Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
EXTRA 2 : Setelah Kematian


__ADS_3

Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengotak atik cerita ini, sebagai penghormatan kepada saudara angkatku. Akan tetapi, aku terus kepikiran setiap malam. Aku masih tidak bisa menerima kematian Victor.


Mungkin akan terasa sedikit berbeda dan terlalu memaksakan, tapi aku akan mencoba membuat "bagian akhir" yang lebih memuaskan untuk diriku sendiri. Dengan memanfaatkan catatan-catatan yang dibuat Tiara di berkas terpisah.


Dan lagi, pada dasarnya aku bukanlah seorang penulis, jadi aku harap kalian tidak berekspektasi terlalu tinggi.


...~•~...


Victor menatap lautan luas di hadapannya untuk terakhir kali. Menikmati udara terakhir yang dihirupnya. Matahari terbit terakhir. Victor tersenyum tipis, menutup mata lalu menjatuhkan dirinya menuju samudera luas.


Setelah hembusan angin kencang, Victor merasakan tubuhnya menyentuh permukaan air. Rasa nyeri menyerang setiap senti kulitnya akibat perubahan tekanan yang mendadak. Ia yakin dagingnya sobek di banyak tempat. Rasa sakit itu hanya bertahan sebentar, kemudian Victor tidak merasakan apapun lagi


"Apakah mati semudah itu?" batin Victor. "Sekarang apa?"


Victor tidak merasakan ada perubahan dalam dirinya. Ia masih memiliki kesadaran dan dapat berpikir. Apakah dia belum mati? Mengingat ketinggian tebing, jelas mustahil ia masih hidup.


Victor membuka mata. Dia terperanjat menemukan dirinya masih berada di atas tebing. Tidak beranjak sedikit pun. Apakah kegiatan bunuh dirinya tadi hanya ilusi? Victor menggeleng kuat, kemudian melompat dengan yakin.


Lagi. Entah bagaimana, dia kembali ke atas tebing. Victor tidak menyerah, terus melompat berulang kali. Tentu saja, dia terus gagal. Victor seperti karakter dalam permainan, yang kembali ke tempat semula setiap kali dia mati.


"Apa-apaan ini?! Bagaimana mungkin aku tidak bisa melompat ke sana?!" Victor ingin mengamuk. Rasanya seperti takdir sedang mempermainkannya. Victor berteriak ke arah langit. "Aku ingin mati! Jangan halangi aku!"


"Bagaimana menurutmu?" Sebuah suara masuk ke indra pendengaran Victor.


"Aku yakin dia sudah mati." Suara lain menimpali. "Tapi apa yang kita lihat sekarang?"


"Jangan mengolok-olokku!" Victor membalikkan badannya, membentak pada sumber suara. "Aku pasti bisa mati, tidak perlu mengomentariku!"

__ADS_1


"..."


Victor mengerjap. Begitu pula kedua orang- maksudnya kedua makhluk aneh di depan sana.


"Kamu bisa mendengar kami?" tanya salah satu diantara mereka. Makhluk bertubuh biru dengan perawakan tinggi dan besar. Bentuknya tidak mirip apapun yang pernah dilihat Victor.


Victor masih termangu saat makhluk satunya yang berbentuk sama dengan warna merah mendekat ke wajahnya. "Kamu bisa melihat kami, ya? Akhirnya. Setelah sekian lama." Makhluk itu terlihat sumringah, sepertinya.


"Jangan menyentuhnya. Kita tidak tahu, dia itu apa. Mungkin saja dia berbahaya." Makhluk Biru menahan Makhluk Merah.


"Tapi bukankah dia adalah manusia yang tadi melompat dari tebing?" Makhluk Merah memiringkan kepalanya.


"Mungkin saja hanya mirip. Dia bukan manusia, tidak ada manusia yang bisa melihat kita." Makhluk Biru menatap temannya. "Kita harus waspada, entah apa yang bisa dilakukannya pada kita."


"Kalian bicara apa! Akulah yang seharusnya waspada. Yang bukan manusia itu kalian!" Victor mengepalkan tangannya, sedikit gemetar karena takut.


"Sepertinya dia sendiri kebingungan. Mungkin saja dia makhluk jenis baru?" Makhluk Merah meyakinkan. "Kita juga seperti itu saat pertama kali lahir, ingat?"


"Itu sudah ribuan tahun lalu, siapa yang akan ingat?" sangsi Makhluk Biru. "Aku yakin kamu sendiri tidak benar-benar ingat."


"Setidaknya aku yakin kita dilanda kebingungan selama berbulan-bulan. Tidak ada yang bisa kita tanyai." Makhluk Merah mengangkat anggota tubuh yang terlihat seperti bahunya. "Tapi sekarang dia bisa bertanya pada kita. Kamu tidak mungkin membiarkannya begitu saja 'kan?"


Makhluk merah benar. Mereka sudah hidup berdua selama ribuan tahun, tanpa makhluk lain yang sejenis. Di dunia ini hanya ada satu Makhluk Merah dan satu Makhluk Biru.


Mereka bisa melihat semuanya, entah manusia, hewan, benda-benda dan pemandangan. Namun, tidak ada yang bisa melihat ataupun berbicara pada mereka.


Setelah perjalanan panjang yang membosankan, akhirnya Makhluk Biru dapat berinteraksi dengan orang selain Makhluk Merah. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan itu?

__ADS_1


"Aku sudah lupa kapan dan bagaimana kami bisa lahir, yang jelas itu sudah sangat lama. Saat itu manusia masih berperilaku seperti binatang," jelas Makhluk Biru.


"Tunggu dulu," sela Victor. "Kenapa kalian menyebut diri kalian hanya ada satu di dunia? Kalian 'kan berdua. Dan, bagaimana kalian bisa yakin tidak ada yang lain? Kenapa tidak bereproduksi?"


"Kamu lucu sekali! Bereproduksi?" Makhluk merah tertawa terpingkal-pingkal, lalu menyentuh punggung Makhluk Biru. Tangannya menembus tubuh itu. "Kami tidak memiliki nafsu ataupun jenis kelamin, tapi di atas segalanya, kami bahkan tidak bisa berpegangan tangan."


"Kami sudah hidup begitu lama, semua yang kamu pertanyakan sudah lebih dulu kami telusuri. Kami sudah menjelajahi setiap jengkal bumi ini, bahkan ke tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh manusia. Hasilnya nihil." Makhluk Biru melihat ke arah langit pagi. "Hanya ada satu aku, dan satu dia."


"Kamu mungkin berpikir satu-satunya perbedaan antara aku dan dia adalah warna tubuh kami." Makhluk Merah mendekatkan wajahnya dengan Victor. "Tidak. Kami jauh berbeda. Aku hidup dari menyerap energi dari seseorang yang ingin mati, sedangkan dia menyerap energi seseorang yang memiliki keinginan untuk tetap hidup."


Victor menelan ludah. Dia tidak yakin apakah harus mempercayai kedua makhluk asing di depannya atau tidak. Apakah semua ini masuk akal? Dia sedang mencoba bunuh diri hingga beberapa saat yang lalu-


"Hei, kalian bilang manusia tidak bisa melihat kalian, kenapa aku bisa? Apakah karena aku sudah mati? Jadi hantu? Bagaimana dengan hantu yang lain?" Wajah Victor mengernyit, mencoba mencari jawaban untuk setiap pertanyaannya.


Makhluk Merah kembali tertawa. "Siapa yang percaya dengan takhayul buatan manusia itu? Astaga, manusia memang makhluk aneh. Bisa-bisanya membuat cerita untuk menakut-nakuti sesamanya."


Makhluk Biru menyikut lengan temannya—hanya gestur, mereka tidak bisa bersentuhan. "Dia ada benarnya. Jelas-jelas dia sudah melompat dari tebing itu. Biasanya manusia yang mati akan pergi ke cahaya, tapi dia masih di sini. Dalam teori manusia, itu disebut hantu, 'kan?"


"Maksudmu dia roh penasaran yang masih belum menyelesaikan urusan di kehidupannya? Haruskah kita membantu menyelesaikan urusannya agar dia dapat pergi ke cahaya?" ejek Makhluk Merah. "Ada banyak manusia yang mati penasaran. Semuanya langsung pergi ke cahaya."


"Aku bunuh diri untuk mati, bukan menjalani kehidupan yang lain." Victor mengusap wajahnya. "Bagaimana jika sebenarnya aku belum mati dan semua ini hanya halusinasi? Mungkin mereka hanya imajinasiku. Sepertinya aku mulai gila."


Makhluk Merah dan Biru saling tatap dengan senyuman aneh di wajah mereka. Mereka menoleh pada Victor, kemudian menghilang perlahan-lahan. Angin bertiup. Sekarang tidak ada siapapun di tebing itu selain Victor.


"Aku benar?!"


~•~

__ADS_1


__ADS_2