Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku

Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku
Bertemu tanpa sengaja


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Jendra duduk tepat di samping Arana, mengelus punggung kecil itu penuh kasih.


Tak berselang lama, elusan tangan Jendra terhenti, tergantikan dengan sebuah pertanyaan yang mampu membuat dada Arana berdebar hebat.


"Oh iya Ra, kemaren lo ngomong apa sama bokap gue?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hah?"


"Ngomong apa sama bokap gue?" Jendra menghela nafas, mengulang kembali pertanyaannya.


"Oh, gak ngomong apa-apa tuh." Arana bangkit, ia mendorong Jendra pelan agar Jendra tidak duduk bersamanya dan berhenti melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga.


Jendra tetap pada posisinya, dirinya enggan untuk beranjak. "Dih, ngapain dorong-dorong segala?"


Arana diam sejenak, berdo'a dalam hati supaya Jendra segera pergi.


"Bentar lagi Bu Reta masuk, lo harus cepetan duduk di bangku lo sendiri!" Arana beralasan.


Jendra tak beranjak, ia memilih melirik jam yang melingkar di tangan kanannya.


"Hm? Baru jam setengah tujuh kok, Bu Reta masuk jam tujuh lima belas, itu juga kalo dia tepat waktu. Ini lo sengaja ngusir gue?" Jendra mendelik tajam pada Arana. Sedangkan Arana hanya tersenyum kikuk melihat tatapan yang Jendra berikan.


"Oh iya ya? Haha gue salah liat jam berarti. Siapa juga yang berani ngusir lo, mana berani gue," Arana berucap sembari kembali duduk.


"Alesan! Lo belum jawab pertanyaan gue ya!" Jendra merotasi kan mata, malas melihat tingkah Arana.


"Apa? Pertanyaan apa ya, Jen?" Arana bertanya dengan tampang polos.


"Ck, lo ngomong apa sama bokap?" Tanya Jendra ketiga kalinya.


"Oh itu, apa ya. Hhhmm gue ngomong apa ya. Duh lupa, Jendra." Arana berakting seolah-olah lupa dengan kejadian kemarin.


"Emang kenapa?" Arana balik bertanya.


"Bokap marah-marah karena lo gak sopan katanya. Sampe dia gak mau lihat lo dateng lagi ke rumah." Jendra menjelaskan seraya menatap Arana lekat.


'Mampus, pasti gara-gara omongan gue yang itu,' pikir Arana dalam hati.


"Jujur ke gue, lo ngomong apa?" Kali ini Jendra bertanya dengan raut wajah serius, berbeda dengan sebelumnya.


"Gue cuman nanyain lo. Gak pernah ngomong yang gak sopan atupun gak jelas." Balas Arana bohong. Tidak mungkin jika ia harus berkata jujur pada sang teman, bahaya.


"Beneran?"


"Bener, Jen. Lo gak percaya?" Jendra menggelengkan kepala dibarengi helaan nafas panjang.

__ADS_1


"Hhmm udah gue duga, pasti bokap gue yang gak bener." Jendra memijat pangkal hidungnya pelan, pusing akan sikap sang ayah.


Melihat itu, Arana merasakan rasa bersalah datang karena telah berbohong, tapi perkataan bohongnya memang sangat dibutuhkan sekarang ini.


"Terus lo ngebales apa?" Tak dapat dipungkiri, meskipun Arana merasa bersalah karena telah berbohong pada Jendra


"Ya gue belain lo, gue bilang kalo lo bukan tipe orang yang gak tahu adab ngomong sama orang dewasa. Gue tahu pasti lo kayak gimana."


Arana tak menjawab, rasa bersalah masih ada dalam diri, membuatnya enggan untuk bersuara.


"Ra, jangan sungkan buat dateng ke rumah. Jangan dengerin kata-kata kasar dia juga, oke?" pinta Jendra.


Arana menganggukkan kepala. "Iya, makasih udah belain gue. Tapi lain kali jangan belain gue lagi ya, bisa aja bokap lo bener kan."


"Apaan sih, gak mungkin banget kalo omongan dia bener," Jendra membantah ucapan Arana.


"Ya bisa aja kan."


"Nggak mungkin lah." Jendra masih keukeuh pada pendiriannya, bahwa Arana anak baik-baik dan tak akan pernah berani untuk berkata tidak sopan pada sang ayah.


Arana ingin membalas, tapi bel masuk telah berbunyi nyaring. Membuat Jendra beranjak menuju bangkunya sendiri.


...----------------...


Jam pulang sekolah...


"Pak Onad mana?" Tanya Jendra saat melihat Arana masih di depan gerbang sekolah.


"Iya. Mau gue tungguin gak?"


"Nggak usah, mending lo langsung pulang aja."


"Gak tega gue ninggalin lo," Jendra berucap seraya memarkirkan motornya tepat di samping Arana.


"Modus doang lo! Udah sana balik."


"Gak, sebelum Pak Onad dateng gue bakalan ada terus disini bareng lo." Keukeuh Jendra.


"Gue juga gak mau lo pulang telat gara-gara nungguin gue gini!" Kesal Arana.


"Udah biasa gue pulang telat, Arana." Balas Jendra.


Tak berselang lama, Pak Onad pun hadir di tengah perdebatan mereka.


Pak Onad datang menginterupsi perdebatan antara Arana dan Jendra. "Maaf karena sudah menganggu perdebatan Nona Ara dan Den Jendra. Saya hanya ingin memberitahu, bahwasanya mobil telah siap untuk menjemput Nona Ara pulang."


"Tuh lihat, Pak Onad udah dateng. Lo pulang sekarang gih." Jendra mengangkat bahu acuh setelah mendengar ucapan Arana.


"Bye, mo pulang nih gue!" Jendra segera memakai helm setelah berucap, lalu menyalakan motor dan pergi meninggalkan Arana bersama Pak Onad.

__ADS_1


Arana tak melontarkan sepatah kata pun, ia berbalik, melangkah mengikuti Pak Onad.


Mobil melaju pelan, mengantarkan sang nona muda pulang menuju rumah.


"Pak, berhenti di supermarket depan ya? Saya pengen beli camilan dulu." Ujar Arana di tengah-tengah perjalanan.


"Kenapa tidak menyuruh pelayan untuk membelikannya, non?" Tanya Pak Onad sopan.


"Nggak ah, lagi pengen beli sendiri." Balas Arana santai.


"Baik, jika itu mau nona." Pak Onad mengalah, beliau membelokkan mobil, memasuki parkiran supermarket.


"Pak, tunggu di mobil aja ya, biar saya aja yang belanja ke dalem." Pinta Arana sebelum menuruni mobil.


Pak Onad tak sempat untuk menjawab, Arana telah pergi menjauhi tempat parkir.


"Hahh ya sudahlah, toh nona muda sudah besar. Mana mungkin ia akan tersesat disini." Pasrah Pak Onad.


Di lain tempat (dalam supermarket itu) Arana tengah asik melihat-lihat rak camilan dan berpikir camilan apa saja yang akan ia beli.


Ketika sedang asik berpikir, tiba-tiba saja badan Arana terhuyung ke depan akibat tubrukan seseorang dibelakangnya.


"Aduh! Untung saya kuat, jadi gak jatuh gitu aja. Bapak, kalo jal-" omelan Arana terhenti usai melihat jelas pria dewasa yang menabraknya.


"Arana?" Panggil pria itu dingin.


"Om! Kenapa om bisa ada disini?" Tanya Arana antusias, melupakan rasa kesalnya tadi.


"Ya bisa, ini tempat umum bukan tempat khusus keluargamu." Balas Reno, ayah Jendra.


"Oh iya ya, kalo gitu pertanyaannya saya ganti. Om mau ngapain kesini?"


"Ck, kamu buta? Tidak bisa melihat saya sedang apa?" Bukannya marah, Arana malah tersenyum konyol mendengar jawaban dari Reno.


"Om hari ini ganteng banget!" Arana mengacungkan kedua ibu jarinya sembari memuji ketampanan Reno. Sedangkan Reno tak menanggapi pujian Arana.


"Sial sekali hari ini." Keluh Reno pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Arana.


"Sial kenapa om?" Arana bertanya penasaran.


"Sial karena bisa bertemu dengan orang yang tak jelas." Reno pergi meninggalkan Arana sendirian.


'Kan, keinget yang kemaren lagi...' Pikirnya.


Mood baiknya telah pergi, digantikan oleh mood buruk. Rasa sakitnya kemarin datang kembali.


'Om, saya sedih kalo denger kata-kata kasar om seperti tadi. Tapi saya gak mau nyerah gitu aja, saya akan kembali berusaha untuk bisa dapetin om. Saya pasti bisa!' Pikir Arana optimis.


...Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa klik favorit + suka, terimakasih<3


__ADS_2