Catatan Bunuh Diri

Catatan Bunuh Diri
EXTRA 5 : Hidupnya Telah Berakhir


__ADS_3

Beberapa minggu yang lalu, Victor sempat menghilang dari yayasan. Alasannya adalah untuk membantu Ray memulai debutnya sebagai penyanyi. Dia mengurus legalitas, pemasaran, mengubungi banyak orang dan sebagainya.


Di waktu-waktu sibuk itu, Victor juga membantu Ray menumbuhkan rasa percaya dirinya. Ia mengubah pria aneh yang menutupi sebagian besar wajah dengan poni menjadi pemuda manis yang mengobrol sambil menatap lawan bicaranya.


Victor juga mendengarkan cerita-cerita Ray dengan baik. Menanggapi seadanya, termasuk saat Ray memberitahu bahwa ia berharap dapat meninggal tepat saat matahari tenggelam. Persis seperti waktu dirinya dilahirkan.


Semua kegiatan dan jerih payah itu merupakan hal yang normal dilakukan oleh Victor. Dia tahu betapa sulitnya tidak memiliki siapapun, jadi ia hanya ingin sedikit membantu. Dari sanalah ia menjalin hubungan dengan banyak orang di berbagai kalangan. Sayangnya, Ray salah mengartikan sikap baik Victor.


Hati Ray terasa hangat. Setelah sekian lama, akhirnya seseorang memperlakukannya sebagai manusia. Dia tidak lagi merasa sebagai si kambing hitam yang selalu disalahkan. Perasaan itu tumbuh, menjadi sesuatu yang tidak seharusnya ada diantara dua pria.


"Aku tidak bermaksud menyuruh Ray bunuh diri," ungkap Victor kepada Kehidupan dan Kematian. "Ada banyak hal yang harus kupikirkan, dan pesannya yang tidak kunjung berhenti benar-benar menganggu."


"Mau kubuat agar dia tidak jadi bunuh diri?" tawar Kehidupan.


"Apa kalian tahu? Dulu Ray bekerja di sini. Pabrik pengolahan kayu ini satu-satunya tempat bekerja paling nyaman bagi Ray. Pekerjaannya memang berat, dan rekannya kasar, tapi semua saling membantu," jelas Victor.


"Tentu saja kami tahu, kami juga ikut mendengar ceritanya. Dia yang paling sedih ketika pabrik ini ditutup. Bahkan setelah itu, dia masih sering datang ke sini. Duduk sendirian, berpikir untuk mengakhiri hidup," balas Kematian malas.


Victor tersenyum tipis. "Kalian tahu banyak."


"Kalau kamu menuruti perintah kami, kamu bisa menyelamatkannya lagi kali ini," ulang Kehidupan.


"Aku rasa melompat dari lantai tiga tidak akan menyebabkan kematian, asalkan segera mendapatkan pertolongan."


"Tidak akan ada yang menolongnya disini! Tempat ini jarang dilewati!" bentak Kehidupan. "Hanya aku yang bisa."

__ADS_1


"Karena itu Ray memilih tempat ini."


"Kamu ingin menyelamatkannya atau tidak?" geram Kehidupan.


"Hentikan," sela Kematian. "Si Gila ini sama sekali tidak berminat untuk menyelamatkan pemuda malang itu."


"Tepat." Victor memperhatikan Ray yang duduk di dinding pembatas di sisi atap setelah mematikan kameranya. "Aku sudah mati. Tidak seharusnya aku ikut campur urusan mereka yang masih hidup. Lagipula, aku tidak bisa melakukan apapun untuknya."


Ketika Victor memohon untuk keselamatan Tama, itu adalah sebuah kesalahan karena dirinya terlalu emosional. Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Biarlah yang masih hidup menjalani kehidupan mereka.


"Aku pikir kamu akan datang." Ray menghela nafasnya, menatap langit jingga di depan sana. Dalam beberapa menit, matahari akan tenggelam sepenuhnya. "Kalau kamu datang, aku akan bertahan meski perasaanku tidak berbalas. Setidaknya, kamu masih peduli padaku."


"Victor sudah mati," jawab Victor. Dia hanya ingin mengatakannya, meski Ray tidak mungkin dapat mendengar. "Tidak mungkin dia akan datang."


Dan waktu yang dinanti akhirnya tiba. Matahari telah tenggelam. Ray tidak melihat keberadaan Victor, jadi dia memutuskan untuk melompat dengan perasaan kecewa.


Detik berikutnya, yang dilihat Victor adalah jiwa Ray keluar dari tubuh yang bergelimang darah itu. Dia terbang, menuju cahaya di atas sana, kemudian menghilang.


"Kenapa aku tidak bisa terbang ke cahaya?"


Atap itu bisu. Tidak semua pertanyaan mendapat jawaban, termasuk pertanyaan di benak kenalan-kenalan Victor. Apakah Victor masih hidup? Mereka tidak melihat jasadnya. Akan tetapi, segala barang yang ditinggalkan Victor sudah menggambarkan apa yang terjadi.


Tahun berganti dengan cepat. Setelah magangnya selesai, Tama kembali ke kotanya. Begitu berhasil mendapatkan gelar, ia segera kembali untuk bekerja pada yayasan hingga detik ini, ketika usianya telah senja.


Di antara waktu-waktu itu, hingga sekarang pun, Tama sering diam-diam menangisi Victor. Ia bahkan menolak untuk menikah karena tidak bisa melupakan pria itu. Tama menghabiskan semua energinya untuk mengelola yayasan yang dibentuk oleh orang yang dicintainya.

__ADS_1


Tidak ada pengumuman kematian Victor, tapi dari mulut ke mulut, setiap orang membicarakannya. Sebagian besar kenalan Victor tahu bahwa dirinya selalu ingin bunuh diri. Mereka hanya tidak ingin membahasnya saja, dan berharap Victor segera menemukan kebahagiaannya.


Nyatanya, bukan hanya Tama yang bersedih mengetahui Victor tidak pernah kembali ke yayasan. Semua orang juga begitu. Beberapa memang telah berhenti berharap. Hanya saja, kebanyakan dari mereka percaya Victor masih hidup di suatu belahan dunia. Dengan sifatnya yang eksentrik, tentu tidak mustahil.


Apa kamu ingat dengan pria gila yang ditemui Victor dan Tama di dekat restoran? Dia adalah ayah Victor. Sejujurnya, pria itu tidak gila. Dia berpura-pura, agar Victor tidak menghindarinya lagi. Ia ingin memeluk dan membujuk Victor kembali, hanya saja dia sadar Victor sangat membencinya. Terpancar jelas dari mata itu.


Begitu mendengar desas-desus Victor telah tiada, pria tua itu mengamuk. Dia mengacak-acak yayasan yang ia anggap telah gagal melindungi putranya. Ia mengumpat dan mengutuk. Meminta mereka mengembalikan buah hatinya.


Kesedihan jelas terpampang di wajahnya. Ia telah kehilangan istri yang dicintainya, sekarang darah daginnya pun telah pergi, dengan cara yang hampir sama. Bunuh diri. Ayah Victor menyesal tidak pernah bersikap lemah lembut. Jika tidak, mungkin keluarga mereka sedang berbahagia sekarang.


Rasa ngilu yang aneh, berdenyut di dada Victor. Dari semua orang, tangis ayahnya yang kehilangan dia adalah hal yang tidak dapat dibayangkan oleh Victor.


Ketika hidup, Victor sering menemui ayahnya yang tidak waras. Memberi makanan, kemudian mengeluh tentang masa lalu. Ia selalu mengira pria itu benar-benar telah kehilangan akalnya. Dan ternyata?


Air mata Victor berjatuhan. Umpatan, ujaran kebencian, dan segala hal buruk yang dikatakannya bergema di telinga Victor. Ia membayangkan ayahnya yang sakit hati karena hal itu.


Apakah selama ini pria tua itu menahan amarahnya karena rasa rindu? Victor tidak mengerti lagi. Ia kemudian berusaha memeluk ayahnya. Tentu, tidak bisa. Akan tetapi, ia menahan lengannya agar tidak menembus tubuh sang ayah.


Victor tidak merasakan apapun ketika melihat ibunya bunuh diri. Akan tetapi, sekarang ia tahu perasaan cemas, sedih dan khawatir ketika ayahnya mengerjang, kemudian meninggal karena serangan jantung. Ayahnya menjalani hidup yang tidak teratur agar terlihat seperti orang gila. Tidak ada satupun organnya yang sehat di dalam sana. Kematian Victor merupakan goncangan tak tertahankan.


"Aku tidak bisa berbuat apapun jika masalahnya adalah fisik manusia," sesal Kehidupan.


"Kami hanya bisa sedikit memanipulasi perasaan manusia," tambah kehidupan.


...~•~...

__ADS_1


__ADS_2