Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
Memang Takdirnya untuk Mati


__ADS_3

“Mungkin sudah saatnya aku menghadapi takdirku untuk mati. Semua permainan kemanusiaan ini sudah tidak menyenangkan."


...~•~...


Dalam ilusi ketenangan buatannya, Victor kian tumbuh. Hanya saja, tidak ada cinta kasih di dalam dirinya. Tidak pernah mendapat kasih sayang membuatnya tidak dapat menyayangi siapa pun. Termasuk orang tuanya.


Setelah semua kejadian itu, apakah reaksi Victor saat ini aneh? Ketika dia mengabaikan sang Ibu yang sedang membuat simpul tali gantungan. Salahkan jika ekspresinya tidak berubah barang sedikit? Dia bahkan tidak terkejut ataupun heran.


“Pada akhirnya, kamu memilih mati,” lirih Victor.


“Jangan hentikan aku.”


“Tidak akan,” tegas Victor.


“Kamu pasti sangat membenciku.” Ibu Victor tersenyum sedih, kemudian menggantung dirinya sendiri. “Tentu saja. Aku tidak mendidikmu dengan baik.”


“Kamu bahkan tidak pernah mendidikku.” Victor menantikan hingga ibunya berhenti menggeliat. Jemari mungilnya membalik halaman buku, kemudian lanjut membaca. “Tapi aku tidak membencimu.”


Victor berbicara apa adanya. Meski dia tidak sedih akan kematian ibunya yang di depan mata, dia juga tidak merasa senang. Victor tidak peduli sama sekali dengan wanita itu. Jadi, biarkan saja.


Masyarakat sekitar cenderung kasihan pada Victor. Anak itu membaca buku di depan ibunya yang bunuh diri, tanpa mengerti apa pun. Seandainya dia tahu apa yang terjadi, mungkin bocah itu akan menangis tak terkendali.


Akan tetapi, orang-orang dewasa sok tahu itu salah. Victor tahu betul apa yang dilakukan ibunya. Perempuan itu bunuh diri. Dari buku-buku yang dibacanya, Victor mengerti arti kata itu.


Victor mengetahui lebih banyak hal dibanding anak-anak sebayanya. Meski begitu, dia tetap memilih diam. Tidak ada niat sedikit pun untuk mencegah perbuatan ibunya. Victor sengaja membiarkannya.


“Tidak berguna! Kalau tahu akan seperti ini, aku pasti tidak akan melahirkanmu.”


Hampir setiap hari Victor mendengar kalimat itu dari ibunya. Karena itulah, dia mulai bertindak layaknya anak yang tidak berguna, tidak pernah ada. Anak yang tidak ada, tidak mungkin bisa menyelamatkan ibunya, kan?


Begitulah bentuk pemberontakan Victor kepada orang tuanya, melakukan hal buruk yang mereka ucapkan. Tidak berguna, tidak bisa di atur, tidak mendengarkan. Victor melakukannya karena suami istri itu selalu meneriakkan hal itu padanya.


Di salah satu buku yang pernah Victor baca tertulis, "Kejahatan harus dibalas dengan kebaikan." Ada juga yang mengatakan, jika kamu direndahkan maka harus berjuang untuk membuktikan kamu tidaklah rendah.


Ada banyak motivasi-motivasi semacam itu, tapi Victor tidak akan mengikutinya. Buat apa? Apa untungnya? Melakukan hal baik yang menguntungkan mereka. Itu hanya akan membuat mereka senang.


“Itu melelahkan.” Begitulah yang dipikirkan Victor. Bocah itu tidak pernah berminat mendengar pendapat orang tentang dirinya. Bahkan orang tua kandungnya membencinya, apa yang bisa diharapkan dari orang lain?

__ADS_1


Hanya saja, pada dasarnya Victor tetaplah seorang manusia. Ingin diakui dan dikasihi. Sudut hatinya berharap sang ayah memikirkan perasaannya. Ia ingin pukulan yang dilayangkan pria itu berubah menjadi pelukan.


Di ulang tahunnya yang ke sepuluh, Victor berharap mendapat perlakuan itu sebagai hadiah ulang tahun pertamanya. Bolehkah ia menguji cinta sang ayah kepadanya? Kali ini saja.


Victor ingin tahu, jika dia menghilang, apakah ayahnya akan mencarinya dengan panik? Mustahil pria itu tidak peduli. Victor akan membuktikan itu. Bayangan sang ayah mengkhawatirkannya, membuat Victor terlalu bersemangat hingga berakhir di tengah hutan.


“Aku pasti bisa keluar dan selamat.”


Victor mengedarkan pandangan dengan berani. Tidak ada ketakutan sedikit pun terbesit dalam pikirannya. Jika dipikir lagi, emosi-emosi sensitif seperti bahagia, sedih, marah dan kehilangan juga tidak pernah mengusiknya.


“Lalu, kenapa aku harus menyelamatkan diri?”


Victor menatap kaki pendeknya. Tidak ada bedanya entah dia kembali ke rumah, atau tersesat di tempat yang tidak diketahui. Dia tidak bahagia atau pun sedih. Rasanya hampa. Dia tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu. Hanya ingin tetap hidup.


“Saat ini mungkin kamu belum mengerti, tapi aku harap, kamu tidak akan membenci ibumu.”


Entah kenapa, di saat seperti ini Victor justru teringat ucapan kakek tua di desanya. Kalimat yang ditujukan untuk menghiburnya ketika ibunya meninggal.


“Jangan membencinya karena dia tidak berada di sisimu. Maut adalah hal yang pasti dihadapi semua manusia. Aku dan kamu, kita semua juga akan meninggal pada saatnya nanti. Dan waktu untuk ibumu sudah tiba, jadi-“


Benar. Kita semua akan mati, jadi untuk apa berjuang keras untuk bertahan hidup? Tak ada satu pun yang bisa dibawa ke kehidupan selanjutnya. Dan tidak peduli sebanyak apa kontribusi kita pada kehidupan, kita tetap akan terlupakan. Cepat atau lambat.


“Pada akhirnya aku tetap akan mati. Tidak ada salahnya jika kematian itu dipercepat.”


Victor melangkahkan kaki mendekat ke tepi tebing. Namun, belum genap satu langkah, kaki itu tertahan di udara.


“Mungkin aku hanya merasa hampa?”


Victor mengepalkan tinjunya. Dia tidak pernah disayangi, tidak belajar menyayangi termasuk menyayangi diri sendiri. Mungkin itulah alasannya menganggap hidup ini tidak berarti.


Sore itu Victor mengambil keputusan yang besar. Dia akan mencoba menata kembali hidupnya. Memiliki beberapa perasaan pasti akan membuat hidupnya berarti. Setidaknya dia tidak akan mati konyol karena bunuh diri.


Setelah berhasil keluar dari hutan, Victor tidak kembali ke rumahnya. Lupakan kasih sayang pria tidak berguna itu. Tidak akan ada perubahan jika Victor tetap hidup bersamanya. Jadi, dia mencari sebuah panti asuhan.


“Aku akan bersikap baik, bolehkah aku tinggal di sini?”


Victor ingin belajar untuk saling mengasihi. Ia ingin memiliki perasaan seperti tokoh dalam novel yang dia baca. Meski awalnya ia seperti membohongi sendiri dengan senyum palsunya, Victor yakin kepura-puraan itu akan menyatu dengan dirinya yang asli.

__ADS_1


Sayangnya, tidak ada topeng yang bisa dipasang selama 24 jam sehari. Disaat sendiri, atau saat tidak ada yang dilakukan, pikiran itu kembali mengusik Victor. Pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Namun, perlahan ia melupakan alasannya.


Hari ini, Victor sudah mengingat semuanya. Apa alasan yang dicarinya itu. Kapan dan bagaimana semuanya bermula. Kenapa bisa berakhir di sini. Victor ingat setiap detailnya.


Victor bisa memastikan bahwa bukan ketidakadilan orang tua, ataupun ibu yang gantung diri yang membuatnya ingin mengakhiri hidup. Sama sekali bukan. Dia hanya ...


“Seperti halnya Elayne, aku menyadari kesia-siaan hidup. Atau lebih tepatnya, kami tidak lagi memiliki gairah akan kehidupan.”


Victor menghembuskan nafas perlahan. Ternyata begitulah pemikiran yang dia simpan jauh di alam bawah sadarnya. Seperti kotak pandora yang membuat penasaran, dan mendatangkan penyesalan begitu membukanya.


Victor mengukir senyum panjang dengan mata tertutup. Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 19 tahun berlalu sejak ia menemukan tempat ini. Pohon-pohon membesar, tapi pemandangan dari tebing itu masih sama. Udaranya juga. Lautnya.


Victor langsung membuka matanya saat wajah Tama melintas di pikirannya. Terngiang kalimat-kalimat kasar yang diucapkannya. Victor akui, semua itu berlebihan.


“Pikiran-pikiran itu membuatku lepas kendali,” batin Victor. “Dia tidak melakukan kesalahan apa pun, dan aku membuatnya sakit hati. Aku harus meminta maaf, setidaknya sebagai salam perpisahan kami.”


Victor menyesal tidak membawa ponselnya. Haruskah dia kembali ke rumah? Dia juga perlu menulis surat untuk yayasan. Bagaimana mereka akan mengurus kasus Griff? Bagaimana mereka akan menyusun kepengurusan yayasan?


Ah, bagaimana dengan Ray? Apa dia sungguh bunuh diri ketika matahari tenggelam nanti? Haruskah Victor meminta seseorang memeriksa?


Victor menutup wajah dengan telapak tangan. Berusaha menyembunyikan tawa geli yang hampir lolos dari mulutnya. Di saat seperti ini, apa gunanya memikirkan hal itu?


“Kalau terus begini, bisa-bisa aku tidak jadi bunuh diri lagi,” gumam Victor.


Berhenti memikirkan apa yang akan ditinggalkan. Yayasan, Tama, Griff dan Ray tidak akan memberi pengaruh apa-apa bagi Victor yang akan mati sebentar lagi. Mereka hanya akan membuat Victor ragu.


Victor melepas jaket yang selalu dipakainya. Ia mengelus gambar titik koma yang terpajang di bagian belakang jaket. Membatinkan arti lambang itu.


Titik koma. Ketika seseorang dapat berhenti dan menyerah dengan kehidupannya; tapi ia memilih untuk tetap melanjutkan hidupnya. Dulu, Victor memilih bertahan karena ingin mencoba merasakan kehidupan normal.


Kali ini tidak lagi. Victor tidak ingin mencoba apa-apa. Keputusan Victor sudah bulat. Dia memilih untuk mengakhiri semuanya.


Selamat tinggal kehidupan.


Aku bebas.


...T.A.M.A.T...

__ADS_1


__ADS_2