
Episode sebelumnya...
"Om, saya ingin mengenal om. Tolong jangan melarang ataupun menghalangi." Reno selaku ayah Jendra dibuat bungkam oleh ucapan Arana.
'Mengeringkan.' Pikir Reno.
"Arana, kamu harus tahu bahwasanya saya tidak pernah menyukai sedikitpun kehadiran kamu disini." Setelah itu Reno pergi meninggalkan Arana yang termenung seorang diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ra... Arana!" Panggil Jendra.
"Hah? Kenapa...kenapa, Jen?" Arana terperanjat kaget akibat panggilan Jendra.
"Lo kenapa? Daritadi gue panggil lo gak nengok-nengok. Sebenernya kenapa? Banyak pikiran?" Jendra dibuat kesal oleh tingkah Arana sore ini.
Bagaimana Jendra tidak kesal, hari ini Arana tiba-tiba saja datang ke rumahnya tanpa sepengetahuan Jendra. Dan lagi, Arana yang terus saja melamun membuat Jendra kebingungan bukan main.
Jendra sudah mencoba mencairkan suasana, tetapi gagal. Arana tidak menanggapinya, ia tidak menggubris semua ucapan Jendra.
Jendra kesal, marah, ia sangat tidak menyukai Arana yang bersikap cuek.
"Lo kalo mau ngelamun jangan disini." Arana tertawa renyah mendengar ucapan jutek milik Jendra.
"Ish, sensi amat pak!" Balas Arana.
"Ya lo mikir aja, udah mah dateng gak bilang-bilang, terus pas udah ketemu malah guenya lo anggurin." Jendra memalingkan wajah.
"Utututu lo marah ya gue anggurin? Maaf deh maaf." Arana mendekati Jendra, mengamati wajah rupawan Jendra.
"Lo kalo lagi sakit emang suka gini ya?" Tanya Arana di sela-sela kegiatannya (mengamati wajah Jendra).
"Gini gimana?" Jendra balik bertanya karena heran.
"Gemesin! Gak kuat gue," Arana berucap gemas sembari merentangkan kedua tangannya guna meraih pipi merah Jendra. Setelah dapat, ia lanjut mencubit cubiti pipi itu pelan.
"Apaan sih, lepas!" Jendra sedikit menjauh dari Arana agar cubitan di pipinya melepas.
"Ooo Jendra merajuk." Goda Arana.
"Gak!" Balas Jendra.
Arana berdehem pelan.
"Ara, lo belum jawab pertanyaan gue tadi."
"Hm? Pertanyaan apa, Jen?" Arana berpikir, pertanyaan apa yang Jendra maksud?
__ADS_1
"Kenapa ngelamun?" Jendra bertanya dengan suara pelan, cenderung berbisik membuat Arana tak dapat mendengar jelas pertanyaan yang Jendra lontarkan.
"Hah?"
"Kenapa ngelamun?!" Ulang Jendra keras.
"Oh, gak kenapa-napa kok." Arana menjawab pertanyaan Jendra santai. Padahal di dalam hati ia terus merutuki Reno yang bersikap dingin pada Arana.
"Jen, gue baru sadar, kok lo duduk di lantai sih. Pindah ke ranjang gih, lagi sakit juga." Arana buru-buru membantu Jendra berdiri, setelah (sadar) melihat Jendra sedang duduk di lantai menemaninya.
"Kelamaan ngelamun sih, makanya gak sadar kalo gue ada di pinggir lo."
"Iya, maaf yaa. Sekarang lo tiduran aja, pasti pusing banget kan?"
"Hmm"
"Btw lo sakit gini gara-gara hujan kemaren ya? Lo sih bandel banget dibilangin, udah tahu mau hujan tapi masih aja ngeyel pengen balik pake tu motor. Bilangnya gak bakal sakit, eh tahu-tahunya tumbang juga! Makanya, lain kali kalo gue ngomong tuh di dengerin!" Omel Arana panjang lebar.
Jendra tak mendengarkan jelas omelan Arana, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala agar Arana mengira ia mengerti dengan semua perkataan yang Arana berikan.
Skip....
...----------------...
"Hhmm." Sudah terhitung lebih dari 10 kali Arana menghela nafas pagi ini.
"Hah? Oh nggak yah, Ara gak kenapa-napa kok." Arana tersadar dari lamunannya oleh sang ayah.
"Kalo ada masalah omongin aja, Ra. Bunda sama ayah pasti dengerin." Ujar bunda.
Ah, ia senang bisa memiliki ibu seperti bundanya ini, sangat perhatian. Tapi, mana mungkin ia membicarakan kegalauannya ini pada kedua orangtuanya?
"Iya bunda, kalo ada apa-apa, Ara pasti bilang bunda atau ayah. Tapi untuk saat ini, Ara rasa tidak ada hal yang perlu dibicarakan dengan ayah ataupun bunda." Balas sang anak.
Bunda dan ayah saling berpandangan sejenak, lalu menganggukkan kepala, mengerti akan keinginan anak semata wayang mereka.
Di tengah-tengah kegiatan mereka di pagi ini (sarapan), datanglah Pak Onad dengan seragam hitamnya menuju meja makan.
"Pagi tuan, nyonya, nona. Maaf telah mengganggu, saya hanya ingin memberitahukan bahwa mobil yang akan di gunakan untuk mengantar Nona Arana sudah siap." Jelas Pak Onad atas kedatangannya di tempat makan.
"Oh sudah siap. Bunda, ayah, Ara pamit berangkat sekolah sekarang ya? Takut macet di jalannya kalo berangkat agak siang." Pamit Arana sembari mengecup pipi ayah-bundanya.
"Hati-hati, Arana." Balas bunda.
"Ya, sampai berjumpa lagi sayang. Pak Onad, nyetirnya tolong hati-hati ya, anak saya jangan sampai kenapa-napa!" Ayah Arana memerintahkan Pak Onad agar hati-hati di jalan, karena ia sangat takut jika hal-hal yang tidak diinginkan menimpa Arana.
Arana pergi meninggalkan tempat makan setelah berpamitan, di susul oleh Pak Onad di belakangnya.
__ADS_1
Mereka memasuki mobil saat tiba di pekarangan rumah, Pak Onad sebagai supir dan Arana sebagai penumpang di jok belakang.
Setelah keduanya siap, mobil pun melaju pergi dari kediaman keluarga Pangestu menuju sekolah tercinta.
Sepanjang perjalanan Arana terus menerus melamun, menghiraukan bisingnya radio yang diputar oleh Pak Onad.
Isi kepalanya di penuhi oleh ayah Jendra tersayang. Perkataan yang dilontarkan ayah Jendra kemarin terus saja berputar di kepala.
'Arana, kamu harus tahu bahwasanya saya tidak pernah menyukai sedikitpun kehadiran kamu disini.' Perkataan itu... Sedikit menyakitkan bagi Arana.
Mereka baru bertemu dalam hitungan jari, tapi ayah Jendra seolah benar-benar membenci kehadirannya di rumah besar itu.
'Baru mau mulai ngedeketin, udah ditolak mentah-mentah gini. Masa harus mundur sebelum maju?' Pikir Arana dalam kepala kosongnya.
'Om, masa saya harus berpaling dari om sih?' Helaan nafas kasar keluar dari bibir Arana, mengapa menyukai pria dewasa bisa serumit ini?
"Non, kita sudah sampai di sekolah," ujar Pak Onad membuyarkan lamunan Arana.
"Oh iya, makasih Pak Onad! Hati-hati pulangnya, dadah Pak Onad." Pamit Arana, lalu melangkahkan kakinya ke dalam bangunan sekolah.
"Pagi Arana!" Sapa teman kelas Arana.
"Pagi Juan." Arana balik menyapa teman kelasnya dibarengi dengan senyuman.
"Dorrrr." Jendra datang mengagetkan Arana tepat setelah Arana menduduki kursinya di kelas.
"Astaga! Jendra! Ngagetin aja!" Arana berteriak kaget. Sedangkan Jendra tertawa lepas melihat Arana yang terkejut karena ulahnya.
"Baru juga sembuh sehari, udah bikin onar aja! Lo tuh harusnya diem di kursi, istirahat yang banyak!" Ingat Arana dengan penuh penekanan.
"Maaf sayang hehe, nggak lagi deh." Jawab Jendra nyeleneh.
Arana tak membalas, ia malah sibuk membenarkan letak duduknya lanjut menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Pikiran Arana kembali melayang pada sosok ayah Jendra. Ah, sebegitu menyukainya Arana pada ayah Jendra, sampai-sampai membuat perasaannya menjadi kacau.
"Ra, kenapa? Sakitnya nular?" Tanya Jendra khawatir.
"Nggak, Jendra." Jawab Arana malas.
Jendra duduk tepat di samping Arana, mengelus punggung kecil itu penuh kasih.
Tak berselang lama, elusan tangan Jendra terhenti, tergantikan dengan sebuah pertanyaan yang mampu membuat dada Arana berdebar hebat.
"Oh iya Ra, kemaren lo ngomong apa sama bokap gue?"
...Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa klik favorit & suka, terimakasih <3