
“*Itukah alasan yang selama ini aku cari? Saat dia mengucapkannya, semua jadi terdengar terlalu sederhana untuk dipercaya*.”
...~•~...
“Aktingmu buruk sekali,” komentar Victor. “Kalau pada akhirnya akan diusir juga, bukankah lebih baik tidak mengajaknya sekalian?”
“Tidak ada yang bisa mengalahkan aktingku di dunia ini.” Elayne merapikan dirinya. “Aku butuh dia agar kamu tidak terus-menerus mendesakku untuk langsung ke inti percakapan. Aku tahu betul kamu takut membicarakan ini di depannya. Seperti halnya aku takut pada Sean.”
“Iya-iya. Aku tidak akan basa-basi lagi, tidak perlu memasang wajah yang tidak enak di pandang begitu.” Elayne tersenyum jahil. “Lagi pula, aku sudah mendengar apa yang ingin aku dengar.”
“Langsung saja,” tegas Victor. “Aku tidak punya waktu untuk melayani omong kosongmu.”
“Sebelum itu, kamu harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.” Elayne memajukan tubuhnya. “Benarkah kamu sering membiarkan orang lain bunuh diri? Tidak menahannya sama sekali?”
“Aku tidak suka ikut campur dengan hidup orang lain.” Victor mengangkat bahunya. “Jika mereka meminta bantuan, aku akan membantunya. Jika tidak, aku hanya akan diam dan menyaksikan.”
“Bagus!” Elayne merasa puas dengan jawaban Victor. “Kalau begitu jangan bantu aku- oh tidak, maksudnya, bantu aku agar tidak diselamatkan tepat waktu. Bersikaplah senormal mungkin.”
Victor tidak perlu repot-repot bertanya, karena maksud dari permintaan Elayne terlihat dengan jelas. Gadis itu mengeluarkan bungkusan bertuliskan HCN. Dia memamerkan bubuk putih di dalamnya ke arah CCTV, kemudian mencampur ke minumannya sendiri.
“Apa barang curian harus dipamerkan segirang itu?” sindir Victor. “Bukankah seharusnya kamu meminta izin sebelum menggunakan barangku?”
“Ingin menghentikanku?” tantang Elayne.
“Tidak. Lakukan sesukamu, tapi setelah memberitahu alasan kenapa aku ingin bunuh diri.” Victor tersenyum sinis. “Atau mungkin sebenarnya kamu tidak tahu?”
“Kamu sangat tidak pandai bersabar.” Elayne mengeluarkan dua buah kue keberuntungan. “Sekarang, bantu aku untuk memilih. Ambil satu untukmu.”
“Kamu ribet sekali, padahal hanya ingin bunuh diri,” keluh Victor, sambil mengambil salah satu kue itu secara acak.
Sebenarnya, sampai kapan dia akan hidup seperti ini? Dia tidak ingin terlibat dengan kehidupan orang lain, tapi pada akhirnya yang terjadi justru sebaliknya. Dia membuat banyak orang tidak jadi bunuh diri, sementara dirinya sendiri tidak ingin tetap hidup.
Napas Victor tertahan sejenak membaca kertas dalam kue keberuntungannya. "Berhenti." Kata itu keluar tepat saat ia mempertanyakan hidupnya. Apakah sudah saatnya ia berhenti dengan semua ini?
__ADS_1
“Akhirnya!” sorak Elayne di seberang meja.
“Kamu sudah puas? Bukankah sudah saatnya kamu menunjukkan sedikit niat baikmu?” tuntut Victor.
“Hm, bagaimana memulainya.” Elayne menyatukan ujung-ujung jarinya. “Alasan kamu bunuh diri adalah karena kamu menginginkannya. Sesederhana itu.”
“Haih... Bisa-bisanya aku percaya kamu memiliki jawaban yang aku cari,” sesal Victor. “Dan bodohnya, aku mau ikut permainan tidak berguna ini.”
“Hadapilah. Memang itu jawaban yang kamu cari. Kamu ingin bunuh diri karena kamu tidak ingin hidup.” Elayne memajukan tubuhnya. “Kita ini sama. Masa lalu yang menyedihkan sama sekali tidak mengusik hidup kita. Tapi hidup itu sendirilah yang membuat kita hampa.”
Senin, Selasa, Rabu hingga Minggu, lalu kembali ke Senin. Hidup adalah pengulangan. Jam, hari, dan kejadian-kejadian di sekitar kita. Semuanya terjadi berulang, dan selalu sama. Tidak ada yang benar-benar menarik.
“Kamu sering berpikir hidup ini menyedihkan bukan? Tidak berarti. Tidak berguna. Pada akhirnya semuanya akan menghilang. Kamu ingin mati, karena kamu tahu cepat atau lambat kamu juga akan mati,” jelas Elayne. “Apa gunanya tetap hidup?”
“Kamu tidak pernah mengucapkan kata-kata manis untuk menahan seseorang yang ingin bunuh diri. Sebab, kamu sendiri tidak percaya pada kata-kata seperti itu. Hidup ini berarti? Omong kosong.”
Pernyataan Elayne mengacaukan “dunia” kecil dalam pikiran Victor. Mengunci lidahnya untuk tidak mengatakan apa pun. Tidak ingin setuju, tapi tidak bisa membantah.
“Kamu pasti mengerti apa yang aku maksud. Hutangku lunas.”
“Setiap detik, aku berdoa agar Tuhan mencabut nyawaku. Ketika ingin bunuh diri, aku selalu memakai kue keberuntungan untuk memutuskan.” Elayne terkekeh. “Aku selalu mendapat kata ‘Berhenti', tapi tetap saja mencoba bunuh diri.”
“Hari ini kamu memberiku kata ‘Lakukan'. Ini pasti petunjuk dari Tuhan, bahwa Dia akan mencabut nyawaku. Kali ini pasti menjadi percobaan terakhir. Aku tidak perlu lagi menjalani hidup yang sia-sia ini.”
Persetan dengan racauan tidak penting dari Elayne. Victor tidak peduli meski ekspresi gadis itu memburuk setelah menenggak minuman beracunnya. Ia fokus pada “pertengkaran” dalam kepalanya.
Kenapa dia ingin bunuh diri? Pertanyaan itu telah menganggu Victor selama bertahun-tahun. Jawaban sederhana Elayne sungguh tidak bisa diterima. Dirinya tidak semenyedihkan itu.
“Tidak mungkin. Mustahil.”
Sementara Elayne menahan rasa sakit di dadanya yang serasa hampir meledak, Victor berlalu. Berjalan dengan pandangan kosong, seperti mayat hidup. Dia merasa hampa. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana caranya ia bisa pulang dengan selamat.
Tuhan?
__ADS_1
Bukankah yang baru saja bunuh diri merupakan seorang hamba Tuhan yang sangat taat? Mereka bilang, orang yang taat tidak akan pernah berpikir untuk bunuh diri. Mungkin Elayne pengecualian. Atau dia tidak benar-benar taat.
Victor mengacak rambutnya. Kepercayaan dan takdir Elayne sama sekali bukan hal yang penting untuk dipikirkan, terutama di saat seperti ini. Dai perlu memikirkan kembali mengenai hidupnya.
Waktu berjalan lambat, tapi tetap berlalu tanpa halangan. Setiap detiknya keyakinan Victor akan pernyataan itu semakin kuat. Seiring kegelapan malam menyelimuti.
Victor melirik cahaya berpendar dari ponselnya yang terletak di atas lemari. Ada banyak pesan yang masuk berturut-turut, menghasilkan bunyi getaran yang sangat mengganggu.
Ray menyatakan perasaannya di saat yang salah. Dan lagi, mengancam akan bunuh diri seandainya Victor menolaknya? Ha! Seandainya ia tahu Elayne baru saja bunuh diri menggunakan sianida milik Victor.
“Jika ingin mati, ya mati saja. Jangan menyeretku ke urusanmu. Aku tidak peduli pada apa pun yang terjadi padamu. Jangan ganggu aku.”
Balasan terkirim, dan Victor langsung mematikan ponselnya. Dia meletakkannya kembali ke atas lemari, disamping ... catatan bunuh diri?
“Victor? Syukurlah kamu di sini. Kenapa lampunya dibiarkan mati?” Tama menerobos masuk dan menghidupkan lampu. Ia terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan wajah pucat.
“Pergi.”
Tama bergumam, tanpa menyadari sikap Victor lebih dingin dari biasanya. “Apa kamu tahu, Elayne-“
“Dia sudah mati keracunan sianida,” potong Victor. “Aku sudah tau, sekarang tinggalkan tempatku.”
“Kamu membaca pesanku?” Tama menghela napas lega. “Aku sangat khawatir saat melihat dia sendirian dan sudah kejang-kejang di lantai. Lalu-“
“Aku bilang pergi, ya pergi!” bentak Victor. “Aku tidak ingin mendengar laporan tentang kematiannya, aku sudah tau semua! Bahkan lebih banyak darimu. Apa kamu tahu dari mana dia mendapatkan sianida itu? Dari lemariku!”
Victor bergegas memamerkan peralatan bunuh diri yang dikoleksinya. Dia membuka lemari kecil itu di hadapan Tama dengan senyum bangga dan juga ... hampa? Victor tidak seperti dirinya sendiri sekarang.
“Aku tahu dan membiarkannya. Aku juga tahu dia mengambil sianida itu dari sini. Lalu, apa? Semua itu tidak ada hubungannya denganmu. Kamu bahkan tidak menyukai keberadaannya.” Victor tersenyum sinis.
“Ha-ha. Berhenti bercanda.”
Tidak peduli sehebat apa pun kalimat penyanggah yang disusun Tama, hatinya tahu mana yang benar. Ekspresi Victor ... lalu barang-barang di dalam lemari, semuanya sesuai dengan pengakuan pria itu.
__ADS_1
"Kamu kecewa mengetahui sifat asli orang yang kamu cintai?"
...~•~...