
“Bajingan yang tidak bisa mengendalikan *********** sendiri tidak pantas disebut manusia. Aku akan menemukan dan membunuhnya. Lihat saja, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya.”
...~•~...
11.37.
Victor membuang ponselnya sembarangan dan kembali menarik selimut yang dipakainya. Energinya terserap habis semenjak membantu Ray. Tidak ada satu hari tenang pun di hidupnya.
Victor sedikit menyesal karena akhir-akhir ini terlalu sering ikut campur dengan kehidupan orang lain. Penyelamat? Begitukah image yang terbentuk karena perbuatannya? Menggelikan. Nyawa mana yang pernah diselamatkan olehnya? Victor yakin, tidak ada satu pun.
“Hei, Vic. Kapan kamu akan keluar dari sana? Apa kamu sudah tewas atau sesuatu? Permainan menunggu ini membosankan.”
Suara Elayne sayup-sayup terdengar di telinga Victor. Sepertinya sudah berulang kali sejak pagi. Berhalusinasi tentang seseorang yang baru sekali ditemuinya membuat Victor jengah. Dia harus memeriksanya.
“Sejak kapan kamu di sana?”
Victor terperanjat. Suara yang didengarnya bukan halusinasi. Elayne sedang duduk di sebelah lemari kecil milik Victor. Tangannya sedang mengusap lantai, menggambar sesuatu dengan cairan merah- darah!
Luka dibalik perban Elayne terbuka. Gadis itu menggunakan darahnya untuk melukis di atas lantai sambil melamun. Bahkan saat Victor membersihkannya, Elayne tidak berkata sedikit pun. Dia memasukkan tangannya yang satu lagi ke dalam saku sweater.
Memperhatikan dalam keheningan.
“Apa yang terjadi?” teriak Tama. Makanan yang dibawanya berjatuhan. “A-apa kamu baru saja melakukan hal yang tidak masuk akal?”
“Aku melamun.” Elayne merasa pandangannya buyar.
Victor memberikan segelas air putih dan membantu Elayne beristirahat di kasur tanpa dipan di kamarnya. Gadis itu baru saja kehilangan banyak darah. Pasti tubuhnya lemah sekarang.
“Apa dia baik-baik saja sekarang?” tanya Tama yang telah selesai membersihkan bekas darah Elayne. “Apa sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Dan dia tidak akan mau.” Victor diam sejenak. “Apa dia kesini bersama pria bernama Sean itu?”
__ADS_1
“Ya, tapi Sean hanya mengantar lalu pergi. Elayne mengusirnya.” Tama memeriksa ponselnya. “Dia meninggalkan nomor ponselnya, apa perlu di telepon?”
Tepat sebelum meraih ponsel Tama, ponsel Victor lebih dulu berdering. Saat mengangkat panggilan itu raut wajahnya seketika berubah. Wajah, telinga dan matanya memerah. Rahangnya menegang.
“Siapa yang mau bunuh diri?!” bentak Victor. “Dasar tidak becus! Kerja kalian apa saja?! Aku ke sana, jangan lakukan apa pun.”
Victor meraih kunci motornya. Berlalu tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Tama dan jantungnya yang berkecamuk. Kemarahan di wajah Victor membungkam mulut gadis itu.
“Apa dia ke yayasan?” Elayne keluar dengan wajah pucatnya, bersandar pada bingkai pintu kamar. “Aku juga. Aku ingin tahu apa yang membuatnya semarah itu.”
“Kamu perlu banyak istirahat. Aku akan memanggil Sean untuk menjemputmu,” ujar Tama.
“Ayolah, kamu pasti penasaran juga. Panggil taksi saja, lalu kita ke yayasan. Ya?” bujuk Elayne.
Tama tidak dapat membantah. Pertama kalinya ia melihat Victor terbawa emosi, tentu saja dia penasaran dengan penyebabnya. Mustahil baginya untuk menahan diri agar tidak menyusul Victor.
Di yayasan, Tama melihat motor yang dibawa Victor tergeletak sembarangan di tempat parkir. Kuncinya bahkan masih tergantung di tempatnya. Dia pasti membiarkan motornya jatuh dan buru-buru memasuki yayasan.
“SATU!”
Semua pengurus yayasan yang laki-laki di hadapan Victor menunduk ketakutan. Meski tidak bersalah, cara bicara Victor tetap saja membuat nyali mereka ciut.
“DUA!”
Ruang pengurus itu lengang. Para penonton di luar ruangan bahkan tidak berani berbisik. Menanti apa yang akan dilakukan Victor selanjutnya.
“TIGA!”
“T-tunggu,” ucap salah seorang diantara mereka.
“Kamu pelakunya?” Victor mengangkat tinjunya ke udara.
__ADS_1
“Tidak, bukan aku,” ucap pengurus itu, ketakutan. “A-aku hanya tidak bisa menerima. Kami tidak melakukan apa-apa, kenapa kami semua yang akan mendapat hukuman? Kita bahkan tidak tahu apa dugaanmu benar.”
“Seorang anak di panti asuhan yang kalian urus mencoba bunuh diri di bawah hidung kalian! Kalian tidak becus mengurusnya, masih merasa tidak bersalah?!” amuk Victor.
“M-mustahil kami bisa mengawasinya 24 jam sehari. Orang tua kandung sekali pun tidak bisa melakukan hal semacam itu,” bela yang lain. “Dan juga, bukankah itu sudah perkara yang berbeda? Kamu sedang mencari seorang pelaku, bukan?”
Emosi Victor memuncak. Ia meraih benda terdekat dengannya—sebuah vas kayu untuk bunga hias—kemudian melemparnya ke dinding. Vas itu memantul ke lantai, mengenai salah seorang diantara mereka. Meski begitu, masalah tidak akan selesai di sana.
“Untuk siapa pun pelakunya, setelah Griff menyebut namamu, tamat sudah riwayat hidupmu!” ancam Victor. “Aku sendiri yang akan membunuh pelakunya!”
Victor membanting pintu. Menyibak kerumunan yang penasaran. Ia berhenti sejenak, menatap semua orang yang berkumpul di sana. Anak panti, pengurus, pengunjung dan beberapa relawan.
“Jangan ada yang mendekati ruanganku tanpa izin!” perintahnya. “Dan bawakan segelas teh hangat.”
Jangankan menentang atau protes, menatap mata Victor sedikit pun tidak ada yang berani. Kemarahan Victor terlihat seperti orang gila. Terasa semakin mengerikan karena dia biasanya selalu tersenyum.
Tama mengambil tugas menakutkan itu. Mengantar teh. Saat Victor menghilang ke tempat Ray, Tama sudah mengenal Griff. Umurnya tujuh belas tahun, posturnya gagah, wajahnya ceria. Namun, sekarang tidak lagi. Griff terlihat lesu, lemah, dan tidak berdaya.
“Ayo, minum dulu. Setelah itu, kamu bisa ceritakan se-“ Suara Victor tercekat saat Griff menghindari uluran tangannya.
Bocah menyedihkan itu gemetar. Ia tidak takut Victor akan memarahinya, tapi ia takut akan sentuhan. Sesuatu pasti terjadi kemarin malam. Sesuatu yang membuatnya trauma. Teman sekamarnya juga bilang, dia tidak tidur di asrama semalam.
Saat Victor memeriksa gudang tempat Griff mencoba bunuh diri, dia mencium aroma aneh. Aroma itu dan reaksi Griff. Sangat jelas kalau itu adalah kasus pelecehan. Dan hanya pengurus yayasan yang masih berada di area yayasan pada malam hari.
Membiarkan seorang bajingan tidak beradab berkeliaran di yayasan yang dibentuknya membuat Victor merasa tidak berguna. Bagaimana pun, dia ikut berperan membawa predator itu masuk ke yayasannya.
“Katakan, apa yang harus aku lakukan?” Victor mencengkeram bahu Griff, mengguncangnya. “Sebut namanya, dan katakan apa yang kamu ingin aku lakukan padanya? Kamu ingin aku memotong ***********? Atau bahkan mencincang tubuhnya? Akan aku lakukan!”
“Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku akan menghukumnya.” Victor bersimpuh di hadapan Griff. “Aku akan lakukan apa yang kamu inginkan, katakan saja siapa yang harus aku hukum.”
“Jangan hanya gemetar ketakutan di sini. Setidaknya katakan sesuatu. Menangis, berteriak, atau marahlah. Jangan hanya diam begini. Hatiku sakit melihatnya." Suara Victor bergetar. "Dia lebih pantas mati. Jadi, tidak seharusnya kamu yang mencoba bunuh diri."
__ADS_1
...~•~...