
Apa yang kamu pikirkan saat menemukan bagian ini setelah kata "tamat" dibagian sebelumnya? Aku rasa kamu pasti kebingungan. Jika masih ada bagian selanjutnya, untuk apa menulis tamat?
Ada banyak pertanyaan dalam pikiranmu. Kamu mungkin penasaran dengan nasib Victor. Berharap dia masih hidup, menghapus keinginannya untuk bunuh diri lalu hidup bahagia bersama Tama.
Percayalah, aku juga menginginkan hal itu! Aku bukan penggemar sastra ataupun novel, tapi membaca cerita ini sungguh membuatku merasa tidak terima. Aku ingin tahu reaksi karakter lainnya.
"Kalau begitu ubah naskahnya!"
Kamu mungkin berpikir begitu, tapi aku sama sekali tidak berhak mengubah cerita ini. Sejujurnya, ini bukan ceritaku. Aku hanya membantu mempublikasikan dengan nama pena RieeHime.
Sebelum membahas penulis asli cerita ini, tidakkah kamu penasaran kenapa di akhir cerita dia menulis, "Aku bebas." bukannya, "Victor bebas."? Atau setidaknya mengukung kalimat itu di dalam tanda petik. Sudah dapat gambaran?
Benar. Yang merasa bebas bukanlah Victor, melainkan si penulis. Setelah menuliskan kematian Victor, ia juga mengakhiri hidupnya. Melumuri monitornya yang masih menyala dengan darah. Kami menemukan tubuhnya ketika sudah mulai membusuk.
Jika kamu mengerti, maka buang jauh-jauh harapan tentang adanya pembahasan lebih lanjut mengenai Victor dan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada lagi yang bisa melanjutkan tulisan ini. Kalau kamu mau, kamu bisa mengarang sendiri sebebas-bebasnya.
Tidak akan ada lagi Tama ataupun Victor yang muncul di sini. Jadi, pergilah selagi aku memperingatkan. Aku membuat bagian ini hanya untuk menunjukkan kekecewaanku serta betapa menyedihkan penulis asli cerita ini—sebut saja namanya Tiara.
Bagaimana perasaan seorang penulis saat membunuh karakter penting dalam novelnya? Aku tidak tahu dengan cerita lain, tapi Tiara menangis histeris saat menuliskan nasib Victor. Bukan sekedar disebabkan oleh kesedihan, tapi karena depresi!
Melihat riwayat revisi dan buku harian digital milik Tiara, cerita ini hanya ditulis di saat depresinya berulah. Ketika ia membutuhkan tempat untuk melampiaskan perasaan tertahan di hatinya. Bisa kurasakan kecemasan dan kekhawatiran Tiara melebur dalam kehidupan Victor si maniak bunuh diri.
Aku menggila mengetahui bagaimana cara dia meninggal. Sebagai saudaranya, aku merasa gagal. Aku tidak berada di sisinya pada masa-masa menyedihkan itu. Dia sendirian, bertengkar dengan dirinya sendiri pada malam-malam yang gelap.
__ADS_1
Meski hanya saudara angkat, aku tidak pernah sedikit pun melupakannya sejak dia melarikan diri dari rumah. Aku selalu mencarinya. Aku terus berpikir, kenapa dia pergi? Apa kami masih tidak cukup baik padanya?
Tetap saja, aku bodoh. Saat bergabung dengan kepolisian, aku justru memilih divisi lalu lintas. Seandainya aku memilih divisi kriminal atau semacamnya, aku pasti akan memiliki akses yang lebih mudah untuk melacakmya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, aku ingin terus menggenggam tangannya. Aku tidak akan membiarkannya kabur lagi. Aku akan ... ah, tidak ada gunanya berandai-andai. Semuanya sudah selesai.
Aku membaca semua cerita buatan Tiara—yang umumnya tentang psikologikal dan pembunuhan—beserta catatan dan draft miliknya. Aku membuka semua file, termasuk video berisi rekaman Tiara mengeluhkan kesia-siaan hidup.
Ada sedikit kebahagiaan saat ia menyebut namaku dan orang tuaku. Aku senang mengetahui dia juga masih mengingat kami. Sisi sedihnya, aku baru tahu bahwa ia membenci semua perhatian yang kami berikan, karena itu membuatnya merasa hangat.
Keterkejutan menghantamku saat mengetahui bahwa pertemuan pertama kami terjadi ketika ia ingin mengakhiri hidupnya. Saat itu aku baru tamat SMP. Seberapa menyedihkan kehidupannya hingga berakhir seperti itu?
Dari yang aku baca, Tiara pernah memergoki ayahnya mencabuli adiknya yang masih kecil. Dia marah besar, menghantam pria bejat itu berulang kali hingga tewas. Mengerikan!
Sekarang aku mengerti kenapa dia tidak pernah memberi nama pada orang tua di dalam cerita ini. Juga alasan kenapa ada kemarahan yang berbeda setiap dia menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan pelecehan. Semua karena pengalaman pribadinya.
Segala kemalangan itu akan memakan banyak tempat jika aku ceritakan semua. Jadi, aku akan menutupnya di sini. Dengan "catatan bunuh diri" yang ditulis Tiara jauh sebelum kematiannya. Catatan yang membuatku mempublikasikan cerita ini tanpa perubahan sedikit pun.
Sekedar memberi tahu, dia penulis yang cukup terkenal dengan identitas yang misterius. Aku tidak ingin para penggemarnya berbalik menghujat pilihan hidup Tiara. Jadi, aku akan menyensor saat dia menyebut dirinya sendiri.
~•~
•CATATAN PENTING•
__ADS_1
Saat kamu membaca catatan ini, mungkin aku sudah tiada. Tergantung di ruang tamu, atau berlumuran darah di kamar mandi. Berakhir mengenaskan, persis seperti nasib Victor yang sudah aku rencanakan sejak awal.
Aku tidak tahu, apakah aku akan sempat menuliskan novel ini sampai akhir. Entah aku mati sebelum menamatkannya, atau aku sudah bunuh diri lebih dulu. Aku menekan banyak rasa frustrasi untuk bertahan sampai detik ini.
Kamu pasti heran membaca ini. Kenapa penulis sepopuler aku memasukkan omong kosong di bagian akhir novelnya? Kenapa novel ini menjadi satu-satunya ceritaku yang tidak pernah dipublikasikan? Dan, yah, pasti masih banyak pertanyaan lain di kepalamu.
Aku bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menuliskan tujuanku. Aku bahkan tidak tahu orang seperti apa yang akan membaca file cerita ini. Mungkin polisi yang sedang menyelidiki kematianku? Atau seseorang yang penasaran dengan semua draft tulisanku.
Hey, bagaimana para wartawan menuliskan berita tentang kematianku? Apakah, “Identitas ***, penulis paling misterius, akhirnya terungkap”? Atau “ Tidak pernah menunjukkan diri, identitas *** akhirnya terkuak setelah ia bunuh diri”? “*** ternyata seorang hikikomori,” sepertinya terdengar bagus.
Aku sedang sangat kacau. Mungkin pemilihan kataku terlihat aneh dan sulit dipahami. Apa aku sedang meracau? Mungkin saja. Bagaimana pun, jika kamu tidak mengerti, anggap saja pesan ini bukan untukmu.
Tadinya, aku ingin membuat catatan bunuh diri di selembar kertas, meletakkannya di sisi jasadku. Layaknya kebanyakan orang yang bunuh diri. Akan tetapi, aku tidak tahu harus menulis apa. Aku tidak punya keluarga, teman atau pun kenalan yang ingin kuberi pesan terakhir.
Karena itu, selagi mengumpulkan niat untuk bunuh diri, aku menulis novel ini. Biar pesan ini tertuju untuk siapa pun yang ingin membacanya, tidak spesifik. Pesan ini untuk siapa pun kamu, yang menggeledah komputerku.
Aku tidak punya penyesalan apa-apa, aku hanya ingin meminta satu bantuan. Kalau novel ini belum tamat saat aku mati, bisakah kamu membantuku menyelesaikannya? Kemudian, tolong publikasikan. Sebarkan pada semua orang. Semakin banyak yang membaca semakin bagus.
Karya terakhir seorang penulis yang bunuh diri, isinya pun tentang bunuh diri. Haha, pasti menggemparkan. Oh, benar, tidak harus menggunakan nama penaku, tenang saja. Aku hanya ingin memberitahu dunia, bagaimana rasanya kehilangan harapan. Seperti apa seseorang saat ingin bunuh diri. Semacam itulah.
Tidak, tidak. Aku bukannya ingin membujuk atau membuat banyak orang ikut bunuh diri. Aku berharap, setelah membaca tulisan ini, masyarakat akan punya sedikit empati untuk kami. Mungkin aku memang tidak bisa mengubah pola pikir orang lain, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?
Berjanjilah, kamu akan melakukannya untukku. Sebagai balasannya, aku akan memberikan seluruh tabunganku padamu. Jika kamu tidak mau ... aku akan menggentayangi rumahmu setiap hari!
__ADS_1
Bercanda. Orang mati tidak akan memiliki urusan apa pun lagi di dunia ini. Aku menyayangimu, bahkan meski kita tidak pernah bertemu.
•••