Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
Orang Gila


__ADS_3

Diantara ikan-ikan yang berenang, Victor dapat melihat cahaya putih. Cahaya itu sama sekali tidak menyilaukan. Sebaliknya, justru membuatnya merasa tenang dan nyaman. Beginikah perasaan orang-orang yang meninggal dengan cara normal?


Selama menjalani hari bersama Kehidupan dan Kematian, Victor sudah menyaksikan banyak orang meninggal dunia. Tua, muda dan anak-anak. Baik karena penyakit, kecelakaan, pembunuhan, serta bunuh diri. Ada juga yang meninggal karena sudah berusia senja, layaknya Tama.


Setiap orang yang sudah tiada akan pergi ke cahaya. Namun, tidak ada cahaya yang muncul di hari kematian Victor. Sesekali, dia mencoba menerobos cahaya milik orang lain. Sayangnya, usaha Victor sia-sia. Cahaya itu tak tersentuh oleh Victor yang belum sepenuhnya tiada.


Puluhan tahun terakhir, Victor selalu bertanya-tanya, apakah dia akan selalu seperti itu? Sampai kapan? Haruskah dia menunggu kiamat agar kehidupannya yang tidak menyenangkan ini berakhir? Hari ini, Victor dapat bernapas lega. Sebuah cahaya telah muncul untuk Victor. Dia tidak perlu melakukan apapun, jiwanya bergerak sendiri ke sana.


"Kenapa lama sekali? Cepat sedikit!" omel Tama yang menanti di ambang cahaya. Pipinya menggembung karena cemberut, ekspresinya terlihat sangat jengkel.


"Kamu terlihat jauh lebih muda dibanding saat dimakamkan." Victor meringis akibat cubitan Tama di perutnya, hadiah dari kata-katanya yang terlalu jujur.


Ketika dimakamkan, wajah Tama sudah keriput. Otot wajahnya mengendur, meski masih terlihat cantik untuk ukuran nenek-nenek berumur 70-an tahun. Sedangkan, Tama yang dihadapi Victor saat ini adalah Tama yang sama seperti saat mereka bertengkar di hari kematian Elayne. Wajah yang pernah Victor anggap sangat menyebalkan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" ketus Tama.


"Aku baru tahu, ternyata kamu cantik." Victor tersenyum lembut. "Sangat cantik."


"Kamu gila, ya? Tama memalingkan wajahnya agar, rona di pipi itu tidak terlihat oleh Victor. "Aku memang sudah cantik sejak dulu."


"Aku pasti benar-benar sudah gila," balas Victor. "Bisa-bisanya aku lebih memilih bunuh diri daripada hidup bersama gadis secantik kamu."

__ADS_1


Pada awalnya, Victor hanya bosan akibat tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Jadi, dia mengikuti Tama kemana-mana, kecuali ke toilet dan saat berganti pakaian. Seiring waktu, ia menyadari betapa pentingnya Tama. Dia mulai menyesal pernah menyia-nyiakan perasaan Tama.


"Otakmu rusak, atau bagaimana? Tiba-tiba berkata seperti itu," keluh Tama.


"Aku menyukaimu." Pernyataan Victor membuat Tama terhenyak. "Kamulah orang yang paling aku sayangi, diantara semua yang bisa aku ingat."


Tama mengerjap. Jantungnya berdebar tak karuan, tapi dia tetap diam. Tama menunggu dengan sabar kalimat berikutnya yang akan diucapkan Victor. Kalimat yang bahkan tidak pernah Victor ucapkan pada dirinya sendiri.


"Aku mencintaimu."


Hati Tama dipenuhi oleh kebahagiaan. Matanya basah. Dia menjatuhkan diri ke pelukan Victor, mendekap erat pria itu. Tama harap, mereka tidak akan pernah berpisah lagi.


"Dasar gila! Kamu orang paling gila yang pernah aku temui!" Tama memukul pelan dada Victor. "Kamu seharusnya tidak bunuh diri dan melamar aku ketika masih hidup. Setelah menikah, kita akan mengelola yayasan bersama. Kemudian memiliki beberapa anak dan cucu."


"Mau bagaimana lagi! Aku sangat berharap kamu masih hidup di suatu tempat. Kalau aku menerima lamaran dia, rasanya seolah aku sedang berselingkuh." Tama mendengus.


"Mana bisa disebut selingkuh kalau kita tidak punya hubungan." Victor sigap menahan Tama yang hendak mencubitnya lagi. "Aku hanya bercanda, oke?"


"Menyebalkan."


Victor menggenggam tangan Tama. "Ayo menikah dan buat pesta yang sangat meriah. Aku ingin punya anak perempuan yang manis dan peduli sesama. Persis seperti kamu."

__ADS_1


"Entah kamu sadar atau tidak, kegilaanmu itu sudah jauh melewati batas. Kita bahkan tidak tahu apa yang menunggu kita di depan sana." Tama menggerutu, tapi dia tetap membalas genggaman Victor. "Dan apa maksudmu ingin anak perempuan? Kedengarannya seolah kamu akan membuang anakku, kalau yang lahir laki-laki."


Tama dan Victor sama-sama tertawa. Mereka menelusuri jalan cahaya itu tanpa melepaskan gandengan tangan mereka. Mungkin setelah ini mereka akan bereinkarnasi, atau hidup di alam lain. Bagaimana pun, mereka berjanji akan selalu bersama di sana.


Sebelumnya, Victor bertanya-tanya, kenapa dia harus melewati fase setengah mati setelah bunuh diri? Kenapa dia tidak langsung ke cahaya? Kenapa Tuhan membuatnya menjalani proses yang berbeda? Padahal ada jutaan orang yang meninggal dengan cara yang sama seperti Victor.


Detik pertama Victor melihat Tama di dalam cahaya, dia mendapatkan jawaban yang dicarinya. Victor hanya seorang manusia biasa yang kehidupannya telah diatur dengan sesuatu yang disebut takdir. Manusia tidak bisa melawan takdir.


Seharusnya, Victor ditakdirkan untuk tetap hidup, tapi dia memaksakan diri dengan melompat dari tebing. Biasanya, Tuhan akan menyelematkan manusia-manusia seperti ini. Membuat mereka tetap hidup—terkadang menjadi sedikit cacat setelah mencoba bunuh diri. Namun, untuk Victor, Dia menyiapkan hukuman lain yang akan menjadi pelajaran berharga bagi pria itu, serta orang yang mengetahui kisahnya.


Ketika belum waktunya kamu meninggal, kamu tidak akan pernah bisa berhasil bunuh diri. Kita tidak pernah tahu, apakah mereka yang meninggal karena bunuh diri benar-benar sudah meninggal? Bagaimana jika mereka juga mengalami fase setengah mati seperti Victor? Bisa jadi pula di fase itu kehidupan mereka malah lebih buruk lagi.


Begitulah. Tidak peduli seburuk apa harimu, sebesar apa masalah yang kamu hadapi, jalani saja. Jika kamu menderita, menangislah. Jika kamu tidak sanggup, ceritakan pada seseorang. Jangan lupa, ketika kamu memiliki sedikit keberanian, kamu harus melawan dan balikkan keadaan. Jangan mencoba lari dari takdir. Percuma. Kamu tidak akan pernah berhasil.


"Ngomong-ngomong, berhenti menyebutku gila." Victor mencium tangan Tama dalam genggamannya. "Aku tidak gila. Pembuat cerita inilah yang gila dan menciptakanku."


"Aku tahu."


"Kamu tahu, dia juga menciptakan seseorang yang lebih gila dariku. Ada gadis psikopat bernama Cica yang pintar berpura-pura. Siang hari, dia mengaku trauma pada darah, lalu di malam hari dia akan berlumuran darah orang lain. Dia menganggap teriakan kesakitan sebagai nyanyian yang indah. Dia bahkan menghias jasad korbannya, kemudian melukis mereka."


"Mengerikan sekali." Mata Tama terbuka lebar. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Apa yang terjadi berikutnya?"

__ADS_1


Victor mendekat dan berbisik, "Cerita ini berjudul 'Themis', persis seperti nama dewi keadilan dari Yunani. Cica pikir dia sedang menegakkan keadilan, tapi cerita ini sebenarnya bukan tentang dia."


~•~


__ADS_2