
Episode sebelumnya...
"Dadah Araa." Jendra menutup panggilannya setelah Arana membalas salam perpisahan. Selang beberapa waktu Jendra bergegas keluar kamar menuju tempat makan.
"Jendra." Jendra mendengus tak suka usai mendengar panggilan dari Reno.
"Kenapa?" Balas Jendra ketus.
"Saya akan pergi ke Singapura siang nanti."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jendra berjalan dengan cepat mengejar Arana yang sudah pergi terlebih dahulu. "Ra, lo gapapa kan?"
Arana tak menghiraukan panggilan Jendra, ia malah sengaja mempercepat langkah.
"Kok jalannya makin cepet sih, Ra?"
'Hap', Jendra berhasil menggapai tangan Arana, kemudian membalikkan tubuh itu menghadapnya dengan paksa.
Terpampang jelas raut wajah khawatir Jendra ketika Arana mulai menatapnya. "Lo kenapa?" Tanya Jendra.
Tak ada balasan dari Arana, membuat Jendra semakin was-was.
"Arana?"
Arana menggembungkan kedua pipi lalu tertawa renyah tepat setelah Jendra menyebut namanya.
Jendra termenung memproses kejadian yang baru saja terjadi. Ia tak paham, kenapa Arana tertawa?
"Ra?" Jendra menatap Arana bingung.
"Aduh gak bisa berhenti ketawa nih gue!" Wajah Arana memerah akibat tawa tak terkontrolnya.
Helaan nafas lega terdengar di sebelahnya. Arana menoleh. "Eh gue nanya deh, kenapa lo khawatir gini?"
Jendra mengalihkan tatapannya, pura-pura merajuk.
"Ya gue kira lo masih syok atau apa gitu sama kejadian kemaren." Jendra sedikit murung ketika membahas kembali kejadian beberapa waktu lalu.
"Oh itu." Sama seperti Jendra, secara tiba-tiba suasana hati Arana menjadi gelap.
"Gapapa kok, santai aja. Harusnya gue yang nanya, lo gapapa?" Sambung Arana seraya menduduki kursi yang berada di dekatnya.
Jendra tersenyum miring lalu mengikuti kemana Arana pergi. "Gue? Baik-baik aja, lagian udah biasa."
Arana terlonjak kaget, apa katanya? Udah biasa Jendra bilang?
"Tunggu, gue gak salah denger?"
"Hah? Apa, Ra?" Jendra menatap Arana bingung.
"Lo tadi bilang udah biasa kan?"
Jendra membuang nafas kasar. "Iya, udah biasa bokap kayak gitu."
Lagi-lagi Arana terkejut dengan penuturan Jendra, tak menyangka bahwa melakukan 'itu' sudah menjadi hal biasa yang untuk Reno.
Jendra menoleh pada Arana, penasaran akan reaksinya. "Lo pasti kaget banget," ucap Jendra sembari tersenyum kecut.
Arana menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi, keterkejutan membuat Arana lesu.
"Ya, gak nyangka aja," timpal Arana.
__ADS_1
"Lo tahu? Alasan dulu gue gak mau lo dateng ke rumah itu apa?"
"Karena...bokap lo?" Balas Arana hati-hati.
Jendra mengangguk, "Iya, bokap alasannya."
"Gue gak mau lo tahu bahkan lihat secara langsung kelakuan bejat dia, malu kalo sampai lo tahu, Ra. Tapi akhirnya lo tahu juga, udah lihat pula." Jendra melanjutkan ucapannya.
Arana mengangguk mengerti, jika ia ada di posisi Jendra, pasti ia juga akan melakukan hal yang sama.
Arana menundukkan kepala, merasa menyesal karena sering memaksa untuk ikut pergi ke rumah Jendra. "Ah gue jadi enak, Jen. Maaf ya, gue sering maksa buat ikut."
"Jangan minta maaf, lo gak salah."
"Tapi gue ngerasa kalo gue salah."
"Nggak salah, udah." Jendra sedikit meninggikan suaranya.
Arana bungkam, ia tidak bisa membalas ucapan Jendra lagi.
"Oh, ngomong-ngomong kita gak jadi ke kantinnya?" Tanya Jendra memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
Arana menepuk keningnya pelan, karena keasyikan mengobrol ia melupakan tujuan awalnya keluar kelas.
Arana berdiri tegak. "Yaampun, gue lupa!"
"Jam berapa sekarang?" Tanya Arana rusuh.
Jendra tersenyum kecil, kemudian fokusnya ia alihkan pada jam tangan hitam yang melingkar di tangan kiri. "Jam sepuluh lebih tiga belas menit, " balas Jendra santai.
Arana mengerucutkan bibir. "Yah, gak bakal sempet buat beli makanan dong."
"Santai aja, nanti juga istirahat lagi." Jendra ikut berdiri, ia melangkah mendekati Arana lalu menggenggam tangan gadis itu erat.
...----------------...
Bel berbunyi nyaring, sudah saatnya siswa-siswi di sekolah untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Jendra melangkahkan kaki, menghalangi jalan yang akan Arana lalui. "Di jemput Pak Onad?" Tanya Jendra.
Arana mendongak, menatap tepat pada bola mata Jendra. "Iya, kenapa?" Arana balik bertanya.
"Mau ngajak pulang bareng, terus kita makan dulu sebelum nyampe rumah."
Arana mengerutkan alis, "Rumah lo?"
"Bukan, yang gue maksud ya rumah lo, Ra." Jawab Jendra.
"Gak ngerepotin?"
"Nggak lah, Ra. Lo gak pernah buat gue repot kok." Jendra mencoba meyakinkan.
"Bohong banget, faktanya gue emang sering buat lo repot. Gue laper, ayo makan dulu." Tanpa berbasa-basi lagi Arana pun pergi ke tempat parkir sekolah meninggalkan Jendra.
Jendra hanya tersenyum kecil, kemudian mengikuti langkah Arana.
"Sini, biar gue pakein helmnya." Ucap Jendra seraya merentangkan tangan.
"Hhmm." Arana berdehem pelan mengikuti instruksi Jendra.
"Bocil, kenapa lucu banget sih." Jendra mencubit pipi Arana gemas usai memakaikannya helm.
Arana menatap Jendra malas. "Apaan sih, gaje banget," Arana berucap datar.
__ADS_1
Jendra terkekeh gemas. "Ya maaf."
"Ayo naik, kita pergi makan dulu." Lanjut Jendra sembari menepuk-nepuk jok belakang yang masih kosong.
"Iya-iya," balas Arana.
Motor pun melaju. Selama perjalanan mereka tak saling berbicara, hanya keramaian kota yang mengiringi keduanya.
Selang beberapa waktu, motor yang Arana tumpangi berhenti.
"Makan disini?" Tanya Arana.
"Iya."
Arana menuruni motor dan disusul oleh Jendra, kemudian mereka berjalan beriringan memasuki cafe pilihan Jendra.
"Selamat sore, selamat datang di Cafe Blue Sky. Mau pesan apa kak?" Sapa seorang wanita dibalik meja kasir.
"Pesen makanan yang bisa bikin mood naik, mba. Satu porsi buat saya, satunya lagi buat temen saya. Jangan lupa minumannya juga ya." Pinta Jendra pada pekerja di cafe itu.
Arana menatap Jendra gemas, bisa-bisanya Jendra memesan makanan dengan seenaknya saja. "Lo kalo pesen makanan yang jelas dong, gimana kalo nanti makanan yang dateng malah gak enak?" Arana menyikut lengan Jendra, lalu membisikan keluhnya pada sang teman.
Jendra mendengus kecil. "Pasti enak, lo percaya aja deh sama mbanya," balas Jendra dengan berbisik.
"Totalnya jadi 150 ribu ya kak."
Jendra mengangguk seraya menyodorkan dua lembar uang berwarna sama. "Oke, ini kembaliannya buat mba aja."
Wanita itu menggeleng menolak pemberian Jendra halus. "Maaf kak, tapi ini kebanyakan."
"Gapapa, udah rejekinya mba."
Arana tersenyum, melihat ketulusan Jendra terhadap orang lain membuat hatinya menghangat.
"Ra, duduk di sana yuk." Tunjuk Jendra pada meja kosong.
Mereka berjalan bersama.
"Lumayan juga cafe-nya," ucap Arana.
"Heem, langganan si Edo nih."
"Kok tahu?"
"Karena dia bilang jadinya gue tahu."
Usai Jendra berbicara, suasana di antara mereka berubah menjadi sunyi.
"Rrhhmm." Jendra berdehem keras, kode bahwa ia tak menyukai kesunyian yang ada. Karena itu Arana berusaha mencoba untuk membuka pembicaraan.
'Oh, tentang om Reno! Apa gue tanyain aja sama Jendra?' Pikir Arana.
Arana mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Jendra, bokap lo se-brengs*k itu ya?" Pertanyaan tiba-tiba Arana sontak membuat Jendra tersedak ludahnya sendiri.
"Aduh Ra, kok nanyain bokap gue?"
"Penasaran aja, Jen."
Jendra memalingkan wajah ke sembarang arah, kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Iya, se-brengs*k itu."
...Bersambung... ...
__ADS_1
Selamat menikmati bacaannya teman-teman!