
Episode sebelumnya...
Arana mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Jendra, bokap lo se-brengs*k itu ya?" Pertanyaan tiba-tiba Arana sontak membuat Jendra tersedak ludahnya sendiri.
"Aduh Ra, kok nanyain bokap gue?"
"Penasaran aja, Jen."
Jendra memalingkan wajah ke sembarang arah, kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Iya, se-brengs*k itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arana termenung sesaat usai mendengar jawaban dari sang teman.
"Kenapa?"
Jendra mengernyit. "Kenapa? Apa maksud lo, Ra?"
"Bokap lo... Kenapa bisa..."
Jendra menggelengkan kepala seraya menyenderkan tubuhnya pada kursi.
"Gue juga gatau, Ra. Yang jelas semenjak nyokap gak ada, dia jadi gak karuan. Sering minum lah, sering gonta-ganti pasangan ranjang, keluar masuk club, dan lain sebagainya." Terang Jendra.
Arana menatap tak percaya, separah itu kah ayah Jendra?
"Gue udah coba buat ngingetin, tapi nihil." Sambungnya.
"Jendra, gue bener-bener gak tahu kalo-" ucapan Arana terpotong oleh seorang pria yang mengantarkan makanan pada meja mereka.
"Ini makanan dan minumannya kak, selamat menikmati," ucap pria itu.
"Enak nih kayaknya." Jendra berucap setelah pria tadi pergi.
"Jen..."
"Husstt udah, Ra, nanti lagi bahas bokapnya."
Arana berdehem pelan mengiyakan ucapan Jendra.
Mereka menikmati hidangan dengan tenang. Tak ada sedikitpun pembicaraan yang keluar, keduanya sama-sama disibukkan oleh pemikiran masing-masing sampai makanan yang mereka pesan telah habis.
"Makanannya udah habis, ayo gue anterin lo pulang." Jendra berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar dari cafe, kemudian disusul oleh Arana tepat di belakangnya.
...----------------...
"Dah sampai!" seru Jendra.
"Jen, mau mampir?" tanya Arana setelah ia dan Jendra sampai di kediamannya.
"Boleh?"
"Ya boleh lah!"
"Yaudah, udah lama juga gue gak main-main di rumah lo."
Mereka memasuki bangunan megah itu bersama-sama dengan menaiki motor kesayangan Jendra.
"Sudah pulang, non?" tanya pelayan rumah seraya menuntun Arana dan Jendra masuk ke dalam rumah.
"Iya. Ayah dan bunda ada?" Pandangan Arana menyapu tiap-tiap sudut ruangan.
"Tuan dan nyonya ada, mereka baru saja pulang."
Terdengar suara yang melengking dari arah tangga usai pelayan menjawab pertanyaan sang nona rumah. "Hey, Ara!"
Arana refleks menjatuhkan pandangannya pada tangga. "Bunda! Ngapain teriak-teriak sih?" ucap Arana.
Bunda terkekeh senang, kemudian ia memapahkan kakinya menuruni tangga.
"Terserah bunda dong," balas bunda usil.
__ADS_1
Tiba-tiba bunda menghentikan langkahnya di tengah perjalanan menuju tempat Arana berada. Matanya melotot kaget dengan kedua tangan yang menutupi mulut.
"Ayah! Sini turun, ini ada calon menantumu loh!" Arana terlonjak kaget setelah sang bunda berteriak keras.
Terlihat seorang pria paruh baya yang ikut menuruni tangga menyusul sang bunda.
"Jendra! Udah lama kamu gak main kesini, gimana kabarmu?" Ayah Arana mengulurkan tangan menyapa Jendra yang tengah berdiri kaku.
"O-oh say-saya baik om!" balas Jendra gelagapan.
Ayah Arana menaik turunkan alis guna menggoda teman dari anak gadisnya. "Oy oy, kenapa jadi gagap? Apa kamu malu sama teriakan tante tadi?"
"Ayah, bunda! Jangan goda Jendra, kasian tuh mukanya tegang gitu!" bela Arana.
"Eeumm ngebela 'temennya', so sweet deh!" Arana merotasikan kedua netranya malas.
"Kesenengan tuh Jendra-nya dibela sama kamu, Ra," lanjut bunda.
"Bunda ih." Rengek Arana pada akhirnya.
"Hahaha, udahan bun goda anaknya." Ayah tertawa puas lalu menyudahi acara 'mari menggoda anak tersayang dan teman lelakinya' sebelum Arana benar-benar kesal.
"Duduk disini, kita ngobrol bareng," ucap ayah setelah ia menduduki sofa di ruangan itu.
Arana mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju sofa kosong di sebelah orangtuanya.
"Jendra, kamu gak mau duduk?" tanya bunda heran ketika melihat Jendra yang masih berdiri.
Jendra menganggukan kepala dan segera berjalan mendudukan dirinya tepat disebelah Arana.
"Jendra, maaf ya tadi tante sama om udah gangguin Jendra."
"Eh gapapa tante. Jendra juga gak ambil pusing kok, tan."
Ayah dan bunda tersenyum.
Arana mengernyit. "Jarang-jarang banget bunda sama ayah godain Jendra kaya gitu."
"Masih kaget anaknya, bun." Timpal ayah.
"Oiya, Jendra udah makan?" tanya bunda pada Jendra.
"Udah, tante."
"Oh udah ya, tapi kalo Jendra laper lagi nanti bilang aja ya."
Arana mengerucutkan bibir, kenapa hari ini bunda agak ngeselin ya. "Bun, kok Jendra doang yang ditanyain? Ara nggak?"
"Wah ada yang cemburu nih, bun," ucap ayah untuk mengompori.
"Apaansi, yah, Ara gak cemburu tuh!" Elak Arana.
"Jendra belum laper, tan. Kebetulan sebelum kesini Jendra sama Arana pergi makan dulu." Jendra dengan cepat menjawab pertanyaan yang Bunda Arana lontarkan sebelum pertikaian kecil antara Arana dan ayahnya semakin menjadi-jadi.
"Ngedate toh." Ayah ber-oh ria.
Arana menyilangkan kedua tangannya, membantah tuduhan sang ayah. "Ngarang, orang makan biasa kok!"
Arana mengalihkan pandangannya ke arah bunda. "Bunda, lihat ayahnya nakal." Adu Arana sembari memajukan bibirnya kedepan.
"Ayah, udah dong jangan gangguin anak gadisnya." Lerai bunda lembut.
Arana menjulurkan lidahnya keluar, meledek sang ayah di depan bunda dan Jendra.
Arana dan bunda menertawai ayah yang sedang mengomel-ngomel tak jelas.
Di sisi lain terdapat Jendra yang tengah tersenyum sendu menatap keluarga harmonis teman dekatnya. Ingin rasanya ia merasakan kehangatan dalam keluarga.
'Gak mungkin banget keluarga gue kayak mereka.' Lirih Jendra dalam hati.
"Aduhh, kita jadi nganggurin Jendra nih!" Seru ayah sembari menepuk jidatnya pelan.
Jendra tersenyum kecil menanggapi penuturan Ayah Arana.
__ADS_1
"Jendra, kamu baik-baik aja kan?" Tanya bunda.
"Jendra baik-baik aja, tan."
"Syukur deh."
"Memangnya kenapa, tante?"
"Lo daritadi diem aja, mana pandangan mata lo kosong lagi," ucap Arana menimpali pembicaraan bunda dan Jendra.
"Kalo ada apa-apa bilang sama om atau tante, siapa tahu kita bisa bantu."
Jendra melebarkan senyumannya lalu mengangguk semangat mengiyakan ucapan Ayah Arana. "Siap, om!"
"Ngomong-ngomong kalian bentar lagi ujian akhir semester satu ya."
"Iya, bun. Sekitar dua mingguan lagi kita ujian," balas Arana santai.
"Udah siap buat ujiannya?" tanya ayah.
Jendra dan Arana serempak menggeleng. "Belum, om."
"Duh gimana sih, dua minggu gak bakalan kerasa loh. Mulai senin depan kalian harus mulai nyicil materi oke?"
"Tenang aja kali, yah, kami juga pasti belajar kok."
"Boleh santai, tapi jangan terlalu terlena," timpal bunda.
"Siap, bun!"
"Siap, tan!"
Arana menoleh pada Jendra usai mereka berseru. "Jen, ini udah mau malem," ucap Arana mengingatkan.
"Oh iya ya."
"Jendra, nginep aja disini." Ayah berucap seraya berdiri.
"Maaf, om. Jendra bukan bermaksud untuk membuat om marah atau kesal karena Jendra menolak tawaran om, tapi sepertinya Jendra memang harus pulang sekarang, om."
"Jendra, Jendra, siapa yang bakal marahin kamu coba?" Ayah terkekeh geli mendengar Jendra.
"Kalo gitu cepetan pulang sebelum larut malam."
"Iya, tante."
Bunda menatap Jendra lembut. "Ini bukan berarti tante ngusir kamu loh ya," ucap bunda meluruskan.
"Iya, tante, Jendra paham kok."
"Om, tante, Jendra pamit pulang dulu. Ra, gue pulang ya." Pamit Jendra pada Arana dan kedua orang tua Arana.
"Hati-hati di jalan, Jendra. Kapan-kapan mampir lagi kesini."
"Pasti, om. Selamat malem semuanya."
"Ayo gue anterin sampe depan."
Keduanya berjalan beriringan menuju pintu utama.
"Hati-hati terus jangan ngebut!"
Jendra tersenyum usil. "Baik, nona."
"Nona nona mata lo nona!" ucap Arana kesal.
Jendra tertawa terbahak-bahak mendengar tanggapan Arana.
"Udah ketawanya, sana pulang!" usir Arana.
"Haha iyaiya, gue pulang nih. Bye Arana!" Pamit Jendra ntah ke berapa kalinya.
...Bersambung... ...
__ADS_1