Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku

Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku
Bercerita


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Arana terkejut, sungguh. Ia tak menyangka, walaupun sebenarnya ia sadar bahwa ini memanglah tempatnya si pria jadi kemungkinan untuk bertemu sangatlah besar. Seperti sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eumm... itu, saya ingin membawakan Jendra minum om." Bersitatap dengan ayah Jendra membuat Arana menjadi gugup luar biasa.


Dapat Arana lihat mata dari sang lawan bicara menajam, menatap tak suka ke arahnya.


'Gue harus ngapain? Kenapa tajem gitu sih lihatin gue nya hah?!' Arana terus merutuki Reno di dalam hati.


Karena tidak tahan dengan tatapan tajam itu, akhirnya Arana memberanikan diri untuk segera mengambil air minum yang letaknya tak jauh dari tempat berdirinya Reno.


Ia sedikit membungkukkan tubuhnya ketika melewati ayah dari sang teman. "Permisi om."


Reno tetap diam tak bergeming.


"Mari om, saya pergi ke kamar Jendra dulu," pamit Arana tergesa-gesa. Ia tidak bisa berlama-lama disini, ia harus segera kembali kedalam ruang kamar Jendra.


Belum sempat Arana melarikan diri, tangan dari lawan bicaranya kini telah bertengger manis di bahu kanannya.


Keringat dingin mulai bercucuran. Sekarang ia sangat gugup, sungguh. 'Mampuss, mau ngapain ini si om?!' Pikir Arana panik.


"Kenapa kamu berkeliaran disini dengan bebas? Siapa yang mengijinkan?" tanya Reno dingin.


Arana menggigit bibirnya bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa. Tadi, apakah Jendra mengijinkan ia untuk berkeliaran di rumah ini? Ah, ia tidak berkeliaran! Ia hanya akan pergi ke dapur untuk mengambil minuman miliknya dan Jendra.


"Ma-maaf om, saya hanya ingin ngambil minuman ini, saya tidak berniat untuk berkeliaran."


Lawan bicaranya mengangkat alis tak percaya. "Sungguh?"


Anggukan kecil Arana berikan sebagai jawaban.


"Baiklah, cepat kembali. Saya tidak ingin melihat kamu lagi." Setelah berucap demikian Reno pun pergi meninggalkan Arana yang berdiam diri dibelakangnya.


Sebenarnya apa salah Arana? Kenapa Om Reno terlihat tidak senang dengan kehadirannya?


...----------------...


"Kenapa kayak lesu banget gitu, Ra?" tanya Jendra heran.


Pasalnya, Arana terus saja menekukkan kedua sudut bibirnya kebawah setelah ia kembali dari dapur. Sangat berbanding terbalik dengan Arana beberapa waktu lalu, yang masih mengembangkan senyuman manisnya.


Tentu saja hal itu membuat Jendra menjadi keheranan. "Lo gapapa kan?"


Arana menatap Jendra sekilas, lalu bergumam tak jelas.


"Hah? Ngomong apaan sih?"


"Gue gapapa," balas Arana cepat.


"Kalo ngomong tuh yang jelas, Ra!"


"Udah, gue udah jelas kok ngomongnya."


Jendra merotasikan kedua matanya malas. "Jelas dari hongkong."


Arana mendengus pelan setelah mendengar gerutuan dari sang teman dekat.


"Gue gak mau ngomong lagi deh, males."


"Kenapa sih? Kok jadi badmood gini?"


"Ya gara-gara lo lah."


Kedua alis Jendra saling bertaut. "Kok gara-gara gue?"


"Ya-ya gitu deh, lo ngeselin!"


"Dih, gak jelas banget."

__ADS_1


Arana tidak mengeluarkan suara, ia malas untuk sekedar membalas perkataan Jendra barusan.


Melihat Arana merajuk seperti ini membuat senyuman Jendra mengembang tanpa sadar.


"Arana, sini." Pinta Jendra sembari mengayunkan tangan, memberi isyarat agar Arana mendekat.


Arana menurut. Ia mendekati Jendra, lalu ikut berbaring di samping sang teman.


Jendra mengulurkan tangan, mengusap rambut Arana pelan.


"Lo kenapa hm?" Jendra bertanya dengan lembut.


Usapan Jendra membuat Arana menggeliat, mencari-cari posisi yang membuatnya nyaman.


"Gapapa, Jen." Jawab Arana setelah menyamankan posisinya di dalam dekapan Jendra.


"Kalo ada masalah bilang aja ya."


Arana menganggukkan kepala menyetujui perkataan Jendra.


"Gue selalu ada disini buat lo," lanjut Jendra.


Senyuman tulus terukir di bibir Arana. "Iya tahu, makasih karena selalu ada."


"Gak perlu bilang makasih, udah tugas seorang sahabat juga kan?"


"Heem tapi lo terlalu baik, Jen."


Jendra mengeratkan pelukan mereka. "Lo juga baik sama gue, dan kita saling timbal sebenernya."


"Simbiosis mutualisme gitu?"


"Ya, bisa dibilang gitu."


Tak ada balasan yang Jendra dengar dari Arana. Apakah Arana tidak setuju dengan perkataannya?


"Kenapa diem?"


"Ya... Gak perlu ngapa-ngapain sih."


"Terus?"


"Gak ada terusannya, Ra."


"Kenapa?"


"Karena udah stuck, jadi gak bisa jalan terus," balas Jendra asal.


"Apanya yang stuck?"


Jendra menggaruk tengkuknya canggung, mengapa pembahasannya menjadi seperti ini?


"Bentar-bentar, kok pembahasannya jadi gini ya?"


"Lo duluan!"


"Lupain aja deh, pembahasannya gak bermutu. Sekarang lo tidur aja disini, temenin gue sebelum lo dijemput Pak Onad."


Pelukan mereka semakin erat, menikmati kehangatan yang tercipta oleh keduanya.


...----------------...


"Gimana kabar Jendra?"


"Masih sakit, tapi udah lebih mendingan."


Bunda mengangguk mengerti. "Kenapa kamu gak nginep dirumahnya, Ra?" Tanya bunda usil.


"Lho? Kok bunda nanya gitu, apa bunda mau Ara gak pulang?"


"Ya siapa tahu aja kamu pengen nginep disana, Ra."

__ADS_1


Arana tertawa renyah mendengar godaan dari sang bunda. "Bunda kayak gak tahu ayah aja."


"Ah iya, ayah kamu tuh posesif banget."


Arana berdehem pelan mengiyakan pendapat bundanya.


"Ara, bunda mau nanya serius." Ucapan bunda membuat Arana menoleh.


"Bunda mau nanya apa emangnya?"


"Sebenernya hubungan kamu sama Jendra tuh apa?"


"Hah? Kita cuman temen kok, bun." Dengan spontan Arana menjawab pertanyaan dari ibunda tercintanya.


Bunda menatap curiga. "Masa sih?"


"Ya iya, emang bunda ngiranya kami pacaran?"


"Awalnya sih nggak, tapi setelah bunda perhatiin, lama kelamaan hubungan kalian jadi romantis banget." Bunda mendekati Arana, lalu mendudukan tubuhnya tepat di samping Arana.


"Siapapun pasti ngiranya kalian pacaran," lanjut bunda.


"Kita gak pacaran." Arana membantah ucapan bunda dengan cepat.


"Pacaran juga gapapa kok." Goda bunda sembari mengelus pucuk kepala Arana sayang.


"Kata ayah jangan."


"Kalo itu Jendra, ayah pasti ngijinin."


"Berarti selain Jendra jangan?"


"Jangan, bunda juga gak ngijinin kalo calon pacar kamu bukan Jendra."


"Kenapa?"


"Karena bunda sama ayah udah tahu gimana sosok Jendra, kami percaya Jendra bakalan jagain kamu sepenuh hati."


Keheningan menyelimuti dalam sejenak. Arana tidak tahu harus menjawab apa pada sang bunda.


"Tapi jika dikemudian hari kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dan bisa jagain kamu, tak apa, bawa saja dia menghadap kami."


"Meskipun itu bukan Jendra?"


"Meskipun itu bukan Jendra. Kami pasti akan menyetujui keputusan kamu."


"Apapun itu?"


"Ya, selagi itu bisa membuat kamu bahagia kenapa tidak?"


Seperti mendapatkan lampu hijau, Arana tersenyum senang mendengarkan penuturan bundanya.


"Jadi, sekarang kamu lagi suka sama siapa?" Tanya bunda.


"Gak tahu, perasaan Ara abu-abu."


"Galau ceritanya?" Senyuman jahil terukir di bibir bunda.


"Gak galau, bunda. Ara cuman ngerasa..." Arana menjeda ucapannya.


"Ngerasa apa?"


"Hampa."


"Hampa? Ini bukan tentang bunda ataupun ayah kan?"


"Bukan, bukan, ini tentang perasaan Ara ke lawan jenis."


Bunda terkekeh geli melihat semburat merah muda di pipi putrinya itu.


"Oh cinta tak terbalaskan jadinya hampa, kan?"

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2