
Tama duduk santai di sebuah kursi, mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pemberitahuan terbaru. Dia tersenyum tipis melihat pemberitahuan livestreaming yang sedang dilakukan oleh Ray, kemudian mengetuknya.
"Apa dia mau mengeluarkan lagu baru?" pikir Tama. "Mungkin Victor di sana untuk membantu. Sudah kuduga, dia masih hidup."
Kematian dan Kehidupan melirik Victor dari dua sisi. "Mana kutahu? Seingatku kami sudah merilis semuanya." Victor mengangkat bahunya.
Irama yang merdu dari gesekan sebuah biola mengalun indah dari ponsel Tama. Di dalam sana, Ray membawakan lagunya, dengan latar hutan yang indah. Dia sepertinya sedang berada di tempat yang cukup tinggi.
"Wah, kukira dia tidak akan menunjukkan wajahnya," komentar Tama.
"Bukannya dia yang terakhir menghubungimu sebelum kamu bunuh diri?" ucap Kematian.
"Memang- hei, darimana kalian tahu?" Alis Victor menukik tajam.
"Kami hanya senang mengamati. Kehidupan manusia itu lebih seru daripada drama-drama yang kalian buat di televisi." Kekehan Kehidupan membuat Victor mendengus.
"Jangan jengkel begitu. Setelah beberapa lama, kamu pasti akan berakhir seperti kami," bujuk Kehidupan.
"Berikutnya akan menjadi lagu terakhir yang aku mainkan." Suara Ray membatalkan niat Victor untuk berdebat dengan Kehidupan dan Kematian. "Lagu ini masih sangat baru, belum aku sempurnakan. Aku membuatnya untuk seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku. Orang yang aku cintai."
"Itu untukmu, Anak Baru!" sorak Kematian penuh semangat. "Wah, dia pasti benar-benar mencintaimu."
Victor membuang wajah. Dia sendiri tau bahwa lagu itu memang ditujukan untuknya. Tadi malam, ketika ia memikirkan alasan yang selama ini membuatnya ingin bunuh diri, Ray mengiriminya pesan. Panjang sekali, tanpa henti. Sungguh mengganggu.
Sebagian besar isi pesan itu tidak dibaca oleh Victor. Intinya, Ray mengirim sebuah Video, kemudian menyatakan perasaannya. Sepertinya Ray juga mengatakan dia tidak mau tetap hidup jika Victor mencampakkannya.
Pikiran Victor sedang sangat kacau, hingga tanpa sadar ia membalas, "Jika ingin mati, ya mati saja. Jangan menyeretku ke urusanmu. Aku tidak peduli apa pun yang terjadi padamu. Jangan ganggu aku.”
"Aku harap kamu menonton video ini," lanjut Ray. "Apa kamu ingat? Ini adalah tempat pertemuan pertama kita. Kamu sangat kasar, tapi aku tahu kamu adalah orang yang tulus. Kamu orang pertama yang memperlakukanku dengan baik."
"Apa dia membicarakan Victor? Aku tidak tahu mereka punya hubungan semacam itu." Tama bergumam tanpa tahu orang yang ia maksud sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Jangan kira aku penyuka sesama jenis!" jengkel Victor.
"Aku tidak dapat menghubungi ataupun menemuimu. Apa kamu menghindariku? Aku hanya bisa berharap pada live ini, agar kamu mendengar apa yang ingin kukatakan. Aku tahu, aku tidak punya harapan, jadi aku akan menyerah. Seperti yang kamu suruh."
Ray menghela nafas berat. Setelah jeda yang cukup lama, ia menggesek biolanya, dan memainkan lagu yang begitu menyedihkan. Bahkan tanpa lirik sekalipun, semua orang pasti merasakan perasaan patah hati di dalam lagu itu.
"Kamu mau kemana?" Kehidupan melirik Victor yang sudah balik badan.
"Mau menemui pemuda itu, ya?" goda Kematian.
"Hei, jawab kami!" Kehidupan tiba-tiba muncul di depan Victor.
"Bagaimana kamu melakukannya?" tanya Victor penasaran. "Kalian bisa teleportasi?"
"Oh, tentu saja. Hal seperti ini pasti mengherankan bagi seorang yang seumur hidupnya menjadi manusia sepertimu. Tapi bagi kami ini cuma kemampuan alami." Kematian mengangkat dagunya tinggi-tinggi, penuh kebanggaan.
"Ajarkan padaku caranya," pinta Victor.
"Dia sudah pergi," potong Kematian. "Ayo, aku tidak mau ketinggalan tontonan menarik."
"Apa menurutmu dia akan menangis lagi?" Kehidupan menggaruk kepalanya. "Dia bersikap sangat berbeda dibanding saat dirinya masih hidup. Aku rasa aku akan menyerap banyak energi kehidupan dulu sebelum menyusul."
"Kita harus mempersiapkan syarat yang berat sebelum membantunya menyelamatkan pemuda itu." Kematian terkekeh.
Sesuai namanya, Kehidupan menjalani hari dengan menyerap energi dari orang yang berkeinginan untuk tetap hidup. Dia juga bisa memindahkan energi itu pada orang lain, seperti yang dilakukannya pada Tama. Sedangkan untuk kematian, yang terjadi adalah sebaliknya.
Sedetik berikutnya, Kehidupan dan Kematian telah berada di rumah sakit. Di tempat dimana banyak manusia sedang memperjuangkan kehidupan mereka. Mereka yang berdoa untuk segera sehat.
"Sudah?" tanya Kematian tak sabaran.
"Ya, aku menyerap cukup banyak untuk membuat pemuda lemah itu tidak akan pernah lagi berpikir untuk mati seumur hidupnya." Kehidupan membanggakan dirinya.
__ADS_1
"Jika aku memberikan energi kematian sedikit saja, dia pasti langsung ingin bunuh diri lagi," kesal Kematian.
Kehidupan dan Kematian kembali melakukan teleportasi, kemudian muncul di atas sebuah gedung lantai tiga. Tangan mereka terangkat dengan anggun, seolah mereka adalah keturunan penyihir terhormat.
Sayangnya, orang yang ingin dibuat kagum justru mengabaikan mereka. Melirik saja tidak, apalagi memuji kemampuan mereka. Bagi Victor semua itu tidak menarik. Ia lebih memilih memperhatikan penampilan Ray dari balik kamera.
"Kamu sungguh tidak punya selera humor, " dengus Kematian. "Jika kamu terus bersikap kasar dan membuat kami kesal begitu, kamu akan sepenuhnya hidup sendirian di kehidupan yang membosankan ini."
Victor menghela nafas. "Kalian dari mana?"
"Mengumpulkan energi agar Ray tidak berpikir untuk mengakhiri hidupnya." Kehidupan tersenyum lebar.
"Untuk apa kalian melakukan itu?" Victor mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja untukmu. Dia 'kan kenalanmu," sangsi Kehidupan.
"Asal kamu tahu saja, pemuda itu sedang ingin bunuh diri," tambah Kematian. "Dia memancarkan keinginan untuk mati yang benar-benar kuat."
"Aku tahu. Dia mengatakannya tadi, bahwa dia akan melakukan seperti yang kukatakan. Aku menyuruhnya mati saja, daripada menggangguku." Victor terkekeh tidak bersalah.
Sejak Victor lahir, Kehidupan dan Kematian sudah menaruh perhatian berbeda pada pria itu. Saat kecil Victor tidak pernah punya keinginan untuk hidup, tapi juga tidak ingin mati. Bisa dibilang, kosong. Dia tidak memancarkan energi apapun.
Setelah pertama kalinya Victor berpikir untuk bunuh diri, barulah dia memancarkan energi kematian. Energi yang luar biasa dan terus bertambah dengan sendirinya. Namun, sama sekali tidak bisa diserap oleh Kematian. Kedua makhluk asing itu tidak bisa menambah atau mengurangi energi milik Victor.
Keberadaan yang begitu berbeda menarik minat Kehidupan dan Kematian untuk mengamati setiap tindakan Victor. Mereka melihat orang-orang yang membatalkan keinginan mereka untuk bunuh diri setelah bertemu Victor. Juga orang-orang yang dibiarkan Victor bunuh diri begitu saja, seperti Elayne.
Victor selalu membantu orang yang meminta bantuannya, dan tidak pernah ikut campur tanpa diminta. Victor tidak pernah melarang mereka bunuh diri, pun tidak menyuruh atau menganjurkan.
"Kamu mengatakan kalimat yang paling kamu benci," kata Kematian tak percaya. "Kamu menyuruh Ray mati?"
"Apa kamu benar-benar Victor?" sambung Kehidupan.
__ADS_1
~•~