar entah masalah apa, dan lebih mengejutkan lagi kedua orangtua ku meniggal karena perintah paman ku. " Lirihnya.
" Bisa jadi paman Benzo memanipulasi kejadian itu pada beberapa kolega mu. " Ucap Elina. " Apa...." Tanyanya. " Untuk melecehkan mu, mungkin saja paman tahu kamu mencintai ku, dan ingin merusakku untuk mendapatkan sesuatu darimu. " Ujarnya.
" Surat wasiat ayah ku...." Mengambil telpon dan menelpon orang suruhan nya.
" Hah..., hah..., saya terlambat untuk masak tuan. " Ucap Franda melihat tuannya. " Apa peduli ku, kamu harus menuruti ku saat aku butuh des**an mu di bawah kungkungan ku, kamu tidak rugi aku membayar mu. " Menarik tangan Franda untuk bangun. " Menu**in*lah...." Titahnya. Franda terpaksa menu**ing dan tuanya yang gila Se* ini terpuaskan.
Kring....Kring....
" Aish.., menganggukku saja. " Menampar Franda. " Ahh..." Sakitnya. " Pergilah...." Menarik selimut dan mengangkat telp dari asistenya.
__ADS_1
" Apa...." Ucapnya tertegun. " Ch...., keponakan ku itu pintar sekali, siapkan mobil kita kerumah...Dante. " Menajamkan pandangan-nya pada photo keluarga-nya. Termasuk memandang photo kakak-nya dan kakak ipar. " Lihatlah apa yang aku lakukan pada putra kalian. " Senyum iblisnya.
Kediaman Dante
Dante saat ini berada di rumahnya melihat banyak flasdist di laci kerja ayahnya. Entah apa itu barang bukti atau apa. Tapi Dante begitu penasaran dan ingin melihat-nya.
" Apa-apaan ini...." Kaget Dante melihat isi flasdist tersebut.
Mobil rombongan Benzo memasuki rumah yang di tinggali Dante. Dengan gagahnya keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
" Benzo..., itukah kamu. " Ucap Oma. " Ibu..., ibu terlihat sehat. "Menyalami tangan ibunya. " Jangan apa-apa kan cucuku. " Melihat putranya.
" Hah...., padahal ibu sudah pikun. " Ucapnya berjalan ke ruang tamu. Dante keluar dari ruang kerjanya dengan membawa Flasdist yang di sembunyikan ayahnya.
" Ibu buatkan kopi, minumlah...." Titah Oma. " Ibu..., apa aku masih jadi putra ibu, setelah aku membunuh putra ibu yang satunya lagi. " Menyeruput kopi.
__ADS_1
" Ibu membenci keputusan mu untuk memilih mengakhiri kakak mu, hiks..., ibu tidak pernah membenci putra-putra ibu, dengarlah nak..., ibu dan ayah kalian sangat menyangi kalian berdua. Hanya tinggal dari keputusan kalian menanggapi kasih sayang ayah dan ibu. " Ujarnya berlalu pergi.