
Episode sebelumnya...
"Sial kenapa om?" Arana bertanya penasaran.
"Sial karena bisa bertemu dengan orang yang tak jelas." Reno pergi meninggalkan Arana sendirian.
'Kan, keinget yang kemaren lagi...' Pikirnya sedih.
Mood baiknya telah pergi, digantikan oleh mood buruk. Rasa sakitnya kemarin datang kembali.
'Om, saya sedih kalo denger kata-kata kasar om seperti tadi. Tapi saya gak mau nyerah gitu aja, saya akan kembali berusaha untuk bisa dapetin om. Saya pasti bisa!' Pikir Arana optimis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nona tadi kemana saja?" Pak Onad memberanikan diri untuk bertanya pada Arana, setelah Arana kembali dari supermarket.
"Emangnya kenapa pak? Oh lama ya?"
"Hehe iya non, lumayan lama saya nunggu."
"Duh maaf ya pak, tadi saya keasyikan pilih-pilih makanan." Arana sedikit tidak enak hati karena telah membiarkan Pak Onad menunggu begitu lama di mobil.
"Tidak apa-apa nona, saya mengerti." Pak Onad tersenyum kecil, tak menjadi masalah baginya jika nona muda keluarga Pangestu ini ingin berlama-lama di supermarket, meskipun akan membuatnya menunggu begitu lama.
"Nona, sebelum sampai di rumah, apakah ada tempat lain yang ingin nona kunjungi selain supermarket?" Tanya Pak Onad seraya menyalakan mesin mobil.
"Tidak ada, langsung pulang saja pak." Jawab Arana membuat Pak Onad mengangguk mengerti.
Mobil pun melaju meninggalkan tempat parkir di supermarket itu menuju kediaman Pangestu.
Tidak terasa mereka telah sampai di depan gerbang kediaman Pangestu. Satpam yang sedang jaga buru-buru keluar dari pos setelah melihat mobil hitam milik sang tuan terhenti di depan pagar.
"Maaf lama non," ucap satpam rumah meminta maaf.
Arana tersenyum ramah. "Tidak lama kok pak, tenang saja," balas Arana.
Satpam rumah tak sempat menjawab Arana karena mobil melaju begitu saja usai Arana berbicara.
'ting tong... ting tong...' bunyi bel rumah.
"Oh Nona Arana, saya pikir siapa," kata pelayan kediaman Pangestu setelah membuka pintu utama.
Arana tak membalas perkataan pelayan, ia lebih ingin bertanya sekarang ini. "Bunda dan ayah ada?" Tanya Arana seraya menghentikan langkah.
"Nyonya dan tuan ada, Nona." Pelayan membalas sembari mengambil kantong plastik yang tengah Arana genggam.
"Sini non, biar saya bawakan," lanjutnya.
"Ah iya, terimakasih bi." Pelayan mengangguk meng-iyakan lalu pergi ke dapur usai berpamitan pada Arana.
"Ara, sudah pulang nak?" Tanya bunda ketika melihat Arana memasuki ruang keluarga.
"Udah bunda." Arana berjalan mendekati bunda sembari merentangkan tangan, meminta pelukan hangat sang bunda.
Bunda tersenyum sendu. "Anak bunda hari ini manja banget ya, gak kenapa-napa kan?" Ia bertanya berbarengan dengan Arana yang memeluknya erat.
__ADS_1
"Gak kenapa-napa kok, bund. Pengen peluk bunda aja." Arana menyandarkan kepalanya tepat di pundak bunda, nyaman.
'Terakhir peluk bunda gini kapan ya?' tanyanya dalam hati. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan pelukan hangat ini.
"Ehemm." Deheman keras terdengar, menyebabkan Arana dan bunda terlonjak kaget.
"Eh eh, kok pada kaget gini hahaha." Arana dan bunda kompak merotasikan netra usai mendapati seonggok makhluk yang tadi mengagetkan mereka.
"Ayah! Kok iseng banget!" Omel Arana.
"Huh, ayah ganggu suasana banget!" Timpal bunda.
"Suruh siapa gak ngajakin ayah, kan ayah juga pengen dipeluk kalian." Ayah berdiri di depan menghadap dua wanitanya sambil mengembungkan pipi.
"Apaansih kayak anak kecil aja." Arana memalingkan wajah, kesal dengan tingkah sang ayah.
Lain dengan Arana, bunda malah merentangkan tangan menginginkan prianya mendekat. "Yaudah, sini ayahnya. Kita pelukan bertiga."
"Yeay bisa peluk bunda," ucap ayah seraya memeluk bunda erat.
"Ayah! Bunda punya Ara! Siapa juga yang ngajakin ayah buat duduk disini."
"Ya bunda, tadi bundamu ngajakin ayah." Balas Ayah Arana tak mau kalah.
"Bundaa, kok ngajakin ayah sih." Arana mengerucutkan bibir lucu.
"Udah-udah, jangan berantem dong. Mending kita pelukan bertiga yuk, sini-sini biar bunda peluk Ara lagi." Arana mengalah, ia kembali memeluk bunda yang sedang dipeluk oleh ayahnya.
*Posisi duduk : Arana-Bunda-Ayah*
"Kalo gini bunda kayak punya dua anak. Satu gemesin, satunya lagi ngeselin."
"Apaan, ayah yang gemesin, kamu yang ngeselin." Jawab ayah untuk Arana.
"Bunda!" Adu Arana.
"Ayah, jangan ngisengin anaknya terus, kasian nih mukanya jadi merah gini." Bela bunda.
"Yaudah kalo itu mau bunda." Arana menatap sang kepala keluarga tak percaya.
"Giliran bunda aja yang ngomong langsung diiya-in, dasar bucin!"
"Gapapa bucin, asal bucinnya sama bunda kamu." Dan setelahnya ayah mendapati cubitan kecil dari bunda.
"Udah ah, Ara mau ke kamar aja. Bye bunda, bye ayah." Pamit Arana.
Kedua orangtuanya hanya mendehem meng-iyakan.
...----------------...
Arana merebahkan tubuhnya diatas kasur, berniat mengistirahatkan raganya karena lelah. Tapi rencananya gagal, baru saja Arana memejamkan mata ponselnya sudah berdering nyaring menandakan panggilan suara masuk.
"Ck, ganggu orang mau tidur aja!" Gerutu Arana pelan
"Halo!" Sapa orang disebrang sana.
__ADS_1
"Hm, mau apa?" Tanya Arana to the point.
"Dih, sapa balik kek." Ucap si penelpon.
"Halo juga, Jendra. Noh udah gue sapa, sekarang gue tanya mau apa lo nelpon?" Mood Arana sedang tidak baik-baik saja, dan Jendra (si penelpon) menyadarinya.
"Kangen," balas Jendra singkat.
"Hah? Tumben-tumbenan lo kangen gue."
Jendra tak menjawab, ia balik bertanya. "Mood lo lagi turun ya? Kenapa?"
"Gue mau tidur tapi lo malah nelpon, ya jadi kesel deh." Jelas Arana.
"Jadi itu penyebab mood lo turun. Maaf ya Ara, udah buat mood lo turun." Jendra meminta maaf dengan suara lembut disebrang sana.
"Gak gue maafin."
"Kok gitu?"
"Abisnya lo rese!"
"Nggak rese, Ra. Gini deh, sebagai permintaan maaf gue, gue mau kirimin lo makanan," Jendra menjeda ucapannya sebentar.
"Lo mau makan apa?" Lanjut Jendra bertanya.
"Sogokan ini namanya, tapi kalo lo maksa gue mau domino* aja."
"Yeu kirain mau nolak lo! Mau apa aja?"
"Cheese mania pizza satu, breadsticks satu, potato wedges satu, chicken creamy spaghetti pasta satu, tasty stuffed pocket masing-masing rasa satu!" Jawab Arana ngelunjak.
"Gak sekalian pesen semua menunya neng?" Tanya Jendra usil.
"Iya boleh kalo lo mau beliin gue semua menu." Balas Arana.
"Enteng banget ya kalo ngomong! Maunya lo itu doang? Mau gue pesenin sekarang nih."
"Heem itu aja, Jen."
"Oke, udah gue pesenin ya"
"Gue gak bakal bilang makasih dulu, takut cuman akal-akalan lo aja."
"Gak tahu diri lo, nyet!"
"Hahahaha bercanda njir, makasih Jendra ganteng."
"Bilang ganteng cuman pas ada maunya aja, untung sohib gue, kalo bukan udah gue jitak tu pala. Sama-sama." Jendra membalas dengan malas.
"Yaudah sih jangan ambekan gitu! Lo juga sadar kan tanpa gue bilang pun."
"Sadar apa?"
"Sadar, kalo lo emang ganteng."
__ADS_1
...Bersambung... ...
Haloo, kembali lagi dengan saya di episode baru. Jangan lupa klik favorit + suka yaa, terimakasih bestie<3