Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku

Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku
Temanku, Jendra


__ADS_3

Arana Dwi Pangestu, kalian bisa memanggilnya Ara. Ia terlahir dari keluarga kaya raya. Kedua orang tuanya merupakan seorang pengusaha sekaligus pemilik brand baju ternama di dunia.


Sudah dipastikan sejak kecil bahwa Arana lah pewaris dari seluruh kekayaan orangtuanya.


Tahun ini Arana genap berusia 18 tahun. Ia masih menduduki bangku SMA kelas 3, yang berarti tahun depan Arana akan segera lulus dan menginjakkan kakinya ke dunia perkuliahan.


Di sekolahnya Arana merupakan anak yang sangat gemar bersosialisasi, jadi tak heran jika semua orang-orang di sekolah mengenali Arana.


Tetapi dari sekian banyaknya teman Arana, yang hanya kenal dekatnya hanyalah satu yaitu, Rajendra Zayan Abraham biasa di panggil Jendra.


Singkatnya mereka kenal sejak masih duduk di bangku SMP. Awalnya hanya teman sekelas biasa, tapi setelah mengetahui bahwa mereka memiliki hobi yang sama Jendra pun mulai sering mengajak Arana mengobrol dan bermain bersama, pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi teman dekat.


Mereka selalu menghabiskan waktu bersama kala libur sekolah. Banyak hal yang telah dilalui bersama-sama, tetapi hal-hal itu tidak membuat Jendra berubah untuk menjadi lebih terbuka pada Arana. Pasalnya, selama ini Arana lah yang sangat terbuka dan sering bercerita tentang kehidupannya pada Jendra, tetapi tidak sebaliknya.


Selama mereka dekat, Jendra tidak pernah sedikitpun menceritakan tentang bagaimana kehidupannya, Jendra tidak pernah menceritakan bagaimana keluarganya kepada Arana. Setiap Arana meminta Jendra untuk bercerita, Jendra selalu saja bisa mengalihkan topik pembicaraan. Bahkan, letak rumah Jendra pun Arana tidak tahu. Karena selama ini yang menjadi tempat ia dan Jendra bermain adalah rumahnya.


Arana bingung, apakah sebenarnya Jendra menganggap ia sebagai temannya? Jendra mengetahui segalanya tentang Arana, tapi tidak dengan Arana.


Arana sangat ingin mengetahui bagaimana sosok Jendra sebenarnya. Mulai dari keinginannya untuk tahu dimana rumah Jendra, siapa orang tua Jendra dan apa alasan Jendra menyembunyikan semua itu dari Arana.


Biasanya Arana akan memohon agar Jendra mau mengajaknya ke kediaman keluarga Abraham. Seperti saat ini, Arana berusaha membujuk Jendra agar kerja kelompok kali ini diadakan di kediaman Jendra.


"Ndra, kerjainnya di rumah lo aja yaaa," bujuk Arana


"Kan kita belum pernah tuh kerja kelompok di rumah lo." Lanjut Arana.


"Gak." Arana menggeleng cepat mendengar jawaban Jendra.


'Pokoknya hari ini gue harus dateng ke rumah Jendra titik!' Pikirnya keras kepala.


"Lo gak bosen apa ngerjain tugasnya di rumah gue mulu," Jendra tersenyum kecil lalu berujar,


"Lo juga gak bosen apa bujuk-bujuk gue mulu." Arana mendengus pelan, kenapa Jendra sengeselin ini sih huh.


" Ya nggak lah, ngapain bosen."


"Sama dong berarti, gue juga gak bosen tuh ngerjain tugas di rumah lo terus," ucap Jendra dibarengi oleh kekehan.


"Ah lo ngeselin!" Arana membuang muka.


Melihat Arana yang mulai kesal rasanya Jendra tidak bisa untuk tidak tertawa, lantaran muka kesal Arana sangat-sangat lucu bagi Jendra.


"Jendra, gue serius!" Seru Arana.


"Serius apa, Arana?"

__ADS_1


"Serius kalo gue pengen tahu rumah lo dimana.“


" Kenapa pembahasannya itu lagi sih, Ra."


"Karena cuman itu pembahasan yang belum kita selesaiin!"


"Pembahasannya emang gak akan ada penyelesaian, Arana."


"Kenapa?"


"Ntah lah, gue gatau," Jendra berdiri dari duduknya, ia melangkahkan kakinya menjauhi tempat Arana berada.


"Jendra, tungguin gue!" Arana bergegas menyusul Jendra yang mulai menjauh.


"Kok lo ninggalin gue sih?" Tanya Arana sembari mensejajarkan langkah dengan Jendra.


Bukannya menjawab, Jendra malah balas bertanya.


"Lo masih mau bahas itu?“


"Lo marah? Maaf Jen, gue pasti udah keterlaluan ya," Arana mengucapkan kata maaf lantaran ia sadar, jika ia telah bersikap keterlaluan pada Jendra.


"Gak usah minta maaf juga kali, toh lo gak salah apapun."


"Gue salah, Jendraa."


"Selalu aja kaya gini. Lo yang marah, lo juga yang minta peluk!" Gerutu Arana pelan.


"Ini kan juga buat bikin lo tenang," Jawab Jendra dengan santainya.


"Oya, soal tugas kelompok-" belum selesai Jendra berbicara, Arana sudah terlebih dahulu menyerobot mengatakan bahwa tugas kelompok itu biar di kerjakan di rumahnya saja.


"Arana, kalo orang lagi ngomong tuh jangan di potong dulu!" Ingat Jendra.


"Ah iya, maaf ya Jendra hehehe."


Jendra menggeleng maklum sembari melepaskan pelukannya.


"Setelah dipikirin baik-baik kayanya kerja kelompok hari ini kita ngerjainnya di rumah gue aja," Jendra melenggang pergi setelah melanjutkan perkataannya yang sempat terpotong oleh Arana.


Arana terdiam sejenak, memikirkan tiap-tiap kata yang keluar dari bibir Jendra.


"Jendra lo gak bohong?!" Tanya Arana dengan sedikit berteriak.


"Ara berisik! Ini kita lagi di parkiran ya." Arana tak menanggapi ocehan Jendra, ia malah tersenyum penuh kegembiraan. Jendra sedikit melirik ke arah Arana, guna melihat ekpresi yang ditampilkan oleh orang itu.

__ADS_1


'Konyol.' Pikir Jendra dalam hati.


"Jendra, Jendra, beneran kan lo ngajakin gue buat ke rumah lo?" Arana bertanya memastikan setelah ia berada di dalam mobil Jendra.


"Menurut lo aja gimana."


"Tuh kan, lo bohong!"


"Yaampun Arana, gue gak bilang gue bohong ya."


"Jadi bener?!" Saut Arana penuh semangat.


"Ya iya." Arana mengangguk antusias, lalu memerintahkan Jendra untuk menjalankan mobilnya agar mereka cepat sampai.


Hanya membutuhkan waktu satu jam untuk mereka sampai di kediaman keluarga Abraham. Megah dan indah, kata pertama yang Arana pikirkan tentang rumah Jendra.


"Jangan banyak tanya, ayo kita masuk." Arana berdehem kecil, mengisyaratkan kata 'ya'.


Mereka berjalan ke depan memasuki bangunan megah itu.


'Tak ada yang aneh, lantas mengapa Jendra sangat menentangnya untuk datang kesini?' Arana terus berpikir demikian sejak memasuki kediaman Abraham.


"Bokap lo kemana, Jen?" Jendra diam tak menjawab.


Arana melirik kearah Jendra sebab ia terus saja diam, tak menjawab.


Saat ingin bertanya lebih lanjut, tiba-tiba saja ada sesosok pria paruh baya yang datang menghampiri mereka. Arana mendongakkan kepalanya agar bisa melihat orang itu dengan jelas.


'Tampan.' Lirih Arana dalam hati.


"Dia siapa, Jendra?" Ujar pria paruh baya dengan dingin.


"Teman saya, Arana." Lalu Jendra menarik tangan Arana untuk mendekat.


"Jangan ganggu kami, kami akan mengerjakan tugas bersama disini." Lanjut Jendra.


Tanpa berbasa-basi lagi, Jendra segera menuntun Arana pergi meninggalkan pria paruh baya itu.


Arana diam, menuruti Jendra. Sesampainya mereka di kamar Jendra, barulah Arana bersuara.


"Dia siapa, Jen?" Pertanyaan serupa dari orang yang berbeda.


"Bokap gue. Lo jangan ketipu sama tampangnya, Ra." Bukan tanpa sebab Jendra berujar demikian. Pasalnya, ia dapat melihat bagaimana pancaran kekaguman yang ada pada mata Arana saat Arana menatap sang ayah.


"Kenapa?"

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2