
Episode sebelumnya...
"Hati-hati terus jangan ngebut!"
Jendra tersenyum usil. "Baik, nona."
"Nona nona mata lo nona!" ucap Arana kesal.
Jendra tertawa terbahak-bahak mendengar tanggapan Arana.
"Udah ketawanya, sana pulang!" usir Arana.
"Haha iyaiya, gue pulang nih. Bye Arana!" Pamit Jendra ntah ke berapa kalinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Rajendra?"
"Sakit bu!" Jawab anak kelas dengan serentak.
Sang guru mengerutkan dahinya bingung. "Bukannya udah seminggu dia sakit?"
"Ya bu, Jendra masih sakit sampai sekarang." Jelas Arana pada gurunya.
"Udah ditengok?"
Teman kelas Jendra terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Bu Rani selaku guru Matematika yang sedang mengajar. Pasalnya tak ada seorangpun siswa di kelas itu yang mengetahui alamat rumah Jendra terkecuali Arana.
Tapi Arana pun terdiam, karena seminggu sudah ia tak melihat kehadiran Jendra lagi usai kepulangannya dari rumah Arana malam itu. Arana hanya bisa mengetahui kondisi Jendra dari telpon genggam tanpa bisa melihat langsung bagaimana keadaan Jendra.
Rasanya Arana masih belum siap untuk datang kembali ke kediaman Abraham. Arana takut, takut jika ia harus melihat kembali ayah Jendra secara nyata.
"Ssstt... Arana!" Lamunan Arana buyar seketika oleh bisikan teman kelasnya.
Arana menoleh kebelakang, lalu ikut berbisik. "Apa?"
"Lo tahu dimana rumah Jendra?"
"Nggak tahu gue," jawab Arana penuh kebohongan.
Temannya mengernyit curiga. "Masa sih?"
Arana membuat ekspresi serius guna meyakinkan sang teman. "Liat wajah gue. Keliatan lagi ngebohong gak?"
Temannya menggeleng. "Iya iya, gue percaya."
"Emang harus percaya!"
...----------------...
Tak terasa bel pulang pun tiba. Siswa-siswi melangkah keluar dari ruang kelasnya masing-masing, termasuk Arana.
Arana terlihat berjalan menuju arah depan gerbang sekolah seorang diri sembari mengutak-atik telpon yang di genggamnya sedari tadi.
"Si Jendra kenapa gak jawab chat gue sih," gerutu Arana pelan.
"Apa sesakit itu sampai gak bisa bales chat." Arana masih saja menggerutu sepanjang jalan karena chat-nya tak kunjung di balas oleh sang teman dekat.
Langkah Arana terhenti, ia melihat sekeliling mencari-cari mobil jemputannya.
"Nona, disini!"
Arana menolehkan wajahnya pada sumber suara, ia tersenyum sembari melangkahkan kakinya mendekati mobil.
__ADS_1
"Saya pikir Pak Onad telat dateng, ternyata ada disini."
Pak Onad tersenyum kecil. "Tadinya mau parkir di tempat biasa, Non, eh ternyata udah di tempatin sama yang lain."
Arana terkekeh kecil sebelum menaiki mobil.
"Oh iya Pak Onad, kita ke rumah Jendra dulu ya. Tapi sebelum itu kita mampir dulu ke supermarket, pak."
"Siap, Non."
Mobil melaju meninggalkan bangunan sekolah. Sepanjang perjalanan Arana hanya diam memandangi pemandangan di luar jendela mobil.
Setelah beberapa waktu berlalu mobil yang dikendarai oleh Pak Onad pun berhenti di pekarangan rumah Jendra.
"Pak Onad pulang duluan aja."
"Lho, nanti Nona Ara gimana?"
"Saya telepon Pak Onad kalo udah mau pulang."
"Oh baik, Non."
Arana segera menuruni mobil usai berbicara dengan Pak Onad.
"Hati-hati di jalannya, pak!"
Pak Onad tersenyum kecil kemudian membawa mobil melaju menjauhi kediaman Abraham itu.
'Ting... tong...'
Bel rumah berbunyi, tak lama kemudian datang pelayan membukakan pintu untuk Arana masuk.
"Oh Nona Arana."
"Ada, Non. Mari saya antar ke kamar Tuan Jendra."
Pelayan rumah berbalik pergi melangkah menjauhi pintu utama, lalu disusul oleh Arana dibelakangnya.
'Tok.. tok.. tok... '
"Ada apa?" Terdengar sautan seorang pria didalam sana.
"Nona Arana datang berkunjung, Tuan."
"Buka saja, pintunya tidak di kunci."
Pelayan melangkah kebelakang, memberi Arana jalan untuk masuk ke ruang kamar Jendra.
"Makasih, bi."
Pelayan itu membungkuk hormat. "Senang bisa membantu, saya pamit undur diri, Nona. Jika Nona memerlukan sesuatu, Nona bisa panggil saya kembali."
Arana mengacungkan kedua ibu jarinya sebagai respon. Kemudian ia memasuki ruang kamar Jendra setelah pelayan rumah pamit undur diri.
"Arana." Jendra memanggilnya dengan suara serak khas orang sakit.
"Eh Jen, Jen, gak usah dipaksain buat bangun. Lo tiduran aja, gapapa." Arana sedikit terkejut karena Jendra tiba-tiba bangun dari posisi tidurnya.
"Udah mendingan kok."
"Mendingan apanya, muka lo pucet banget gitu!"
"Kurang vitamin D aja kali ini mah."
__ADS_1
"Mana ada!"
"Jangan ngeyel kalo dibilangin, Jen," sambung Arana.
"Iya deh, gue tiduran lagi nih!"
Arana tersenyum. "Nah gitu dong, enakan tidur kan?"
"Biasa aja," balas Jendra.
"Oh iya, gue bawain lo makanan nih, dimakan ya."
Jendra tersenyum, menatap Arana sendu. "Perhatian banget sih. Makasih ya, Arana."
Arana mengangguk riang, kemudian ia membuka semua makanan yang ia beli tadi.
"Makan makan," ucap Arana.
Makanan-makanan yang telah di belikan oleh Arana seketika memancing perut Jendra berbunyi kelaparan. Tanpa mengulur waktu, ia segera melahap makanan itu dengan semangat.
Tanpa sadar kekehan kecil keluar dari bilah bibir Arana. Ia tak habis pikir dengan sang teman. Ternyata sekalipun sedang sakit, Jendra tetap lahap dalam menyantap makanan.
Jendra terkesiap, menyadari suatu hal. "Kok lo gak ikut makan?" Tanyanya dengan raut bingung.
"Lho, ini kan emang buat lo."
"Nggak! Lo harus makan juga, Ra!"
"Gak mau, gue gak laper."
Meskipun Arana terus menolak, tetapi usaha Jendra tetap tak pernah surut. Ia tetap memaksa Arana untuk makan bersamanya.
"Haahhh yaudah gue makan." Pada akhirnya Arana mengalah, sebab keras kepalanya Jendra sulit ia tandingi.
"Tapi sebelum makan, gue mau minum dulu," lanjut Arana beralasan.
"Panggil pelayannya kesini, lo gak usah repot-repot kebawah."
"Bawa minum doang gak perlu panggil pelayan."
Jendra merotasikan kedua matanya malas. Mengapa Arana sangat menjengkelkan hari ini?
"Terserah lo aja deh. Sana kalo mau turun!"
Arana mendecih pelan mendengar ucapan tak bersahabat dari sang teman baik.
"Jangan dulu pulang, gue masih mau lo disini!" Teriak Jendra tepat setelah Arana membuka pintu karmanya.
...----------------...
Arana terus melangkah tanpa beban ke arah dapur rumah Jendra. Meski ia tidak begitu hapal denah rumah ini, tapi ia yakin arah yang ia tuju sekarang memang benar jalan menuju dapur.
Di sela-sela lamunannya, Arana tiba-tiba terpikir akan masalah di masa lalu yang menyangkut Om Reno, ayah dari teman dekatnya.
Arana jadi penasaran. Bagaimana kabar pria dewasa itu? Ia tak pernah bertemu kembali dengan Reno semenjak kejadian 'itu'.
Tunggu, mengapa ia menjadi 'sedikit' penasaran dengan kabar ayah dari temannya? Arana menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir semua pikiran tentang Om Reno, ayah Jendra.
Ntah takdir atau bukan, Arana tidak tahu. Tapi, kini semesta seperti tengah menjawab rasa penasaran Arana. Semesta kembali mempertemukan Arana dengan 'dia', sang pemilik hati yang beberapa waktu lalu telah mematahkan hati kecilnya.
Arana terkejut, sungguh. Ia tak menyangka, walaupun sebenarnya ia sadar bahwa ini memanglah tempatnya si pria jadi kemungkinan untuk bertemu sangatlah besar. Seperti sekarang.
...Bersambung... ...
__ADS_1