Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku

Calon Suamiku Adalah Ayah Temanku
Reno, nama ayah Jendra


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Semesta mengabulkan keinginan Arana, ayah Jendra tiba-tiba saja menghentikan langkahnya lalu berbalik. Melihat itu senyum Arana mengembang.


'Kesempatan tahu nama si om!' Pikir Arana konyol.


"Om! Nama om siapa?" Pertanyaan konyol Arana dihadiahi tatapan tajam nan dingin oleh ayah Jendra.


"Untuk apa?" Bukannya menjawab, ayah Jendra malah balik bertanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tidak untuk apapun. Saya hanya ingin tahu saja," balas Arana.


Ayah Jendra kembali berbalik arah, meninggalkan Arana tanpa memberi jawaban untuk pertanyaan yang Arana lontarkan.


"Om, saya belum mendapatkan jawabannya." Arana dengan berani mengejar ayah Jendra. Tak berhenti disitu, Arana pun nekat memegangi lengan ayah Jendra.


"Tahu tidak, kamu membuat saya muak. Berhenti untuk mengganggu." Ayah Jendra menepis tangan Arana kuat.


Arana dibuat terdiam dengan tindakan ayah Jendra. Kasar, lirih Arana dalam hati.


Tapi Arana tak akan menyerah!


Sepeninggalan ayah Jendra, Arana kembali masuk ke dalam kamar Jendra.


Baru saja ia ingin menutup pintu, tiba-tiba Jendra datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Lo udah dari mana?" Tanya Jendra heran.


"Hah? Nggak kemana-mana kok." Arana berakting seolah-olah ia ada di kamar sejak Jendra keluar.


"Tapi tadi gue lihat lo di luar kamar loh, Ra." Jendra memicingkan mata, mencurigai Arana.


"O-oh tadi, tadinya gue mau nyusul lo ke dapur, heem ke dapur." Arana menggaruk lehernya yang tidak gatal akibat gugup.


"Eh mending makan sekarang gak sih? Laper nih gue." Arana mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Tak mau ambil pusing, akhirnya Jendra menuruti Arana. Ia meletakkan nampannya di lantai kamar.


"Lo mau gue suapin gak?" Tanya Arana sembari menatap Jendra.


"Boleh, sini." Balas Jendra.


Arana tersenyum mendengar balasan Jendra, ia terus menyuapi Jendra sampai makanannya habis tak tersisa.


"Kenyang banget, makasih sayang hehe." Jendra seketika tersedak usai Arana memanggilnya 'sayang'.


"Jen, Jendra, lo kenapa deh? Nih cepetan minum." Arana panik, ia menyodorkan Jendra minum sembari mengelus punggung Jendra pelan.


"Lo sih! Bikin gue kaget aja." Jendra menyalahkan Arana atas insiden tersedaknya barusan.


Arana melotot tak terima dengan tudingan yang dilontarkan Jendra terhadapnya. Apa salah Arana? Mengapa Jendra menyalahkannya?

__ADS_1


"Gue salah apa, Jen. Kok lo tega nuduh gue sih," ujar Arana kesal.


"Kata-kata lo tadi.... Astaga, Arana, udahlah lupain aja." Jendra dibuat frustasi oleh temannya itu. Apa Arana salah memilih makanan tadi pagi? Mengapa tingkahnya sekarang sangat aneh dan menggelikan.


"Gak jelas lo!" Kesal Arana.


"Lo juga gak jelas kali, Ra." Balas Jendra tidak mau kalah.


Arana tidak ingin menanggapi balasan dari Jendra. Ia malah memikirkan hal lain.


'Apa tanyain aja ke dia?' Pikir Arana keras.


"Jendra, lo kan punya bokap. Nah, nama bokap lo siapa?" Tanya Arana tanpa basa-basi.


Jendra diam, ia berpikir mengenai Arana yang tiba-tiba bertanya tentang ayahnya.


"Kok diem sih. Kasih tahu gue buru." Pinta Arana.


"Buat apa lo tahu nama bokap gue?" Arana dibuat merinding oleh nada dingin Jendra saat bertanya menyelidikinya.


"Nama bokap lo mau gue pake buat daftar di bank berjanji. Ya biar tahu lah, pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Bokap lo aja tahu nama gue siapa, masa gue gak tahu balik nama bokap lo, Jen, gak adil dong." Jelas Arana.


"Gak usah kenal sama bokap gue, yang ada lo malah nyesel nantinya." Jendra masih kekeuh tak ingin memberitahukannya pada Arana.


"Bokap lo perampok? Bokap lo narapidana? Bukan kan, gue yakin gak bakalan nyesel!" Arana berujar dengan penuh semangat dan bersungguh-sungguh.


"Lo suka sama bokap gue?" Selidik Jendra, sontak membuat Arana menggeleng keras menyembunyikan perasaan sesungguhnya.


"Reno Zayan Abraham," ujar Jendra singkat.


Arana menahan senyumnya, tidak dapat dipungkiri ia sangat senang mendengar jawaban Jendra.


"Makasih Jendra sayang." Arana mengerlingkan matanya ke arah Jendra. Tidak dapat dipungkiri bahwa Jendra sedikit terpana, tapi ia tidak memberitahukan Arana perihal itu.


"Udah puas kan sekarang? Ayo ngobrolin yang lain!" Rengek Jendra.


Arana tertawa mendengar rengekan Jendra.


Sangat menggemaskan!


'ddrrttt... ddrrrttt.... '


"Ponsel lo bunyi tuh, Ra." Arana mengangguk, menggapai ponsel lalu melihat nama sang penelepon


"Anjir, nyokap gue." Arana panik setengah mati. Arana ingat, Arana belum sempat izin untuk pergi pada sang bunda tadi.


"Halo bunda," sapa Arana tenang, menyembunyikan kegelisahannya.


"Hai Arana," balas bunda dari sebrang sana.


"Kenapa nelepon bun?" tanya Arana sebagai basa-basi.


"Gini, kamu masih inget rumah kan, Ra?" bunda tidak menjawab, ia balik bertanya kepada Arana.

__ADS_1


"Hehe maaf bundaa. Tadi Ara lupa buat bilang bunda, sumpah deh."


"Terus kenapa bisa lupa?"


"Gatau bun, tiba-tiba aja lupa."


"Padahal bunda sudah nunggu kamu pulang." Perkataan bundanya itu membuat Arana merasa bersalah.


'Tega banget gue sama bunda.' Pikir Arana penuh sesal.


"Maaf bunda, bunda boleh marah sama Ara. Ara gak bakalan marah balik ke bunda," ujar Arana. Alih-alih memarahi Arana, sang bunda malah tertawa renyah setelah mendengar suara Arana yang sudah pasrah.


"Loh kenapa bunda gak marah?" Arana bertanya heran.


"Ngapain marah, Ra?" jawab bunda.


"Ara pikir bunda bakalan marah, bakalan bentak Ara karena kesal." Bunda tersenyum kecil di sebrang sana.


"Kok kamu mikir gitu? Emangnya bunda suka bentak kamu kalo marah?" Arana diam, bunda bukan tipe ibu yang suka bentak anak saat marah sebenarnya. Mampus, Arana salah berbicara pada bunda.


"Ara," panggil bunda karena Arana terus terdiam.


"Ya bunda," sahut Arana.


"Pulang sayang, ini udah malem. Bunda khawatir sama kamu." Suara lembut bunda mampu menyihirnya, Arana bergegas membereskan barang-barang.


"Ya bunda, Ara pulang sekarang ya."


"Ya, hati-hati di jalan. Bilang sama Jendra, jalanin mobilnya pelan aja terus anak bundanya di jaga biar gak lecet." Arana terkekeh geli mendengar penuturan bunda di sana, usai berucap bunda mematikan panggilan teleponnya.


"Denger semua omongan bunda kan? Ayo anterin gue sekarang," ujar Arana pada Jendra.


Jendra balas tersenyum, ia mendengar semua penuturan bunda Arana.


"Ayo, gue anterin dan jagain lo sampe rumah, biar bunda gak perlu khawatir lagi kalo anaknya bareng gue."


...----------------...


Kediaman Abraham di lain tempat, terlihat seorang pria paruh baya tengah memijat pangkal hidungnya pelan guna menenangkan diri.


"Benar-benar membuat muak!" Ujarnya.


"Sudah di beri peringatan, tapi tetap saja berani membawa anak tengil itu kesini." Marahnya ntah pada siapa.


Pria itu kini tengah marah, kesal, karena sang anak tak mau mendengarkannya. Ia juga marah pada perempuan muda yang dengan sengaja menggodanya tadi.


'Tidak tahu diri.' Pikir pria paruh baya, yang diketahui sebagai ayah Jendra.


...Bersambung......


Ini karya pertama saya, jangan lupa klik favorit + suka yaaa.


Dukungan kalian begitu berharga bagi saya, terimakasih <3

__ADS_1


__ADS_2