
Episode sebelumnya...
"Bilang ganteng cuman pas ada maunya aja, untung sohib gue, kalo bukan udah gue jitak tu pala. Sama-sama." Jendra membalas dengan malas.
"Yaudah sih jangan ambekan gitu! Lo juga sadar kan tanpa gue bilang pun."
"Sadar apa?"
"Sadar, kalo lo emang ganteng."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi nona cantik, gimana makanan semalem? Enak hm?" Jendra berdiri di depan Arana, menghadang sang teman dengan pertanyaan-pertanyaan tak bermutu.
"Makanannya enak, tapi gak gue habisin semua." Jawab Arana tenang.
"Kenapa gak dihabisin?" Jendra kembali bertanya.
"Ya lo pikir aja! Makanan sebanyak itu mana mungkin bisa gue habisin bege." Arana merotasi kan mata malas.
"Kan lo yang minta, Ra."
"Iya, tapi kan gue ngirinya lo cuman pesen makanan yang gue pengen, eh tahu-tahunya lo malah pesen semua menu domino* " Keluh Arana.
"Pusing deh gue cara habisinnya gimana." Lanjutnya.
"Terus makanannya lo kemanain?" Tanya Jendra.
"Gue bagi-bagiin ke Pak Onad sama pekerja lainnya di rumah."
"Hm bagus deh, jadinya gak mubazir."
"Salah siapa pesenin makan segitu banyaknya." Jendra menghela nafas panjang mendengar penuturan Arana.
'Lo kan juga mau gue kirimin semua makanan domino*' Jendra berucap dalam hati.
"Berarti kalo nanti lo minta makanan, gak gue beliin ya." Jendra memilih mundur lalu berbalik arah meninggalkan Arana seorang diri di depan pintu.
"Ya gak bisa gitu lah, Jen!" Teriak Arana seraya berlari kecil menuju Jendra.
"Becanda! Mana mungkin gue nolak permintaan lo." Balas Jendra tenang.
"Ha-hah?" Arana salah tingkah usai mendengar balasan Jendra. Sedangkan Jendra, ia hanya mengangkat bahunya acuh.
"Gue mau ngajakin lo ke rumah," ucap Jendra tiba-tiba.
"Eh? Tumben banget."
__ADS_1
"Mau nggak? Ya syukur kal-"
Arana cepat-cepat memotong ucapan Jendra. "Ya mau lah, kapan lagi gue ke rumah lo."
"Pulangnya bareng gue aja berarti, Pak Onad jangan jemput lo."
"Iya iya, nanti gue bilang Pak Onad." Arana berucap dengan senyuman lebar.
'Uh gak sabar buat ketemu Om Reno!' Tutur Arana dalam hati.
"Kenapa lo?" Tanya Jendra heran karena Arana terus mengembangkan senyumannya, berbeda dengan tadi.
"Ah haha gapapa kok, gue gapapa haha," balas Arana masih dengan tingkahnya yang aneh (menurut Jendra).
Jendra tak sempat untuk menimpali balasan Arana, sebab bel masuk sudah lebih dulu berbunyi dibarengi dengan suara gebrakan pintu kelas.
Semua pandangan tertuju pada tersangka penggebrakan pintu kelas. "Oy cepatan siap-siap! Bu Riri bentar lagi dateng!" Teriak tersangka dengan rusuh.
Setelah mendengar teriakan dari temannya, Arana dan teman kelas lainnya buru-buru menduduki kursi masing-masing lalu menyiapkan buku pelajaran Bu Riri.
Tak berselang lama pintu kelas pun kembali terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi khas guru-guru Indonesia.
"Pagi anak-anak! Sebelum belajar mari kita berdo'a terlebih dahulu. Clarissa, pimpin berdo'a!" Serunya.
...----------------...
Jendra memicingkan mata curiga. "Ngapain lo nanyain bokap gue?"
"Nanya doang elah, gak boleh emangnya?"
"Ya gak boleh lah." Jawab Jendra ketus.
Jendra berhenti melangkah, ia menunjuk sofa besar yang ada di ruang tv. "Lo duduk dulu disana, gue mau ke dapur bentar." Pinta Jendra sembari melanjutkan langkahnya.
"Mau ikut Jendra!" Arana berlari kecil untuk menyusul Jendra.
"Ngapain ikut segala sih, gue kan cuman mau ngambil minum, Ra!" Omel Jendra.
"Ya gapapa dong terserah gue!" Balas Arana tak mau kalah.
"Kenapa lo ngeribetin aj-" Ucapan Jendra terhenti ketika kedua matanya tidak sengaja menatap ke arah depan. Mata sipit itu mendelik tajam, pemandangan di depannya sungguh memuakkan bagi Jendra.
Disisi lain Arana mengernyit heran karena Jendra yang tiba-tiba terdiam. Ia memperhatikan Jendra sejenak sebelum netranya menatap lurus ke depan.
'Deg'
Sekarang ia tahu alasan dari diamnya sang teman. Sama seperti Jendra, Arana pun ikut terdiam usai melihat pemandangan didepannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Jendra tersadar. Ia berbalik tergesa-gesa seraya mengulurkan tangan untuk menghalangi penglihatan Arana. "Maaf, Ra." Bisik Jendra tepat di depan wajah syok Arana.
Arana tak menggubris perkataan yang Jendra lontarkan, ia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.
Bagaimana tidak terkejut, di depan sana, tepatnya di atas meja makan kediaman Abraham, terlihat Ayah Jendra tengah bercumbu mesra dengan sosok wanita berpakaian seksi. Ayah Jendra dan wanita itu terlihat begitu hanyut dalam suasana keintiman yang mereka ciptakan sendiri. Hati Arana sakit, ia tak menyangka akan hal itu. Ia pikir Om Reno adalah sosok pria baik dan bertanggungjawab, nyatanya semua hanyalah ekspetasi Arana saja.
"Ara, Arana, gue anter pulang ya?" Jendra berbisik kembali.
Arana tetap terdiam.
"Ara!" Panggilan Jendra sedikit keras, membuat Arana tersentak kaget.
"Hah?!" Akibat terkejut Arana pun membalas dengan tak kalah kerasnya.
'Bruk.. bruk..' Suara benda jatuh terdengar nyaring.
"Ngapain kalian disini?!" Teriak seorang pria di depan sana.
Arana dan Jendra serentak menoleh pada sumber suara, menatap sepasang wanita dan pria dewasa yang kini tengah merapikan diri mereka masing-masing.
"Kalian tahu, kalian telah mengacau!" Teriak Reno.
"Tuan, saya mohon tenang sedikit." Ucap wanita di samping Reno sembari menautkan jemarinya pada sang atasan.
"Lepas! Kamu keluar sekarang, saya sudah tidak mood lagi!" Reno melepaskan tautan tangan mereka, lanjut mengusir partner satu malamnya itu.
"Satu lagi, mulai sekarang jangan kembali lagi ke perusahaan saya!" Lanjut Reno. Sedangkan si wanita menatap Reno tak percaya. Tadi mereka baik-baik saja, tapi mengapa kini suasana menjadi runyam.
Tanpa ingin berlama-lama lagi, partner wanita Reno pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Jendra, gue juga mau pulang." Arana berucap pelan.
"Urusan kita belum selesai, kenapa kalian ingin pergi begitu saja hah?!" Reno masih tak terima atas kejadian yang baru saja terjadi.
"Urusan apa? Soal memergoki kalian tadi? Kami hanya tidak sengaja melihat kalian yang sedang bercumbu, tidak ada niatan untuk menggangu." Jelas Jendra dingin. Setelah berucap demikian, Jendra menggenggam tangan Arana erat lalu menariknya pelan, mengajak Arana untuk pergi.
...----------------...
"Ara, maafin gue ya. Gue pikir dia gak bakalan berulah, gue ngerasa bersalah udah bawa lo ke rumah hari ini." Jendra menundukkan kepala, menyesali kesalahannya.
"Bukan salah lo. Makasih buat tumpangannya, hati-hati di jalan." Arana segera menuruni mobil tanpa menunggu balasan dari si pemilik.
Jendra tak mencegah pergerakan Arana, ia membiarkan Arana pergi. Dalam mobil, Jendra terus menatapi punggung Arana sampai punggung itu benar-benar hilang dari penglihatannya.
'Ra, lo kecewa sampe marah gini sama dia tuh karena lo ngerti posisi gue kan? Aneh, kenapa gue ngerasanya lain ya, Ra.' Monolognya.
...Bersambung... ...
__ADS_1
Haloo, bertemu lagi dengan saya di episode terbaru ini. Jangan lupa klik favorit + suka yaa, terimakasih<3