Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku

Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku
Ingin mengenal om


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Benar-benar membuat muak!" Ujarnya.


"Sudah di beri peringatan, tapi tetap saja berani membawa anak tengil itu kesini." Marahnya.


Diketahui bahwa pria itu kini tengah marah, kesal, karena sang anak tak mau mendengarkannya. Ia juga marah pada perempuan muda yang dengan sengaja menggodanya tadi.


'Tidak tahu diri.' Pikir pria paruh baya, yang diketahui sebagai ayah Jendra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu sudah waktu berjalan. Semenjak Arana mengenal ayah Jendra, Arana semakin menggebu-gebu untuk ikut Jendra pulang ke kediaman Abraham (rumah Jendra dan ayahnya).


Jendra tentu saja menolak. Bukan tanpa alasan ia menolak Arana datang berkunjung ke rumahnya.


Beberapa hari ini ayahnya terus 'berulah'. Jendra hanya takut jika Arana melihat dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya, pada keluarganya. Maka dari itu, Jendra memilih menolak permintaan Arana.


Awalnya Arana terlihat kesal, tetapi pada akhirnya ia mengalah, tidak lagi meminta untuk datang berkunjung ke rumah Jendra.


"Janji dulu ke gue!" Tuntut Jendra.


"Janji apaan sih?"


"Janji buat gak dateng lagi ke rumah gue," ucap Jendra.


Arana tidak terima, ia melototi uluran tangan Jendra. Arana diam, tidak berniat menyambut uluran tangan temannya itu.


"Masa gak dateng selamanya sih." Arana mengeluh pada Jendra. Arana bersedih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika ia tak lagi datang berkunjung ke tempat Jendra.


"Gak boleh datengnya beberapa hari ini aja deh, gimana?" Lanjut Arana.


"Gue mau lo gak dateng selamanya." Ucapan Jendra dihadiahi dengusan tak suka dari Arana.


"Jangan gitu dong! Gue kan masih mau main-main ke rumah lo." Arana memajukan bibirnya ke depan, merajuk pada Jendra.


Jendra sedikit prihatin dengan Arana yang terus mencoba membujuknya.


"Hahh yaudalah, lo boleh dateng lagi ke rumah, tapi gak sekarang-sekarang datengnya!" Final Jendra.


"Iya Jendra. Makasih ya udah ngizinin gue dateng lagi ke rumah lo." Arana bergelayut manja pada Jendra, membuat Jendra merotasi kan kedua netranya.


"Lo manja kalo ada maunya doang ya?" Selidik Jendra.


"Hehe kok tahu sih." Arana berucap dengan tampang polos yang dibuat-buat.


"Ya, ketebak," ucap Jendra malas.


"Jangan jutek gitu dong, mending kita pergi ke kantin sebelum bel masuk," Ajak Arana.


"Hhmm." Balas Jendra.


Mereka pun bangkit dari kursi yang di duduki sedari tadi, lanjut melangkah beriringan menuju kantin.


"Hey Jendra, hey Ara!" sapa teman sekolahnya ketika Jendra dan Arana telah sampai di tempat tujuan.


"Hey, Na." Balas keduanya.

__ADS_1


"Seperti biasa, kemana-mana barengan." Goda ¹teman mereka.


"Cocok banget ya buat jadi pasangan kekasih." Celetuk ²teman mereka yang lainnya dengan rusuh.


"Atau jangan-jangan kalian emang pacaran lagi?" Tanya sang ¹teman.


"Apa?! Kalian beneran pacaran?!" Heboh perempuan muda yang diketahui sebagai teman kelas Arana dan Jendra. Dan karena dia suasana kantin pun menjadi rusuh.


Disisi lain Arana dan Jendra hanya bisa tersenyum kikuk mendengar kehebohan dari teman-teman sekolahnya.


'Ngawur kalian! Gue tuh naksir bapaknya Jendra, bukan naksir Jendra!' Arana berteriak lantang dalam hati.


"Ya nggak lah! Kita gak pacaran tuh." Arana menyangkal rumor yang baru saja beredar.


"Ada-ada aja lo pada, mana mungkin gue suka sama dia. Asal lo-lo tahu ya, tipe gue bukan kek dia jirr." Jendra ikut menyangkal sambil bergidik ngeri membayangkan ia yang menyukai Arana.


"Yahh gak pacaran berarti." Beberapa temannya yang berada di kantin meraung-raung kecewa mendengar penuturan dari Jendra dan Arana.


"Nggak lah." Balas Jendra dan Arana berbarengan.


"Btw guys, ayo makan bareng. Bentar lagi bel bunyi nih." ⁴Temannya mencoba mengalihkan topik, agar suasana di kantin lebih kondusif.


"Ah iya anjir, buru-buru. Mampus kalo Pak Mahmud tahu kita masih disini pas bel bunyi."


...----------------...


Pulang sekolah tiba.


"Jen, lo pake motor?" Tanya Arana.


"Iya, kenapa emangnya?" Jendra balas bertanya.


"Ya mau gimana lagi. Udahlah, gue gak bakal kenapa-napa kok."


"Tapi kalo sampe lo sakit gimana?" Arana masih belum yakin membiarkan Jendra pulang dengan sepeda motor.


"Gue gak bakal sakit, toh baru sekali ini gue hujan-hujanan." Jendra mencoba meyakinkan Arana.


"Nanti gue kasih kabar deh kalo udah nyampe rumah." Lanjut Jendra menenangkan Arana yang masih terlihat khawatir.


"Yaudah deh, nanti kabarin gue kalo lo udah nyampe." Arana kalah, ia tidak bisa memaksa Jendra untuk menurutinya.


Jendra hanya mengangguk sebagai balasan. Ia menaiki motor, lalu melambaikan salam perpisahan. Arana menyambut lambaian tangan itu sembari mengucapkan kalimat 'hati-hati, Jendra.'


Mereka pulang secara masing-masing. Jendra dengan sepeda motornya, Arana dengan mobil yang disupiri Pak Onad.


"Non, Den Jendra itu pacar non?" Pak Onad tiba-tiba bertanya.


"Bukan pak, dia hanya seorang teman." Balas Arana tenang.


"Oalah, saya pikir Den Jendra itu pacar non." Sang nona muda hanya tersenyum sekilas.


'Kalimat Pak Onad ini gak perlu di jawab kali ya.' Pikir Arana.


...----------------...


Besoknya di sekolah, ketika jam pulang tiba.

__ADS_1


"Ra, kok Jendra gak dateng ke sekolah?" Tanya seorang teman.


"Gue juga gatau. Baru mau dateng ke rumahnya ini."


Arana tidak berbohong, ia nekat datang ke kediaman Abraham (rumah Jendra dan ayahnya) sepulang sekolah dengan Pak Onad yang menyetir mobil. Arana kepalang khawatir dengan kondisi Jendra. Pasalnya, hari ini Jendra tidak datang ke sekolah, ia juga tidak memberitahu Arana mengenai kondisinya pagi ini.


"Nona, benar ini rumah Den Jendra?" Tanya Pak Onad memastikan ketika mereka telah sampai di depan bangunan megah berwarna putih.


"Benar, pak." Balas Arana.


Mobil Arana memasuki kediaman Abraham setelah mendapatkan izin dari penjaganya.


"Jendra ada?" Ucap Arana setelah memencet bel rumah Jendra.


"Oh tuan muda ada didalam, nona ini yang minggu lalu berkunjung ke sini ya?" Balas pelayan sembari mengingat-ingat sosok Arana.


"Iya, itu saya."


"Mari non, saya antarkan ke tempat tuan Jendra." Ajak pelayan rumah pada Arana.


Ditengah perjalanan menuju kamar Jendra, tak sengaja Arana berpapasan dengan ayah Jendra.


"Om," panggil Arana tepat di hadapan ayah Jendra dan otomatis membuat ayah Jendra berhenti berjalan.


Melihat situasi yang sepertinya kurang kondusif, pelayan di rumah itu memilih untuk pamit undur diri, meninggalkan tempat.


"Tuan, nona, sepertinya saya harus pamit undur diri terlebih dahulu, permisi." Pamit pelayan sembari membungkukkan badan.


Tinggal lah ayah Jendra dan Arana disana.


"Mau apa kamu?" Ayah Jendra bertanya dingin.


Arana tersenyum kecil.


"Saya ingin menjenguk Jendra, om. Sekalian bertemu dengan om." Jawaban dari Arana membuat kedua mata ayah Jendra menyipit tajam.


"Saya tidak suka mendengar omongan kamu yang terakhir." Jelas ayah Jendra.


"Maaf om, tapi saya tidak memperdulikan itu." Arana membalas dibarengi dengan senyuman lebarnya.


Ayah Jendra diam, enggan untuk menjawab.


"Om, saya ingin mengenal om. Tolong jangan melarang ataupun menghalangi." Reno selaku ayah Jendra dibuat bungkam oleh ucapan Arana.


'Mengeringkan.' Pikir Reno.


"Arana, kamu harus tahu bahwasanya saya tidak pernah menyukai sedikitpun kehadiran kamu disini." Setelah itu Reno pergi meninggalkan Arana yang termenung seorang diri.


...Bersambung......


¹Teman \= teman sekolah yang pertama


²Teman \= teman sekolah yang kedua


³Teman \= teman sekolah yang ketiga


⁴Teman \= teman sekolah yang keempat

__ADS_1


Jangan lupa klik 'favorit' & 'suka', terimakasih<3


__ADS_2