
Episode sebelumnya...
"Ayahnya si Jendra ganteng juga." Arana berujar pada dirinya sendiri.
"Apa Jendra bakalan marah kalo gue suka sama bokapnya?" Tanyanya sembari membersihkan gigi.
Arana menghela nafas, bisa-bisanya dia menyukai ayah temannya sendiri!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirasa tubuhnya telah bersih, Arana memilih beranjak dari toilet menuju ruang kamar.
"Hm pake baju apa ya?" Gumam Arana.
Setelah berpikir beberapa detik akhirnya Arana menjatuhkan pilihannya pada piyama biru muda, warna kesukaannya.
'ddrrttt.... ddrrrttt...'
Ponsel Arana berdering menandakan adanya panggilan masuk.
Arana berlari kecil guna mengambil ponselnya di meja belajar.
"Halo, siapa disana." Sapa Arana.
"Ini gue, Jendra." Arana menjauhkan ponselnya sejenak, pandangannya jatuh pada nama yg tertera di ponsel.
"Oh, ada apa?" Tanya Arana.
"Gapapa, pengen telepon aja." Balas Jendra.
"Yeuu, kalo sekiranya gak penting jangan telepon gue!" Omel Arana.
Ia merebahkan badannya di tempat tidur, menunggu Jendra membalas omelannya.
"Penting kok."
"Penting gimana coba?"
"Denger suara lo setiap malem, itu penting buat gue." Balas Jendra di sebrang sana.
"Ini lo gombalin gue?"
"Iya, gimana?" Jendra menanyakan pendapat Arana.
"Gimana apanya?"
"Gombalan gue, lo baper gak?" Jendra memastikan.
"Dih, ya nggak lah. Garing banget gombalan lo." Arana merotasikan netranya. Ada-ada saja temannya ini.
"Yeeuu, seneng kek lo. Kapan lagi coba di gombalin gue!" Ocehan Jendra hanya di balas gelengan oleh Arana. Walau gelengannya tidak akan terlihat Jendra.
"Iyain aja dah."
"Ara." Panggil Jendra.
"Apa?"
"Besok dateng ke rumah gue lagi ya." Undang Jendra.
"Eh? Nggak ah, gue takut lo berantem lagi sama bokap lo." Tolak Arana.
"Nggak bakal, Ra."
"Gak mau."
"Arana, ayolah. Kemaren-kemaren aja lo maksa buat dateng, giliran sekarang gue yang minta buat lo dateng, lo malah nolak." Ujar Jendra.
"Kalo bokap lo marah gara-gara gue dateng kesana lagi, gimana?"
"Gak bakal marah, Ra." Jelas Jendra.
"Yakin?" Tanya Arana meyakinkan.
"Yakin Arana."
"Yaudah gue ikut ke rumah lo, tapi lo harus nganterin gue balik." Arana akhirnya mengalah, selain itu ia juga tak ingin membuang-buang kesempatan untuk bertemu kembali dengan ayahnya Jendra.
"Gue bakal nganterin tanpa lo minta, Ra."
"Ini gombal?" Arana bertanya.
Jendra dibuat tertawa keras dengan pertanyaan tiba-tiba Arana.
"Heh, lo ngerasa gue lagi gombal?"
"Nggak?"
__ADS_1
"Nggak lah." Jendra menjawab dengan cepat.
"Udah dulu ya Ra, gue mau tidur." Lanjut Jendra terburu-buru.
"Tumben lo tidur cepet." Arana di buat bingung oleh Jendra, karena biasanya Jendra selalu tidur tengah malam tapi mengapa sekarang berbeda.
"Yaampun Ra, ini udah jam 8 malem loh."
"Ya terus?"
"Ya tidur lah, biar besok bisa bangun pagi."
"Yaudah sana tidur."
"Lo juga tidur ya, Ra."
"Iya Jendra."
Sambungan telepon pun terputus.
Arana melempar ponselnya sembarangan di atas kasur.
Ia terdiam menatap langit-langit kamar. Ah, besok ia akan bertemu kembali dengan ayah Jendra. Rasanya takut dan senang. Tapi lebih dominan senang, karena ia bisa melihat lagi tampang ayah Jendra yang menawan.
Mata Arana perlahan-lahan menutup, ia tertidur dengan sangat cepat malam ini.
...----------------...
Pagi pun tiba.
"Nona, ini sudah pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi hari. " Ujar seorang pelayan di rumahnya.
"Nona, tuan dan nyonya sudah menunggu." Lanjutnya.
Arana mengerang, tak suka tidurnya di ganggu.
"Nona, ayo bangun." Pelayannya terus berusaha membangunkan Arana dengan lembut.
"Ini jam berapa?" Tanya Arana masih dengan mata tertutup.
"Sudah jam 6 pagi, nona." Jawab sang pelayan.
"Hah?! Jam 6?" Arana kembali bertanya untuk memastikan.
"Betul, nona."
Pelayan tersenyum kecil, tidak berniat untuk menjawab ataupun berkomentar dengan kalimat yang Arana lontarkan.
Selang beberapa menit, Arana pun akhirnya menampakkan diri di hadapan kedua orang tuanya.
"Pagi ayah, pagi bunda." Sapa Arana.
"Pagi sayang." Sapa ayah dan bunda.
"Kamu kok lama banget siap-siapnya." Ujar sang ayah.
"Hehe biasaa." Arana tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Biasa, susah di bangunin." Ledek bunda.
"Heee itu bunda tahu."
"Udah-udah, mending sekarang kita makan." Ayahnya menengahi perdebatan ia dan bundanya.
Bunda dan Arana menurut, mereka mulai menyantap hidangan dengan khidmat.
Tak terasa makanan di atas piring sudah habis. Sang tuan-nyonya rumah beserta nona muda bersiap-siap untuk pergi.
"Ara, ingin berangkat dengan ayah dan bunda pagi ini?" Tanya ayah di pekarangan rumah.
"Berangkat sendiri saja, disupiri Pak Onad." Jawab Arana.
"Baiklah, Pak Onad jalannya hati-hati ya. Anak saya jangan sampai lecet." Ujar ayah.
"Siap tuan." Jawab Pak Onad patuh.
Arana menaiki mobil, lalu melambaikan tangannya pada sang ayah-bunda. Mengisyaratkan salam perpisahan.
25 menit ia habiskan untuk menempuh perjalanan antar rumah-sekolah.
Arana mengikuti semua jam pelajaran di sekolahnya dengan lancar.
"Lo udah bilang mau pergi bareng gue kan?" Tanya Jendra setelah bel pulang berbunyi.
"Belum, nanti aja di mobil." Arana melangkah mendahului Jendra.
"Jendra! Jalannya cepetan dong!" Perintah Arana. Jendra menurut, ia mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Ayo naik." Jendra meminta Arana memasuki mobilnya. Tak lupa Jendra membukakan pintu mobilnya agar Arana bisa masuk.
Mereka pun pulang bersama ke rumah Jendra.
"Jen, bokap lo ada?"
"Gatau, kenapa emangnya?" Jendra balik bertanya.
"Ya nanya aja sih, gak ada maksud apa-apa." Balas Arana bohong.
Dalam hatinya Arana berdo'a agar ayah Jendra berada di rumah, sebab ia ingin sekali melihat ayah dari temannya itu.
Jendra tak menjawab perkataan Arana yang dinilainya kurang berbobot.
"Lo mau makan apa sekarang?" Jendra berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka tentang sang ayah.
"Mmm apa ya, apa aja deh terserah lo." Arana tidak berselera untuk makan, ia hanya ingin melihat ayah Jendra sekarang ini.
"Yeayy sampaii." Ujar Arana gembira ketika mobil Jendra memasuki area pekarangan kediaman Abraham.
"Seneng banget kayanya, ada apa nih?" Selidik Jendra.
"Iya seneng, soalnya kan bisa bareng lo lebih lama lagi." Ujar Arana disertai senyum lima jari.
'Nggak ding bohong, gue seneng karena bisa liat bokap lo!' Kalimat yang hanya bisa Arana lontarkan dalam hati.
Jendra dan Arana berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan megah milik Tuan Abraham, ayah Jendra.
Arana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan rumah itu demi mencari keberadaan ayah Jendra. Tapi sayang, Arana tidak menemukan keberadaan ayah Jendra di sepanjang jalan menuju kamar sang tuan muda.
"Lo mau minum apa?" Tanya Jendra tepat setelah mereka sampai di kamar miliknya.
"Gak usah lo bawain, biar gue bawa sendiri."
"Heh? Siapa yang mau bawain lo minum? Gue cuman nanya aja, biar pelayan yang bawain."
"Lo kenapa deh?" Jendra menatap Arana heran, kemarin Arana tak seperti ini.
"Kenapa apanya, Jendra?" Balas Arana sembari mengalihkan pandangan matanya.
"Aneh lo."
"Jendra rese banget ih, ngatain gue aneh segala."
"Gue berubah pikiran! Lo aja gih yang ambilin minuman buat gue." Lanjut Arana tak tahu diri.
"Ya ya ya." Mudah sekali, Jendra langsung menuruti apa kata Arana. Ia bergegas pergi dari kamar menuju dapur.
Arana bersorak senang saat Jendra pergi keluar, kesempatan bagus untuk dia bisa keluar.
'Pokoknya sebelum pulang gue harus ketemu om ganteng dulu! Harus tahu namanya juga!' Pikiran Arana hanya berisikan ayah Jendra sekarang.
Arana keluar dari kamar dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh Jendra.
Ada tiga jalan yang harus ia pilih sekarang. Turun kebawah, belok kiri atau belok kanan. Arana terus berpikir.
'Ah kanan aja kali ya.' Putus Arana.
Arana jalan sembari menunduk, tak memperhatikan jalanan dengan benar. Akibatnya, ia menabrak benda keras di hadapannya.
"Aduhh." Arana mengaduh kesakitan.
"Gue nubruk apasih ko-" Arana tak menyelesaikan ucapannya usai ia mendongakkan kepala.
'KAGET BANGET' Pikiran Arana gelisah tak menentu, bagaimana tidak teman! Orang yang ia tabrak tadi adalah ayah Jendra!
"Eh om, hehe a-anu sa-saya tidak sengaja om." Arana berujar penuh kegugupan.
Ayah Jendra tak membalas, ia menatap Arana tajam. Bukannya takut, Arana malah merasakan senang bisa ditatap intens oleh ayah Jendra. Saking senangnya ia sampai merasa gugup.
Belum sempat Arana berujar kembali, ayah Jendra telah berbalik arah untuk pergi.
"Om! Om!" Panggil Arana.
Ayah Jendra tak menghiraukan panggilan Arana, ia terus melangkah menjauhi tempat Arana berdiri.
"Om please lihat saya!" Arana masih kekeh ingin ayah Jendra berhenti melangkah sejenak.
Semesta mengabulkan keinginan Arana, ayah Jendra tiba-tiba saja menghentikan langkahnya lalu berbalik. Melihat itu senyum Arana mengembang.
'Kesempatan tahu nama si om!' Pikir Arana konyol.
"Om! Nama om siapa?" Pertanyaan konyol Arana dihadiahi tatapan tajam nan dingin oleh ayah Jendra.
"Untuk apa?" Bukannya menjawab, ayah Jendra malah balik bertanya.
'Persis seperti Jendra!' pikir Arana.
__ADS_1
...Bersambung......