
Episode sebelumnya...
"Dia siapa, Jen?" Pertanyaan serupa dari orang yang berbeda.
"Bokap gue. Lo jangan ketipu sama tampangnya, Ra." Bukan tanpa sebab Jendra berujar demikian. Pasalnya, ia dapat melihat bagaimana pancaran kekaguman yang ada pada mata Arana saat Arana menatap sang ayah.
"Kenapa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hm? Kenapa ya? Ah, gue juga gatau." Ujar Jendra sembari mengangkat bahunya acuh.
"Gak bener lo. Masa bokap sendiri lo jelek-jelekin!" Omel Arana.
Jendra tidak mendengarkan dan tidak menanggapi omelan Arana dengan serius, membuat Arana semakin jengkel.
"Jendra, rese. " Arana bergumam dengan suara yang cukup keras, ia melakukannya agar dapat di dengar oleh Jendra.
"Lo tinggal nurut aja sama gue, apa susahnya sih. Ntar juga lo tahu gimana kelakuan aslinya." Jendra berbicara dengan posisi badan yang membelakangi Arana.
"Udah ah, ayo kita kerjain tugasnya." Lanjut Jendra.
"Kenapa harus buru-buru banget sih ngerjainnya, kan kita baru nyampe." Keluh Arana.
"Sengaja, biar lo cepet-cepet balik." Apa Jendra berniat mengusirnya sekarang? Ah Jendra benar-benar kejam.
"Tega banget lo ngusir gue, Jen." Arana mendekati Jendra sembari mengerucutkan bibirnya.
'Lucu banget.' Bisik Jendra dalam hati.
"Emang." Jawab Jendra santai.
"Eh btw gue baru banget denger lo ngomong pake nada dingin, Jen." Arana berbicara sambil menyiapkan buku-buku untuk keperluannya mengerjakan tugas.
"Serem banget! Gue aja sampe pangling." Arana lanjut mengomentari.
"Tapi keliatan keren nggak, Ra?" Tanya Jendra usil.
"Nggak!" Arana menjawab dengan suara keras.
"Sssttt jangan berisik, Ra."
"Lo sih!"
"Kok gue, Ra?"
"Ya kan gara-gara lo, gue teriak." Arana menyalahkan Jendra.
Jendra menghela nafas pelan, berdebat dengan Arana tidak akan ada habisnya!
"Ya ya ya. Cepet lo kerjain ini sama ini, gue ini sama ini." Pada akhirnya Arana memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatannya dengan Jendra. Karena jika diteruskan tugas kelompoknya tidak akan pernah selesai.
"Iya, gampang itu mah." Jendra menganggukkan kepalanya pelan usai mendengar arahan dari Arana.
Waktu terus berlalu, tidak tahu berapa banyak waktu yang telah dihabiskan mereka untuk berfokus dengan tugas-tugas.
"Gue laper, Jen." Keluh Arana setelah menyelesaikan tugas terakhirnya.
Jendra mengangguk mengerti, ia pergi keluar untuk memerintahkan pelayannya datang membawakan makanan.
Setelah Jendra kembali, Arana iseng bertanya.
"Kok lo gak nanya dulu gue pengen makan apa?" Jendra merotasi kan netranya malas.
"Makannya pizza minumnya coca-coca. Kesukaan lo kan?'
__ADS_1
" Iya! Lo paling tahu gue!" Arana menjawab dengan antusias. Jarang sekali ia memakan pizza, sekalinya makan malah kena marah bunda.
Bunda bilangnya sih biar Arana sehat, makanya ia dilarang buat makan pizza dan kawanannya terlalu sering.
Okee, kembali lagi pada Arana dan Jendra.
Kini keduanya tengah asik memakan pizza, sembari ditemani serial film kesukaan mereka berdua.
"Kapan lo mau balik?" Tanya Jendra sesaat setelah ia melihat jam dinding.
"Oiya, udah malem ini."
"Dih, baru sadar lo?"
"Hehe keasikan nonton sih, jadinya lupa waktu." Jendra tersenyum kecil mendengarnya.
"Lo anterin gue ya, Jen." Pinta Arana.
"Iya, kalo gitu lo beresin barang-barang lo cepet. Gue mau keluar bentar." Setelahnya Jendra pergi keluar meninggalkan Arana sendiri.
Barang-barang Arana selesai dibereskan, tetapi Jendra belum juga kembali. Arana sedikit khawatir soal Jendra, jadilah ia memutuskan untuk pergi keluar kamar guna mencari keberadaan Jendra.
Arana turun menyusuri anak tangga di rumah itu. Ketika sedang berada di tangga, Arana tak sengaja mendengar teriakan Jendra samar-samar. Buru-buru saja ia pergi ke arah teriakan itu berasal.
Dapat Arana lihat, di sana ada Jendra dan ayahnya. Jika diperhatikan, mereka sepertinya sedang bertengkar.
Arana terus memperhatikan mereka dari jauh. Sadar akan hadirnya manusia lain, ayah Jendra menghentikan pertengkarannya lalu membalikan badan dan menatap Arana tajam.
Badannya sedikit gemetar melihat tatapan itu. Ia tak biasa, rasanya membuat badan ingin ambruk!
"Berani sekali kamu." Ujar ayah Jendra dingin
"Jangan buat dia takut!" Jendra melangkah mendekati Arana.
"Dia berani banget loh nontonin kita pas lagi berantem." Lanjut ayah Jendra.
Jendra tak menjawab apa-apa, ia menggenggam tangan Arana lalu berbalik arah berniat untuk segera pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar nama Arana di sebutkan.
"Arana, lain kali belajarlah sopan santun." Setelah berujar demikian, ayah Jendra pergi.
"Gue salah ya, Jen?" Arana bertanya, ia merasa bersalah sekarang.
"Nggak kok, ayo jalan lagi." Tenang Jendra.
"Jalan kemana, Jen?" Jendra tersenyum.
"Ke parkiran, Arana." Jawab Jendra santai.
Tanpa banyak basa-basi lagi mereka meneruskan langkah yang sempat terhenti.
...----------------...
Suasana dalam mobil sangat sunyi. Jendra dan Arana memilih untuk fokus pada lamunannya masing-masing.
Jendra menoleh sedikit pada Arana, ia sebenarnya tidak tahan dengan suasana seperti ini.
Jendra berdehem mencuri perhatian Arana.
"Kenapa?" Tanya Arana.
"Jangan diem aja dong. Lo diem kaya gini malah bikin gue khawatir." Jawab Jendra.
"Gak usah khawatir, toh gue gak kenapa-napa." Arana sepenuhnya memandang Jendra.
"Gue pengen nanya, boleh?" Lanjut Arana.
__ADS_1
"Boleh, nanya apa?"
"Kenapa lo berantem sama bokap?"Arana bertanya dengan hati-hati.
Jendra menghela nafas mendengar pertanyaan Arana.
" Lo gak perlu tahu, Arana." Jawaban Jendra membuat Arana menggeleng.
"Jendra, kenapa? Apa gara-gara gue?" Arana kekeh bertanya.
"Arana."
"Jendra, tinggal jawab aja." Jendra lagi-lagi menghela nafas.
"Iya, dia gak suka ada orang asing dateng ke rumah." Jelas Jendra.
Arana terdiam, oh jadi ini alasan Jendra tidak ingin mengajaknya datang ke kediaman Abraham, pikir Arana.
"Maaf ya, udah bikin lo ribut sama bokap lo sendiri." Arana meminta maaf.
"Iya gapapa, lagian juga udah biasa ribut kaya gitu mah,tenang aja." Tenang Jendra.
"Tetep aja gue ngerasa bersalah!"
"Iya deh iya." Final Jendra.
Tak terasa, mereka pun sampai di depan rumah Arana.
"Noh nyampe, sana balik." Usir Jendra.
"Iya! Ini juga mau balik, ogah gue lama-lama sama lo!" Arana berkata sembari membuka pintu mobil. Sebelum ia menutupkan kembali pintu mobilnya, Arana mengucapkan kalimat terimakasih pada Jendra.
Jendra hanya mengangguk sebagai jawaban.
Arana melangkah menuju rumah. Menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar. Sisa satu langkah lagi agar sampai pada daun pintu kamar. Tiba-tiba bundanya berteriak memanggil namanya.
"Arana!" Panggil bunda
"Kenapa bunda?“ Tanya Arana heran setelah ia datang mendekati sangat bunda.
" Darimana saja kamu?" Bunda balik bertanya.
"Rumah Jendra, bun." Jawab Arana singkat.
"Kok gak bilang bunda?!"
"Maaf bundaa, Ara lupa." Arana menjelaskan.
"Hahh yasudahlah. Sekarang cepat mandi terus makan." Ujar bunda sembari mengusap kepala Arana sayang.
"Ara sudah makan bun, maaf."
"Ah iya gapapa, sekarang mah mandi gih, udah bau juga." Perintah bunda.
"Iya bunda, Ara pamit ke kamar ya." Pamit Arana.
Setelah sampai di kamarnya, Arana bergegas mandi.
"Ayahnya si Jendra ganteng juga." Arana berujar pada dirinya sendiri.
"Apa Jendra bakalan marah kalo gue suka sama bokapnya?" Tanyanya sembari membersihkan gigi.
Arana menghela nafas, bisa-bisanya dia suka dengan ayah temannya sendiri!
...Bersambung... ...
__ADS_1