Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku

Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku
Kediaman Abraham


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Ara, maafin gue ya. Gue pikir dia gak bakalan berulah, gue ngerasa bersalah udah bawa lo ke rumah hari ini." Jendra menundukkan kepala, menyesali kesalahannya.


"Bukan salah lo. Makasih buat tumpangannya, hati-hati di jalan." Arana segera menuruni mobil tanpa menunggu balasan dari si pemilik.


Jendra tak mencegah pergerakan Arana, ia membiarkan Arana pergi. Dalam mobil, Jendra terus menatapi punggung Arana sampai punggung itu benar-benar hilang dari penglihatannya.


'Ra, lo kecewa sampe marah gini sama dia tuh karena lo ngerti posisi gue kan? Aneh, kenapa gue ngerasanya lain ya, Ra.' Monolognya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tahu kan ini jam berapa?" Tanya Reno pada Jendra yang baru saja pulang.


Jendra tidak menjawab, bahkan tidak menganggap keberadaan Reno sama sekali.


Melihat sikap Jendra membuat Reno menggelengkan kepala. "Kamu sudah besar Jendra, jangan kekanak-kanakan seperti ini!" Reno kembali bersuara.


Jendra menghentikan langkah, ia menoleh pada sang ayah.


"Kekanak-kanakan? Apa maksud ayah?" Balas Jendra tak terima.


"Loh kamu gak merasa? Selama ini kalau ada masalah kamu selalu kabur lalu pulang larut malam. Perbuatan kamu itu kekanak-kanakan sekali Jendra." Ucap Reno dengan suara dinginnya.


"Hahaha kekanak-kanakan ayah bilang?"


"Ya, kekanak-kanakan." Reno menekankan setiap kata yang keluar dari bibirnya.


"Asumsi ayah salah, Jendra tidak pernah bersikap kekanak-kanakan. Ayah bilang begitu karena ayah tidak merasakan apa yang Jendra rasakan!" Jendra diselimuti rasa marah, ia tak terima dengan ucapan sang ayah.


"Apa? Kamu mau nyalahin saya?" Tanya Reno.


"Ya, semua ini salah ayah! Sedari dulu yang salah memanglah ayah!" Dada Jendra berdegup keras akibat emosi.


"Karena ayah! Ayah telah merenggut semua kebahagiaan Jendra!" Tuduh Jendra.


Reno mengepalkan tangan kuat, kini emosinya ikut terpancing.


"Jangan menuduh sembarangan, kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Walaupun emosi, Reno tetap tenang dalam bicara.


"Bukan sebuah tuduhan semata, tapi semua itu fakta!" Jendra berucap dengan meninggikan suara, terdengar seperti membentak.


Reno menatap Jendra tajam.


"Kenapa? Mau menyangkal lagi? Iya?!" Jendra tersenyum remeh melihat sang ayah terdiam.


"Sudahlah, berdebat dengan ayah soal ini tidak akan ada habisnya. Lagi pula, ayah tidak akan pernah sadar." Jendra mengalah, ia melenggang pergi menuju ruang kamar tanpa menoleh sedikitpun pada Reno.


Reno menghela nafas panjang setelah Jendra menjauh. Ia memijat pangkal hidungnya pelan agar pusing di kepala sedikit mereda.


Reno memutuskan untuk berjalan menyusuri anak tangga tanpa tujuan. Ia terus berjalan, hingga tanpa sadar raganya telah berdiri tegak di balkon kamar.


Angin malam berhembus mengenai kulit, menarik Reno dari lamunan.


Ia meraba-raba saku celana, lanjut mengeluarkan sebatang rokok dan sebuah pematik api kecil di dalamnya.

__ADS_1


Kepulan asap berlomba-lomba keluar dari rongga mulut Reno. Nikmat, pikir Reno.


"Asap rokok dan langit malam memang perpaduan yang pas." Ucap Reno di sela-sela kegiatannya menyesap rokok.


Ia mendongakkan kepala, menatap langit dengan mata sayu.


"Jendra, bukan mau saya untuk merenggut kebahagiaan kamu." Reno bergumam lirih.


...----------------...


Disisi lain, Jendra tengah berguling-guling di atas kasur dengan gusar. Malam ini rasanya sulit sekali untuk ia tidur. Banyak pemikiran-pemikiran negatif yang bertengger di kepala.


"Ck, lo kenapa sih Jen?! Kayak anak cewek aja deh." Jendra mengacak rambut asal.


"Arana udah tidur belum ya. Apa gue telpon dia aja?" Tanyanya seorang diri.


"Ah jangan, gue gak mau ganggu dia." Jendra kembali berbicara sendiri.


'Ayah.' tiba-tiba kata itu terlintas di benak Jendra.


"Ngapain njir gue inget dia, gak ada faedahnya!" Sesaat kemudian Jendra diam dan berpikir.


'Kejadian dimasa lalu jelas-jelas salah dia. Seandainya dia gak gila kerja, seandainya dia bisa jadi sosok ayah sekaligus suami yang baik, mungkin keluarga ini masih utuh.' Jendra memejamkan mata, memikirkan hal-hal dimasa lalu.


"Ibu juga salah, kenapa dia ninggalin gue berdua sama orang ini (ayah) sih!"


"Gak kerasa, udah 10 tahun aja gue sendiri gini. Tanpa figur sosok orang tua yang sesungguhnya."


Jendra menghela nafas kasar, menertawai kondisinya sekarang. Kalo Arana tahu bisa-bisa image cool Jendra hancur.


...----------------...


'Tok.. tok... tok' suara ketukan pintu.


"Tuan muda, pagi telah tiba." Pelayan datang membangunkan Jendra.


"Ini akhir pekan, kenapa anda mengganggu?" Tanya Jendra dibalik pintu.


"Maaf tuan muda, tapi membangunkan anda adalah tugas saya." Jawab pelayan dengan sopan.


"Ya, tugas telah selesai, pergilah!"


"Baik tuan muda." Pelayan itu lantas membungkuk lalu pergi.


'Ketusnya tuan muda tidak pernah hilang, mengapa nona muda (Arana) tahan berlama-lama dengannya ya?' Pikir pelayan kebingungan.


Di dalam kamar, terlihat Jendra sedang menatap ponselnya ragu. Ingin sekali ia menghubungi Arana dan saling bertukar cerita. Tapi Jendra ragu, ia takut Arana masih memikirkan kejadian kemarin. Jendra sih sudah kebal walaupun tetap menjengkelkan, tapi Arana berbeda. Kemarin pertama kalinya Arana melihat kejadian tak senonoh Ayah Jendra, pastinya kejadian itu meninggalkan ingatan yang buruk bagi Arana.


"Telpon gak ya?" Tanya Jendra bimbang.


"Telpon ajalah, gue gak bisa ngediemin dia." Finalnya.


Suara terhubungnya panggilan terdengar jelas di gendang telinga Jendra. Jantungnya berdebar-debar menunggu teman wanitanya mengangkat panggilan telpon ini.


"Halo?" Sapaan dari sebrang sana.

__ADS_1


"Ah, halo Arana." Jendra membalas sapaan Arana dengan gugup.


"Ada apa? Tumben jam segini udah nelpon?" Tanya Arana tanpa banyak basa-basi.


"Gapapa, mau aja." Jawab Jendra.


"Aneh banget lo." Jendra tersenyum, hatinya sedikit menghangat kala suara Arana terdengar oleh kedua telinganya.


"Gimana kabar lo?" Berbeda dengan Arana, Jendra memilih untuk sedikit berbasa-basi.


"Umm baik kok." Jendra mendengar keraguan dari ucapan itu, tapi Jendra tidak berniat untuk mengomentarinya. Ia takut Arana kurang nyaman.


"Syukur deh kalo baik. Udah makan?"


"Udah tadi, lo gimana?" Arana balik bertanya.


Jendra mengerutkan alis. "Gimana apanya?"


"Gimana kabar lo? Udah makan belum?" Jendra lagi-lagi dibuat tersenyum oleh Arana.


'Padahal cuman gitu, tapi gue ngerasa dia lucu banget!' Teriak batin Jendra.


"Kabar gue baik, belum makan." Jawab Jendra seraya membaringkan tubuh.


"Kenapa belum, Jen?"


"Hari ini gue males banget makan, apalagi ini masih pagi."


"Lo gak boleh skip sarapan, Jendra!" Omel Arana.


"Gue males, Raaa." Rengek Jendra.


"Kok males sarapan sih, gak banget alesannya."


"Orang gue males beneran."


'Males ketemu bokap sih sebenernya.' Lanjut Jendra dalam hati.


"Terserah lo aja deh." Ujar Arana menyudahi perdebatan kecil mereka. Tetapi Jendra salah paham, Jendra pikir Arana marah karena ia tidak mau menuruti apa yang Arana katakan.


"Tapi kayaknya gue berubah pikiran, gue mau sarapan dulu, Ra. Gapapa telponnya gue tutup?"


"Lah? Cepet banget berubahnya. Ya gapapa tutup aja kali, Jen."


"Dadah Araa." Jendra menutup panggilannya setelah Arana membalas salam perpisahan. Selang beberapa waktu Jendra bergegas keluar kamar menuju tempat makan.


"Jendra." Jendra mendengus tak suka usai mendengar panggilan dari Reno.


"Kenapa?" Balas Jendra ketus.


"Saya akan pergi ke Singapura siang nanti."


...Bersambung... ...


Jangan lupa klik favorit + like, terimakasih:*

__ADS_1


__ADS_2