Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
Tidak Pernah Peduli


__ADS_3

“*Sejujurnya, aku tidak pernah peduli pada mereka. Entah mereka meregang nyawa atau melanjutkan hidup. Aku tidak peduli. Tidak ada hubungannya denganku*.”


...~•~...


“Victor memang luar biasa,” puji Ginette. “Dia tidak pernah membantu hanya dengan kata-kata. Dia selalu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang yang ingin bunuh diri. Sejak dulu, jauh sebelum yayasan ini berdiri.”


Tama baru mengenal Victor dalam waktu yang singkat, tapi ia tahu, memang begitulah Victor. Victor tidak pernah memberi harapan atau pun kalimat penyemangat.


Victor membuktikan kejahatan Will yang membuat Adriana ingin bunuh diri. Ia memberi “rumah” baru untuk Joe yang tidak memiliki tujuan atau pun tempat untuk pulang. Dia mencarikan kegiatan yang bisa dilakukan Ray yang kehilangan semangat hidup.


“Dulu, dia juga melakukan hal yang sama pada adikku. Victor menyelamatkannya, ketika aku sendiri bahkan tidak tahu dia sedang berputus asa.” Ginette tersenyum tipis.


“Apa biasanya dia juga pemarah seperti itu?” tanya Elayne. “Dia seperti benar-benar akan membunuh mereka semua.”


“Kami tidak pernah melihatnya marah. Berharap saja dia tidak melakukan hal berbahaya seperti itu.”


“Dia tidak akan melakukannya,” ucap Tama. “Jika dia mencobanya, kita pasti bisa menahannya. Kita tidak mungkin hanya duduk diam dan menonton, ‘kan?”


“Victor itu sulit ditebak, dan mustahil untuk dikendalikan.” Ginette menghela nafas. “Kita tidak tahu apa yang ada di pikirannya.”


“Tetap saja-“


“Kamu menyukainya, ya?” potong Elayne.


“Iya,” ketus Tama. “Ada masalah? Kamu takut tidak bisa bersaing denganku?”


“Kamu menganggapku sebagai saingan?” Elayne terkekeh. “Kamu salah paham. Aku akui, aku tertarik padanya, tapi bukan dengan cara yang romantis. Lebih seperti, kami memiliki pemikiran yang sama.”


Ginette berdehem pelan. “Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk memperebutkan Victor.”


“Kamu tidak sungguhan akan membunuh pelakunya, kan?” Joe menghadang Victor di depan pintu ruangannya.


“Kenapa? Takut? Kamu pelakunya?” sinis Victor. Tubuh Joe yang jauh lebih besar tidak membuat Victor gentar. Belasan mata yang mengawasinya juga sama saja. Tidak ada apa-apa di pikiran Victor saat ini kecuali kemarahan.

__ADS_1


“Aku tidak takut terbunuh, tapi aku takut kamu sungguh membunuh seseorang,” ungkap Joe. “Membunuh butuh keberanian. Namun, setelah berhasil melakukannya sekali, kamu pasti ingin melakukannya lagi. Membunuh memiliki efek candu.”


Kerutan di dahi Victor berkurang. Ia melirik Griff yang tertidur di atas sofa. Ekspresinya melunak. “Jaga di sini, aku akan menenangkan diriku.”


Victor harus menjernihkan pikiran. Sendirian, tanpa interupsi dari siapa pun. Jika tidak, mungkin nyawa seseorang akan melayang karenanya.


“Apa sekarang terlalu terlambat untuk makan siang?” ucap Elayne.


“Aku sedang tidak selera.” Victor menghindar, tapi gadis itu menghadangnya lagi.


“Tidak apa-apa. Aku saja yang makan, kamu cukup temani aku.”


“Aku menolak,” tegas Victor.


“Kamu tidak akan menolak.” Elayne mendekat dan berbisik, “Aku rasa, aku punya jawaban untuk pertanyaan terbesar dalam hidupmu.”


Victor diam di tempat. Selain pelaku yang melecehkan Griff, satu-satunya pertanyaan yang sangat ingin dia dapatkan jawabannya adalah alasan kenapa ia ingin bunuh diri. Tapi, Elayne tidak mungkin mengetahui jawaban dari kedua pertanyaan itu.


“Aku membaca bukumu. Aku juga mengintip isi lemari itu, menemukan banyak harta karun di dalamnya. Aku bahkan membawa satu untuk kenang-kenangan.” Elayne tersenyum.


“Benda-benda itu menunjukkan niatmu untuk bunuh diri sudah bulat. Dari sana, aku yakin kita ini sama. Hanya saja, kamu masih bingung dengan beberapa hal.” Elayne tersenyum lagi. “Dan aku bisa menghilangkan keraguanmu.”


“Ada sesuatu yang kamu inginkan dariku? Atau semua ini hanya omong kosong?” Victor sudah tidak bisa bersabar. “Suasana hatiku sedang tidak baik sekarang.”


“Aku butuh balas jasa, balasan yang setara.” Elayne menggantung kalimatnya dengan sengaja. Ia ingin sedikit menikmati ketegangan ini. “Kamu ingin mendengar sebuah kalimat dariku, begitu pula denganku.”


“Apa yang kalian lakukan di sini?” Tama menengahi Elayne dan Victor.


“Tidak ada, hanya sedang merencanakan makan siang yang terlambat,” balas Elayne. “Kita berangkat sekarang?”


Victor tidak dapat mengerti. Banyak hal terjadi di saat yang berdekatan, dan itu membuat otaknya seperti akan membeku. Firasatnya, rentetan kejadian ini belum berakhir.


Kenapa Tama harus ikut bersama mereka? Elayne ingin mengungkapkan alasan Victor ingin bunuh diri di hadapan gadis itu? Di depan orang yang paling tidak ingin Victor bunuh diri? Ide buruk, tapi tidak bisa dicegah.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka akan melihat penyelamat kita dalam keadaan semarah itu.” Elayne memulai pembicaraan. “Kamu pasti sangat peduli pada anak itu.”


Meja makan itu lengang. Suasananya sangat menegangkan. Ada aura tidak menyenangkan yang terpancar dari setiap orang di meja itu. Rasanya seperti tidak ada oksigen di antara mereka.


“Tidakkah kamu mau mengatakan sesuatu untukku?” Elayne menatap Victor dengan lembut. Mengisyaratkan bahwa pria itu harus menjawab semua pertanyaannya.


“Aku tidak peduli padanya,” jawab Victor. “Aku hanya terbawa emosi karena kejadian seperti itu terjadi di yayasan yang aku dirikan dari nol. Di yayasan yang menyuarakan gerakan pencegahan bunuh diri.”


“Kamu terlalu malu untuk mengungkapkan kepedulianmu?” Elayne menyuap makanannya. “Anggaplah dalam kasus Griff yang kamu pedulikan adalah para pengurus yang tidak becus. Lalu bagaimana dengan yang lain? Orang-orang yang kamu selamatkan.”


“Aku tidak pernah menyelamatkan siapa pun.”


“Kamu melakukannya. Kamu membuat banyak orang gagal bunuh diri. Victor si Penyelamat.”


“Aku tidak pernah melarang mereka bunuh diri. Aku hanya menunjukkan empatiku dengan memberikan bantuan yang mereka butuhkah,” tegas Victor.


Victor mendesah pelan. Ingatannya menunjukkan seorang wanita yang menggeliat dalam keadaan tergantung. “Kenyataannya, aku lebih sering membiarkan mereka bunuh diri. Menonton dari tempat yang aman.”


Berbeda dengan Elayne yang tersenyum, Tama terbelalak mendengar jawaban Victor. Orang macam apa yang diam saja melihat orang lain hendak bunuh diri? Yang pasti bukan Victor. Mustahil.


Senyum Elayne menghilang. Wajahnya seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. "K-kepalaku sakit... to-tolong," rintihnya.


“K-kamu kenapa? Bagian mana yang sakit? Ayo ke rumah sakit.” Tama berseru panik.


“Tidak perlu. Aku ... tolong belikan obatku. Aku butuh obatku. Sekarang,” pinta Elayne sambil menahan lengan Tama. Dia menangis. “Cepat. Sakit sekali.”


“Aku akan pergi membelinya. Katakan, apa nama obatnya?” Khawatir dan cemas bercampur aduk dalam diri Tama. Membuat nafasnya mulai tidak beraturan.


“Sean. Tanya dia, dia yang selalu membelinya. Argh, cepat.” Elayne menjambak rambutnya semakin kuat.


Air mata Elayne mengalir semakin deras. Tama tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang ditahan perempuan itu. Meski ia tidak menyukai Elayne, dia tidak bisa membiarkannya kesakitan. Karena itu, Tama berlari secepat yang ia bisa menuju apotek terdekat.


Sementara itu, Victor melipat tangannya dan bersandar pada kursi. “Aktingmu buruk,” komentarnya.

__ADS_1


...~•~...


__ADS_2