Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
Gadis Beriman


__ADS_3

“*Beberapa orang mengatakan, hanya yang tidak percaya pada Tuhan yang memilih untuk bunuh diri. Mereka yang tidak berserah pada keajaiban Tuhan. Lalu, yang aku lihat saat ini apa*?”


...~•~...


Elayne bergeming setelah setengah melucuti pakaian bagian atasnya. Ia menatap Victor tepat di pupil matanya. Ikut tersenyum melihat senyum miring di wajah Victor.


“Sangat berani,” komentar Victor.


“Kenapa kamu tersenyum?” Tama menutup mata Victor dengan kedua tangannya. “Jangan menggodanya. Cepat tutup kembali bajumu!”


“Pikiranmu kotor sekali.” Victor menjauhkan tangan Tama darinya. Memutar tubuh gadis itu agar dapat melihat Elayne dengan lebih baik. “Lihat apa yang ingin diperlihatkannya, bukan apa yang ingin kamu lihat.”


Tama berseru tertahan. Kondisi tubuh wanita di depannya mengenaskan sekali. Ada perban di banyak tempat. Leher, perut, kedua pergelangan tangan. Ada juga bekas tali di lehernya, seperti milik Vero.


“Bukankah kamu mengurus sesuatu seperti ini?”


“Kamu boleh menutupnya kembali,” perintah Victor.


Bagaimana caranya pria ini tetap santai setelah melihat semua itu? Tama tidak percaya Elayne menurut setelah diperintahkan menutup semuanya kembali. Ada apa di sini? Apa yang terjadi?


“Singkatnya, aku sudah berulang kali mencoba bunuh diri,” ucap Elayne seolah mengerti isi hati Tama.


“Dan sudah pada tingkat terekstrem yang aku tahu,” tambah Victor. Victor mengelus bekas luka di pergelangan tangan Elayne yang tidak tertutup perban. “Kamu pasti menyayatnya sangat dalam. Aku kagum kamu masih bisa bertahan hidup.”


“Benar, 'kan? Kenapa aku masih belum mati?” keluh Elayne. “Ini salah Sean, asistenku. Dia terlalu sigap. Dan karena masalah itu dia jadi menempel 24 jam sehari padaku. Menyebalkan, bukan?”


Victor melirik Tama. Yah, dia tahu betul betapa menjengkelkan rasanya saat seseorang terus membuntuti dirinya. “Lalu, apa yang kamu inginkan dari yayasan ini?”


“Sean memaksaku pergi ke psikolog. Menggelikan. Aku tidak mau berbagi cerita dengan orang-orang sok tahu itu. Lalu aku membaca berita tentang tuan penyelamat ini.” Elayne merangkul lengan Victor. “Dan Sean setuju melepaskanku jika aku bersamamu.”


“Aku mengosongkan jadwalku untuk terbang ke sini. Apa kamu tidak merasa tersanjung?” goda Elayne. “Seharusnya saat ini aku berada di pameran.”


“Tidak juga.” Victor terkekeh. “Terdengar merepotkan.”

__ADS_1


“Apakah ini waktu yang tepat untuk bercanda?” kesal Tama yang merasa diasingkan dari percakapan.


“Sepertinya aku menunjukkan sebuah kotak pandora pada gadis malang ini.” Elayne mengelus pipi Tama. “Anggap saja kamu tidak melihat apa-apa.”


“Tidak perlu memedulikannya, dia juga tidak akan menuruti perkataanmu,” ucap Victor.


“Um, baiklah. Jadi, bagaimana sekarang? Kita akan berkencan?” ajak Elayne.


Tama tidak suka mendengar kata itu. Kencan. Seolah Victor dan Elayne menjalin hubungan istimewa. Apa pun yang terjadi, dia harus ikut. Dua orang itu tidak boleh dibiarkan begitu saja.


“Sifatmu seperti Sean.” Elayne berdiri diantara Tama dan Victor, menggandeng keduanya bersamaan. “Kamu boleh ikut, kok. Ayo.”


Elayne menyebutnya sebagai kencan. Namun, sebenarnya mereka hanya jalan-jalan bersama. Lalu berakhir di sebuah rumah ibadah.


Tempat sakral itu membuat mata Elayne menjadi sayu. Dia segera pamit untuk beribadah dan meninggalkan Victor bersama Tama. Apakah dia memang selalu seperti itu? Entahlah. Yang jelas, sorot matanya berubah.


“Mungkin dia sedang meminta bantuan Tuhan agar terlepas dari masalahnya,” gumam Victor.


Bukankah biasanya memang begitu? Banyak yang bilang, jika kamu merasa putus asa, maka Tuhan adalah satu-satunya penolong. Victor yakin Elayne merupakan salah satu contohnya. Hanya saja, suatu tempat di sudut hatinya merasa ada yang salah.


“Ada apa?”


“Kamu melamun, ya?” Tama menautkan alisnya. “Ponselmu berdering.”


Victor menghela nafas. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak mengurus hidup orang lain. Jika Elayne butuh saran, baru dia akan bicara. Jika perempuan itu meminta bantuan, dia akan mengulurkan tangannya.


“Hei, Vic,” panggil Vero di seberang panggilan.


Victor benci panggilan itu. Dan semakin menyebalkan mendengarnya dari orang-orang yang jelas lebih muda dibanding dirinya. Victor melenguh sebagai tanggapan.


“Apa menurutmu aku bisa berteman dengan gadis aneh itu?” tanya Vero.


“Kamu ingin berteman dengannya?” ketus Victor. “Dengan sifat kasar seperti itu, aku rasa kamu tidak akan pernah mendapatkan teman selamanya. Kamu tahu, dia punya nama.”

__ADS_1


“Kelakuannya aneh, tentu saja aku memanggilnya gadis aneh,” protes Vero. “Aku hanya jujur.”


“Dengar, bocah.” Victor menggaruk pelipisnya. “Jujur itu bagus, tapi tidak selalu harus diucapkan, terutama jika kamu ingin diterima oleh orang lain. Kamu harus bisa mengatakan hal-hal yang baik.”


“Kamu harus bersikap baik jika ingin menjadi bagian dari masyarakat, meski sering kali berlawanan dengan isi hatimu. Kamu tidak menyukainya, tapi tetap memujinya. Memang terdengar munafik, tapi menurutku itu adalah bagian dari adaptasi,” jelas Victor.


Victor menghela nafas, kemudian melanjutkan, “Dunia ini tidak bisa berjalan sesukamu. Mengubah sikap atau mengabaikan pendapat orang lain dan menjadi penyendiri. Kamu harus memilih satu.”


Vero diam cukup lama. Mungkin sedang merenungkan setiap kalimat yang dilontarkan Victor. “Aku mengerti,” ucapnya pada akhirnya.


“Aku menyuruhmu berubah, tapi tidak secara keseluruhan. Beberapa hal tidak bisa dilakukan hanya demi menyenangkan orang lain. Kamu harus mempertahankan jati dirimu. Menjadi diri sendiri yang menyenangkan untukmu dan orang lain,” tambah Victor.


“Kamu terlalu berbelit-belit,” keluh Vero.


“H-hei. Tunggu, aku belum selesai. Sialan.” Victor menggertakkan giginya. Bocah itu perlu belajar etika dan sopan santun.


“Ada apa dengannya?” tanya Elayne yang baru saja keluar. “Wajahnya sangat tidak enak dipandang.”


“Anaknya durhaka,” balas Tama yang sejak tadi menguping. Tawanya sungguh tidak bisa ditahan.


“Tidak lucu,” dengus Victor. “Sekarang, kita mau kemana? Aku rasa kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh. Sepertinya akan hujan lebat. Apa cuaca dingin akan membuat lukamu terasa ngilu?” Victor melirik luka-luka yang disembunyikan Elayne.


“Sepertinya aku harus pulang,” jawab Elayne. “Tidak, bukan karena sakit. Ini tidak seberapa, percayalah. Tapi lihat, seseorang seperti sedang ingin menelanku hidup-hidup. Akan memalukan jika kalian melihatku dimarahi.”


Elayne menunjuk seorang pria dengan matanya. Pria itu berlari dengan ekspresi marah dan khawatir yang bercampur. Matanya tidak beranjak sedikit pun dari Elayne. Seolah ingin mengunci perempuan itu agar tidak bisa kabur.


“Baiklah, aku pulang. Marah-marahnya nanti saja di rumah.” Elayne tidak mengizinkan pria itu bicara. Menariknya untuk menjauh. “Bye Vic. Bye Tam.”


“Vic?” ulang pria itu. Dia adalah Sean, asisten Elayne. Ia berbalik untuk menatap Victor. “Kamu Victor yang dari yayasan itu?”


“Bisa dibilang begitu.” Victor mengangkat bahu.


“Jika hanya ingin bertemu dengannya kenapa harus kabur?” Sean menjabat tangan Victor dengan senang hati. “Aku Sean. Senang bertemu denganmu. Elayne pasti sudah bercerita banyak hal, jadi singkat saja. Aku harap kamu bisa menyelamatkannya.”

__ADS_1


“Jangan terlalu banyak berharap. Aku bukan Tuhan yang bisa mengabulkan harapanmu.”


...~•~...


__ADS_2