
“*Social butterfly. Mereka menyebutku begitu karena aku seperti badut yang berbaur dan menghibur semua orang. Menebar senyum. Akan tetapi, topeng tetaplah topeng. Setelah bertahun-tahun, aku tidak dapat mempertahankannya lagi*.”
...~•~...
Pandangan Tama buram akibat bulir-bulir yang tidak bisa ia kendalikan. “Selama ini kamu tidur bersama semua ini? Dengan keinginan untuk bunuh diri?”
Apa yang dipikirkan gadis itu di saat Victor mengatakan dirinya membiarkan Elayne bunuh diri? Kenapa dia malah membahas hal lain? Ada apa dengan tangannya yang terjulur? Tidak. Victor tidak akan membiarkan Tama memeluknya.
“Pria yang kamu cintai ini telah mengecewakanmu.” Victor menoleh, memperlihatkan matanya yang kosong. Dia tahu ada Tama di sana, tapi yang dilihatnya hanya kehampaan. “Bagaimana menurutmu mengenai diriku yang sebenarnya?”
Victor tiba-tiba menyeringai. Sungguh, sekarang ia terlihat lebih mengerikan dibanding saat dia marah. Wajahnya sepucat mayat. Memaksa Tama menahan nafas.
“Ka-kamu sedang tidak sehat.” Tama meyakinkan dirinya sendiri. “Sebaiknya kamu banyak beristirahat.”
“Jalang,” desis Victor. “Kamu tahu dan mendengar banyak hal, tapi masih pura-pura tidak tahu. Demi apa? Memperjuangkan pria yang tidak pernah mengakui keberadaanmu? Karena aku membersihkan nama baik kakakmu? Bodoh sekali.”
Banyak hal terjadi hampir bersamaan di hidup Victor. Pikirannya terlalu kacau untuk memikirkan semua satu per satu. Karena itu dia mengucapkan hal-hal yang tidak perlu, tanpa bisa dikendalikan.
“Adriana ... dia sangat bermoral dan menjaga dirinya sendiri.” Victor menelusuri tubuh Tama dari atas sampai bawah dengan matanya. “Dan di sini, adiknya bersikap tidak tahu malu. Terus menempel pada pria asing, bahkan keluar masuk rumah pria itu sesuka hatinya.”
Hati Tama serasa ditusuk ribuan duri. Dia seharusnya marah dan membela diri. Ucapan Victor layak mendapatkan tamparan keras. Dia sudah direndahkan secara langsung, tapi kenapa ia tidak bisa mengatakan apa pun?
“Istirahatlah,” ucap Tama, kemudian meninggalkan Victor sendiri.
Victor terduduk tidak peduli. Seluruh percakapan dengan Elayne bergema dalam pikiran Victor. Setiap kata, setiap jeda, dan setiap perubahan pada garis wajah wanita itu. Berputar berulang-ulang seperti kaset rusak.
Apa artinya hidup? Dulu, Victor juga pernah mempertanyakan hal itu. Lengkap dengan pemikiran yang hampir sama dengan Elayne. Hidup ini tidak berarti, karena pada akhirnya kita akan mati.
Victor terkesiap. Dia berhasil mengingat bagaimana pertama kalinya keinginan bunuh diri muncul di hati dan pikirannya. Ingatan yang menghilang entah karena apa. Tentang hari biasa di kehidupan orang lain, tapi tidak bagi Victor. Hari dimana kehidupannya berubah drastis.
__ADS_1
Victor menarik keras rambutnya. Sel-sel otaknya sedang aktif bekerja, menampilkan potongan-potongan kejadian di masa lalu. Apa mengingat pernah se-menyakitkan ini? Mungkin sebaiknya Victor tetap melupakannya saja.
Dada kiri Victor mulai diserang nyeri yang luar biasa. Jantungnya berdetak semakin cepat setiap detiknya. Perasaan apa ini? Takut? Cemas? Khawatir? Entahlah. Victor linglung.
Nafas Victor kian sesak. Ia melemah, tidak lagi mampu menopang tubuhnya sendiri. Lemari yang jadi satu-satunya harapan untuknya bersandar justru ikut terjatuh. Sial. Kenapa hal-hal buruk datang bersamaan?
Baik perasaan maupun tubuh Victor mati rasa. Botol-botol kaca yang pecah melukai kulitnya. Racun yang sebelumnya berada di dalamnya membasahi luka itu. Namun, Victor tidak akan peduli.
Antara sadar dan tidak sadar, Victor melihat catatan bunuh dirinya tergeletak di atas lantai. Buku kecil dengan sampul berwarna hijau tua. Tempat Victor menuliskan keinginannya untuk bunuh diri.
"Laman berikutnya yang akan kalian baca adalah alasanku bunuh diri. Meski saat menulis ini aku juga masih belum mengetahui alasan itu, kuharap apa pun alasan itu kalian tidak akan mencelanya."
Victor berhenti membaca tepat di paragraf terakhir yang ia tulis. Saat itu, tiga tahun lalu, ia kebingungan, tidak tahu bagaimana harus melanjutkan catatan itu. Dia tidak mengerti kenapa ia ingin bunuh diri. Akan tetapi, hari ini Victor sudah berhasil mengungkap misteri itu.
“Haruskah aku menyelesaikannya sekarang?” Victor tertawa pada dirinya sendiri.
Victor merasa konyol, tapi tetap mengambil pena dan menulis lanjutan catatan bunuh dirinya. Meski begitu, ia tahu yang dilakukannya saat ini tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah.
Victor menulis tanpa perlu berpikir, dan ia puas dengan hasilnya. Memang seperti itulah yang ia rasakan selama ini. Tidak ingin hidup.
Victor melirik jendela yang memantulkan dirinya. Tidak tampan sama sekali. Sebaliknya, terlihat muram tanpa semangat hidup. Ia menampar dan menarik pipinya kuat-kuat. Kenapa ekspresinya datar begitu? Biasanya ia selalu tersenyum.
Victor yakin, topeng bahagia yang selama ini ia pakai sudah menyatu dengan kulit wajahnya. Biasanya, ia selalu dapat tersenyum bahkan meski hatinya tidak merasa bahagia. Ia berlatih tertawa meski tidak merasa lucu.
“Ayolah. Tersenyum,” paksa Victor.
Percuma. Meski wajahnya memerah karena berulang kali ditampar, tidak ada yang berubah. Topengnya telah hancur, menunjukkan sosok Victor yang asli. Victor yang tanpa perasaan.
“Badut ini sudah tidak bisa pura-pura tersenyum lagi,” batin Victor. “Aku sudah menahan diri terlalu lama dengan semua ini.”
__ADS_1
Jika Victor tidak salah ingat, semua ini berawal dari sebuah kisah cinta yang pernah didengarnya. Kisah tentang perasaan yang selamanya tidak akan pernah Victor akui keberadaannya. Yang mampu menutup mata orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Pasangan 17-18 tahun dalam kisah ini sedang diselimuti cinta yang membara. Mereka memaksa untuk menyatukannya dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi, pernikahan itu dilarang keras oleh semua orang.
Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Sepasang perempuan dan laki-laki dari keluarga baik-baik. Berkelakuan baik. Masalahnya, mereka bahkan belum mengikuti ujian akhir untuk kelulusan mereka.
Iya. Mereka masih di kelas tiga sekolah menengah atas. Keluarga mana yang akan membiarkan anak mereka yang belum dewasa untuk menikah? Tapi, pasangan itu terlanjur salah paham pada keluarga mereka.
Cinta menunjukkan sihirnya. Membutakan dan memperdaya. Cinta menghilangkan akal sehat pasangan itu. Menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan mereka untuk menikah. Si pria bahkan berusaha keras menghamili wanitanya.
Victory. Artinya kemenangan. Dari sanalah nama Victor berasal. Sebagai simbol kemenangan orang tuanya atas cinta. Keberadaannya membuat pernikahan itu digelar, meski hanya dengan cara yang sederhana.
Si pria mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga kecil mereka. Gajinya tidak besar, tapi cukup. Waktu pun berlalu, hari berganti. Bulan-bulan awal pernikahan bahagia mereka seharusnya mencapai titik puncaknya ketika hari kelahiran Victor tiba.
Sayangnya, tidak ada yang berjalan sesuai harapan. Tidak ada yang menyambut kelahiran Victor. Keluarga mereka sudah memutus hubungan, dan si pria sibuk bekerja. Ada banyak tagihan yang harus dibayar.
Tidak memiliki siapa pun di sisinya sungguh membuat si perempuan setengah gila. Bagaimana pun, dirinya belum dewasa. Mengurus bayi yang lebih terasa seperti adik bukan hal yang sanggup dilakukannya seorang diri.
Tanpa ada yang menyadari, si perempuan mengalami postpartum depression—sebuah gangguan depresi yang dialami wanita setelah melahirkan. Kondisinya buruk. Dalam sekejap, pernikahan yang bahagia berubah menjadi neraka. Ibu Victor yang membutuhkan perhatian mulai sering bertengkar dengan suaminya.
Nasib Victor lebih malang. Ia menjadi tempat pelampiasan segala tekanan batin sang ibu. Mendapat sumpah serapah ketika belum mengerti apa-apa. Juga kekerasan fisik yang beberapa kali membahayakan nyawanya.
Dengan sedikit keajaiban, Victor mampu bertahan hidup. Masalahnya, hingga usia taman kanak-kanak, Victor masih belum dapat berbicara dengan baik. Setiap kali membuka mulut, hanya kata-kata kasar yang bisa diucapkannya.
Beruntungnya, Victor adalah anak yang pintar. Dalam waktu singkat, ia dapat mempelajari banyak kosa kata. Berinteraksi dengan manusia selain orang tuanya membantu banyak dalam hal ini.
Ketika sudah bisa baca tulis, Victor menemukan ada jauh lebih banyak kosa kata di dalam buku. Seperti sihir, ketika ia fokus membaca buku-buku itu, Victor tidak lagi mendengar umpatan yang dilontarkan ibunya. Karena itulah Victor meminjam lebih banyak buku untuk dibaca.
Dari dongeng hingga buku-buku tebal bertopik berat. Victor meminjamnya secara acak. Berharap ada lebih banyak ketenangan dalam hidupnya. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada suara umpatan.
__ADS_1
...~•~...