Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
Atas Nama Persaudaraan


__ADS_3

Apakah menurutmu cerita ini aneh? Tidak masuk akal, ya? Sejujurnya, aku pun berpikir demikian. Tiba-tiba Victor menjadi hantu, dan entah dari mana datangnya makhluk-makhluk aneh yang tidak dapat dijelaskan itu.


Setiap menyelesaikan satu paragraf, aku selalu berhenti. Mempertanyakan tindakanku, tentang benar dan salah. Bolehkah aku menambah isi cerita milik saudara angkatku ini? Aku merasa telah melakukan hal yang buruk.


Aku tidak pernah tertarik pada karya tulis, pilihan kataku buruk sekali. Aku pikir, "Aku harus berhenti disini sebelum benar-benar merusak cerita Tiara."


Meski begitu, ada satu hal yang pada akhirnya membuatku tetap melanjutkan ini. Aku selalu diingatkan pada hari dimana aku sedang duduk di meja tempat Tiara meregang nyawanya. Di tempat tubuh lemah itu membusuk hingga membuat warga curiga.


Polisi dan para tetangga yang penasaran sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Aku sendirian, membayangkan kesepian yang dirasakan Tiara ketika masih hidup. Cipratan darah Tiara sudah dibersihkan, tapi aku masih bisa mencium bau amisnya.


Sepanjang malam aku terjaga dengan mata hitam dan bengkak. Aku mencoba memahami kata demi kata yang tertulis dalam cerita "Catatan Bunuh Diri" miliki Tiara.


Tiara memasukkan banyak kasus pelecehan di dalam ceritanya. Dari sana, aku bisa bayangkan betapa trauma di masa lalu masih sangat menghantuinya. Dia pasti mengutuk mendiang ayahnya yang bajingan itu setiap hari, mungkin setiap detik.


Layar bergulir. Matahari pagi telah muncul. Meski kelelahan, aku tidak beranjak sama sekali. Aku masih memandangi catatan yang ditulis Tiara di akhir ceritanya.


"Kamu ingin cerita ini dipublikasikan? Tentu. Aku pasti akan langsung melakukannya untukmu."


Aku berpikir begitu dalam hatiku. Akan tetapi, butuh waktu berbulan-bulan sebelum aku mulai mempublikasikan cerita ini. Alasannya adalah diary digital yang tidak sengaja aku baca.


"Aku ingin mati.”


Itulah kalimat pertama yang ditulis Tiara. Hanya tiga kalimat, dan itu membuat air mataku kembali berjatuhan. Terkadang dia hanya membuat kalimat-kalimat singkat, terkadang ia bercerita panjang tentang dirinya dan kebenciannya pada sang Ayah. Semakin aku baca, terasa semakin menyakitkan.


“Kehidupan ini memuakkan.”


“Kapan aku akan mati?”


“Hari ini aku tidak sengaja mendengar percakapan penghuni rumah sebelah. Katanya, paman penjual buah di pertigaan sudah tutup usia. Aku tidak mengenalnya, tapi menurutku dia orang yang baik karena tidak pernah mempertanyakan apa pun yang aku lakukan. Aku akan menyusul, tunggu saja.”

__ADS_1


“Tubuhku menggigil hebat lagi. Aku kedinginan. Mungkin aku akan segera meninggal. Syukurlah, kuharap prosesnya lebih cepat.”


“Kenapa aku masih hidup?”


“Tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap hidup.”


Ada banyak keluhan semacam itu. Aku menggulir mouse semakin cepat, tidak tahan dengan pemikiran-pemikiran negatif yang menunjukkan betapa rusaknya mental Tiara. Tanganku berhenti di curahan hati terakhir dan terpanjang yang dibuat Tiara. Berikut isinya :


Untuk diriku di masa depan.


Bagaimana kehidupanmu sekarang? Aku harap lebih baik. Sudahkah kamu memaafkan Ayah dan mulai mempercayai seorang pria? Apa kamu akhirnya bisa hidup bahagia? Aku penasaran.


Hei. Bagaimana dengan Catatan Bunuh Diri? Apa kamu sudah menyelesaikannya? Jangan lupa publikasikan. Cerita itu mengandung harapan kita bersama, ingat?


Bukan hanya tentang kamu, tapi juga teman-teman yang lain. Teman-teman yang berjanji akan bunuh diri bersama. Kamu mungkin berhasil menghilangkan keinginan itu, tapi kamu harus tetap menyiarkan perasaan mereka. Kita sudah berjanji.


Bagaimana jika kejadiannya persis seperti yang aku bayangkan ini? Aku di masa depan tidak mungkin bisa membaca pesan ini. Tidak akan ada siapapun yang melakukannya.


Ralat. Mungkin ada. Tetangga-tetangga di sini selalu ingin tahu, mungkin mereka akan penasaran dengan apa yang kulakukan di komputerku. Atau seorang pecinta fiksi yang tanpa sengaja mengetahui identitasku. Mungkin juga polisi yang sedang melakukan olah tempat kejadian perkara.


Siapapun tidak masalah, aku ingin menulis sesuatu untukmu—atau kalian. Paragraf berikutnya adalah pesan yang ingin kuberikan kepada siapapun yang menggeledah komputerku.


Pertama, aku yakin aku tidak akan membiarkan siapapun membaca diary-ku selagi aku hidup. Jadi, aku yakin aku sudah tiada saat kamu membaca ini.


Bagaimana kematianku? Aku selalu berpikir untuk bunuh diri, tapi mungkin juga kematianku disebabkan oleh hal lain. Mungkin kecelakaan? Bisa jadi karena penyakit di tubuhku. Sejak kecil, aku berpikir tubuhku ini adalah sarang penyakit mematikan. Seolah aku bisa mati sewaktu-waktu karenanya.


Kamu membuka file ini pasti karena penasaran mengenai aku, jadi akan aku ceritakan sedikit. Aku pernah masuk penjara anak-anak dulu, karena membunuh bajingan tua itu—maksudku ayahku.


Keluar dari sana, aku melarikan diri dan berniat mengakhiri hidupku. Akan tetapi, sebuah keluarga menghampiri, dan menggagalkan rencanaku. Aku tidak begitu ingat, yang jelas mereka mengadopsiku setelahnya.

__ADS_1


Keluarga itu sangat hangat dan sama sekali tidak palsu. Mereka menyayangiku seolah aku memang bagian dari keluarga sejak awal. Aku benci berada di sana, jadi aku melarikan diri lagi.


Aku kehilangan keberanian untuk mengakhiri hidup, kemudian menjadi gelandangan. Kesana-kemari mencari pekerjaan untuk menghidupi diri sendiri. Hingga aku memasuki dunia tulisan, dan menjadikannya sebagai pekerjaan utama.


Aku tahu, kehidupanku sangat membosankan, bukan? Jika kamu membaca cerita "Catatan Bunuh Diri" yang aku tulis, kamu akan mengenal Victor. Aku selalu menyebutnya gila, tapi kurasa aku sendirilah yang gila. Setidaknya, aku masih sempat menuliskan sisa-sisa kewarasan-ku di sana.


Mungkin, cerita itu akan terlihat seperti pembenaran atas tindakan bunuh diri. Namun, percayalah, aku tidak bermaksud begitu saat menulisnya. Aku hanya ingin menyuarakan isi hati orang-orang yang ingin bunuh diri.


Entah di kehidupan nyata atau di media sosial. Bunuh diri sering kali menjadi bahan hinaan. Dianggap aib, dan menjijikkan. Semacam itu. Darahku seketika mendidih saat seseorang menghakimi orang yang telah, mencoba atau berpikir untuk bunuh diri.


Karena itu "Catatan Bunuh Diri" ada. Untuk memberi tahu dunia, bahwa tidak seharusnya mereka menghina orang yang ingin bunuh diri. Kami butuh dukungan, kami butuh seseorang untuk mendengarkan kesedihan kami. Kami butuh pelukan hangat, bukannya tatapan sinis.


Aku sungguh berharap padamu. Lakukan permintaan terakhirku, sebar luaskan cerita ini. Jika belum tamat, kamu boleh melanjutkannya.


Cinta dan kasihku untukmu yang mewujudkan keinginanku. Andai aku bisa memberikan sesuatu dari “sini”, aku pasti akan mengirimkan banyak permen dan coklat.


8 April 2020


_


Setelah membaca itu, aku tidak punya alasan untuk berhenti. Tiara jelas memberi izin melanjutkan ceritanya. Aku mungkin memang merusaknya dengan kepayahanku dalam menulis. Namun, secara alur, bab tambahan yang aku buat tidak begitu melenceng, kok.


Keberadaan Makhluk Merah dan Biru itu memang terlihat tidak masuk akal. Akan tetapi, mereka ada di dalam draft awal cerita Tiara, bersama latar belakang karakter-karakter lain. Di sana juga tertulis teman-teman yang menginspirasinya menciptakan setiap karakter.


Aku rasa, pada awalnya Tiara bermaksud menjadikan makhluk yang disebutnya sebagai Kematian dan Kehidupan itu sebagai kambing hitam dari keinginannya untuk bunuh diri. Makhluk astral itu yang membisikkan keinginan untuk bunuh diri pada dia dan teman-temannya.


Ada beberapa hal lain yang belum sempat dituliskan Tiara. Aku rasa aku akan merangkumnya dan menambahkan satu atau dua bab lagi. Tolong jangan mengejek cara menulisku yang buruk.


...~•~...

__ADS_1


__ADS_2