
Victor mendengus kesal. Dia bukan seorang pria yang memiliki imajinasi tinggi, bagaimana bisa ia berhalusinasi tentang makhluk-makhluk aneh tadi? Sangat tidak masuk akal.
"Yah, bagaimana pun, sudah waktuku untuk ma- ah, sial!"
Victor mengumpat di dalam hatinya ketika melihat Tama berlari dari kejauhan. Mereka belum berhadapan, tapi Victor bisa melihat kekhawatiran dan ketakutan di wajah Tama. Gadis itu berhenti dengan kaki yang gemetar, juga bahu yang naik turun karena sesak nafas.
"Victor ..." lirih Tama.
"Wajahmu jelek sekali." Victor menggaruk tengkuknya, melirik catatan bunuh diri di genggaman Tama. "Aku masih hidup, oke? Kelihatannya, aku belum bunuh diri."
"Tidak ... VICTOR!!" Tama berlari lagi.
Kelopak mata Victor terbuka lebar. Ia tidak percaya Tama melewatinya begitu saja. Dan ... dan menembus tubuhnya? Mustahil. Akan tetapi, Victor jelas melihat gadis itu ... tidak lupakan. Victor pasti hanya berhalusinasi, lagi.
"Ayolah, aku tahu kamu marah padaku. Maafkan aku, jadi jangan bersikap seolah kamu tidak melihatku." Victor diam sejenak untuk memperhatikan Tama yang menangisi jaket yang diletakkannya di rumpun pohon. "Bukankah memeluk pemiliknya lebih menangkan daripada memeluk benda mati itu?"
Tama masih tidak bereaksi. Tama sibuk menangis, bergumam dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Tentu saja itu membuat Victor kesal. Victor mengulurkan tangannya hendak menarik bahu Tama, tapi tidak berhasil.
"A-apa yang terjadi?" Victor mecoba lagi, terus-menerus, berulang kali. Victor membuat gerakan menyentuh, menarik, mendorong bahkan memukul. Namun, hasilnya sama saja. Dia tidak bisa menyentuh Tama, seolah gadis itu hanya hologram.
"Menyebalkan, bukan?" ejek Makhluk Merah.
Victor mengerang sebagai reaksi atas kemunculan tiba-tiba makhluk aneh itu. Dia tidak mengerti apapun. Segala yang ada di sekitarnya jadi menakutkan. Mengerikan.
Pandangan Victor gelap, dia hampir pingsan ketika Makhluk Biru berjalan menembus Tama, dan mendekat padanya. "B-bagaimana kalian bisa berada di sana? Kalian seharusnya tidak ada. K-kalian hanya imajinasiku!" Victor menutup matanya rapat-rapat.
"Ini pertama kalinya kamu sangat ketakutan." Makhluk Biru tertawa puas. "Aku selalu penasaran bagaimana reaksi manusia saat melihat seseorang yang memiliki kemampuan untuk menghilang. Aku pikir kalian akan terkesan."
"Kamu yakin akan tetap diam begitu saja?" Makhluk merah mendekatkan wajahnya pada Victor. "Gadismu memancarkan keinginan untuk mati yang sangat kuat. Aku rasa dia ingin menyusulmu melompati tebing."
__ADS_1
"Tama!" Victor menoleh, mendapati orang yang dimaksud sedang memandang hampa ke arah matahari. Perempuan itu melangkah perlahan, seperti orang kehilangan akal. "Apa yang kamu lakukan?! Berhenti di sana! Hei! Ka-kamu tidak boleh melakukan hal bodoh!"
"Bukannya kamu yang mengajarkan dia untuk berpikir seperti orang bodoh?"
Victor mengabaikan ocehan Makhluk Merah. Yang ada dipikirannya hanya menyelamatkan Tama. Gadis itu tidak boleh bunuh diri. Tidak karena dirinya. Dia mengusahakan berbagai cara, dan semua itu justru membuatnya semakin putus asa.
"Aku bisa membantumu," tawar Makhluk Biru. "Tentu saja kalau kamu mau berlutut dan memohon dengan sungguh."
Tanpa berpikir panjang, Victor menjatuhkan tubuhnya untuk bersujud. "Tolong selamatkan dia," pinta Victor. "Aku mohon, dia tidak ada hubungannya denganku."
"Tidak seru, kamu terlalu cepat memutuskan. Biasanya harga diri manusia begitu tinggi hingga enggan memohon," keluh Makhluk Biru.
"Selamatkan saja dia!" bentak Victor. Jantungnya berdegup kencang, mengetahui hanya butuh satu langkah lagi bagi Tama untuk menemui ajalnya.
"Tsk." Makhluk Biru memutar bola mata, kemudian meniup telapak tangannya.
Air mata Tama telah terseka sempurna, lengkap dengan keinginannya untuk bertahan. Ia sekuat hati meyakinkan dirinya sendiri bahwa Victor masih hidup. Mungkin sedang menelusuri jalanan di antah barantah seperti kebiasaannya. Atau sedang menghilang seperti saat ia membantu Ray. Apapun itu, Victor pasti masih hidup.
"Ah, energiku." Makhluk Biru terjatuh di tempatnya.
"Hei, kamu tidak apa-apa?"
Makhluk Merah menangkap tubuh temannya, mengusap punggung kaku itu penuh perhatian. Jelas sekali sandiwara mereka. Mereka bahkan tidak dapat saling menyentuh.
"Setidaknya kamu harus menunjukkan sedikit rasa terima kasih. Dia memberikan energi yang diserapnya dari orang-orang yang ingin bertahan hidup demi"
Ketika Makhluk Merah sibuk mengomel, Victor telah larut dalam tangisnya sendiri. Kesedihan. Emosi yang sudah lama tidak dirasakannya, kini membuat dadanya sesak. Sangat menyakitkan hingga membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain.
"Padahal kamu sudah sering melihat orang bunuh diri, bahkan memberi fasilitas untuk mereka. Kenapa sekarang sikapmu berbeda?" tanya Makhluk Biru.
__ADS_1
"Entahlah. Kenapa aku ingin mencegahnya?"
"Itu pasti cinta!" timpal Makhluk Merah. "Kamu tidak ingin hal buruk terjadi padanya, dan menangis karena dia. Manusia akan seperti itu saat jatuh cinta, bukan?"
Victor menyentuh pipinya. Air mata itu bukan untuk Tama. Victor mengerti dia sudah tiada. Dia juga dapat menerima keberadaan makhluk aneh ini. Ada banyak pertanyaan, tapi tidak ada yang lebih penting daripada alasannya menangis.
"Aku menangisi diri sendiri." Victor berjalan mengikuti Tama. "Kehidupanku membosankan, tanpa gairah, ambisi ataupun keinginan. Karena itu aku memutuskan bunuh diri. Siapa yang sangka aku tidak "pergi ke cahaya" seperti yang kalian katakan? Aku malah harus hidup bersama kalian."
"Aku tersinggung!"
Victor berhenti sejenak, kemudian menoleh pada para pendengarnya. "Tidak terlihat oleh siapa pun, tidak dapat menyentuh apa pun, hanya bisa berbicara dengan kalian. Membayangkannya saja aku sudah tau itu lebih membosankan dibanding hidupku sebagai manusia. Kenapa aku mengakhiri hidupku secepat ini?" sesal Victor.
Kalimat itu sepenuhnya membungkam mereka. Ribuan tahun mereka menahan diri untuk tidak mengatakan itu. Sejujurnya, memang kehidupan mereka membosankan. Namun, jika sampai mereka bertengkar karena itu, maka mereka benar-benar akan hidup sendirian.
Selama ini, mereka berusaha menghibur diri dengan bersandiwara meniru sifat manusia, atau mempermainkan keinginan hidup manusia. Terdengar jahat memang, sayangnya hanya itu tindakan mereka yang berpengaruh pada makhluk lain.
Keinginan bertahan hidup yang diberikan Makhluk Biru kepada Tama sepertinya sangat efektif. Gadis itu terlihat semangat menyiapkan dirinya sebelum melanjutkan magangnya di yayasan. Ia bisa dengan santai melaporkan kepergian Victor pada Ginette.
"Kamu lebih tenang dari sebelumnya." Ginette tersenyum lembut.
"Aku percaya pada Victor. Dia tidak akan pergi jauh tanpa memberitahuku." Tama balas tersenyum. "Kami sudah berteman."
Siapa yang coba Tama bohongi? Dirinya sendiri tahu betapa Victor membencinya. Catatan bunuh diri Victor yang telah diselesaikan, pertengkaran mereka, dan masalah lainnya. Jika Victor akhirnya memutuskan bunuh diri, mustahil dia akan repot-repot memberitahu Tama.
"Memangnya kenapa kalau dia sudah tiada? Dengan sifat keras kepalanya, Victor akan benci jika aku ikut bunuh diri karena merasa kehilangan dirinya."
Begitulah yang selalu dikatakan Tama pada dirinya sendiri. Omong kosong untuk menguatkan dirinya.
...~•~...
__ADS_1