
Namaku Lina Marsheilla, anak kedua dari keluarga Lend. Aku berumur 20 tahun lebih muda 1 tahun dari abang kandungku. Papaku bernama Ardan Syahputra Lend, CEO tersukses no 5 di dunia bisnis. Mama tiriku bernama Windi Valerie Lend, wanita yang paling di benci oleh ku bahkan aku juga membenci papaku sendiri. Abang kandungku bernama Rendy Marchelino, ia juga membenci papa dan mama tiri sama seperti diriku yang membenci mereka. Saudara perempuan tiriku bernama Anna Glenny Lend, ia seumuran denganku bahkan kami saling membenci satu sama lain.
Aku dan abangku tidak lagi tinggal di rumah utama bersama keluarga Lend karena apa? Karena kami telah diusir gara gara fitnahan Anna yang tidak jelas kebenarannya. Sebenarnya aku dan abangku memang sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah itu, maka kami pun pergi untuk mencari mansions yang baru. Mansions? Ya! Karena aku mempunyai uang yang tak terhitung berapa banyaknya. Bagaimana bisa? Tentu bisa, karena aku adalah seorang nona CEO muda yang identitasnya tidak pernah diketahui oleh orang lain kecuali abangku sendiri.
Aku juga ingin menjadikan abangku sebagai wakil CEO tetapi dia menolak permintaanku, dia ingin bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaanku, mau tidak mau aku pun menurutinya padahal abangku juga sangat pintar dalam bidang apapun namun dia malah tidak mau menjadi wakil CEO. Perusahaanku bernama LM Group, perusahaan tersukses no 2 di dunia bisnis bahkan sudah bercabang dimana mana. Semua orang di perusahaanku tidak ada yang tahu hubunganku dengan kakakku, mereka mengira bahwa aku dan kakakku adalah sepasang kekasih padahal kami saudara kandung. Namun saat abanngku melihat aku terluka maka ia akan marah dan kejam untuk melenyapkan orang yang menyakitiku.
••••••
Matahari terbit dari timur menandakan pagi telah tiba, seorang gadis cantik masih terlelap dalam mimpinya. Gadis cantik ini adalah Lina Marsheilla, gadis yang sering tidur dalam keadaan apapun.
Tiba tiba di luar kamarku ada suara ketukan pintu namun aku tidak mendengar karena aku masih terlelap dalam mimpiku. Rendy yang mengetuk pintu sedari tadi mulai jenuh dan akhirnya masuk ke dalam kamarku tanpa permisi. Rendy membulatkan mata saat melihat adeknya masih tidur dalam posisi memeluk gulingnya. Ia berjalan mendekatiku sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Dek bangun dek” Rendy sambik menepuk pipiku dengan pelan namun tidak ada jawaban dariku.
“Dek....bangun”.
“Hem....harus pakek cara apa yak?” gumam Rendy berpikir sambil memegang dagunya.
Kemudian Rendy tersenyum miring karena sudah mendapatkan ide yang cukup bagus untuk membangunkanku.
Satu
Dua
Tiga
“KEBAKARAN TOLONG KEBAKARAN” teriak Rendy di dekat telingaku.
“HUWAA....ABANG TOLONG LINA MASIH DI KAMAR” teriakku dengan panik.
“Huahahahaha....” seketika tawa Rendy pecah saat melihat wajah panikku.
“Ish abang Rendot jahat” ucapku kesal karena dikerjai oleh bang Rendy.
__ADS_1
“Nama abang Rendy bukan Rendot dedekku sayang” ucap Rendy membenarkan namanya.
“Dedeku sayang haruskah aku hidup di lingkaran daun ganja dan narkoba....” aku bernyanyi sambil memasang wajah meledek.
“Nih bocah malah nyanyi” ucap Rendy sambil menepuk jidatnya dengan pelan.
“Huahahahaha....” tawaku pecah melihat raut wajah bang Rendy yang telihat putus asa menghadapi tingkah konyolku.
“Udah udah, sono mandi terus ke kantor” perintah Rendy seraya keluar kamarku.
“Iya abangku sayang” teriakku sambil berlari ke kamar mandi.
BRUKKK
“Aduh...siapa yang taroh tembok disini sih” gerutuku sambil memegang jidatku.
Air shower membasahi seluruh tubuhku membuat diriku merasa sangat segar dan membuat ngantukku menjadi hilang. 15 menit kemudian aku keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap yang elegan.
Kemudian aku berjalan ke arah meja rias untuk sedikit memoles make up di wajahku. Tak butuh waktu lama akhirnya polesanku selesai dengan sempurna, polesan make up yang tipis membuatku tambah cantik. Aku pun keluar kamar dan mencari keberadaan abangku namun aku tidak menemukannya di rumah.
Aku langsung pergi menuju garasi untuk memakai mobil kesayanganku. Mobil kesayanganku adalah mobil lamborghini Reventon. Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan sedang karena aku ingin memperlambat untuk sampai di kantorku.
Aku terus berbelok arah sepanjang jalan agar tidak cepat sampai di kantor namun tidak lama kemudian aku telah sampai juga di kantor, itu sungguh membuatku kesal. Aku langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantor tiba tiba saat aku akan melewati lobby resepsionis itu menghadangku.
“Maaf, anda tidak boleh masuk sebelum membuat janji dengan nona” ucap resepsionis itu.
Resepsionis baru rupanya, aku kerjain ah, batinku.
“Terserah aku dong mau masuk kemana aja” ucapku sinis sambil melihat ke resepsionis yang bernama Laila.
“Anda tidak boleh masuk sebelum membuat janji terlebih dahulu” tegas Laila.
“Kau berani sama saya hah?” bentakku membuat karyawan lain menoleh ke arahku dan Laila dengan tatapan takut.
__ADS_1
“Ya beranilah, emangnya situ siapa harus gue takuti” bentak Laila menantangku.
“Ck, menyebalkan ni orang” gumamku menatap sinis Laila.
“Shit, kau karyawan tidak tau diri. Penampilan udah kayak ***** di club malam sok sokan nantangin saya” ucapku lalu terkekeh kecil melihat dandanan nya yang begitu menor dan tidak pantas berada di kantorku.
PLAKK
“Jaga ucapan lo” bentak Laila setelah menampar wajahku membuat semua karyawan terkejut termasuk abangku dan membuat mereka semua geram kepada Laila.
Cih, beraninya kau menamparku seperti ini, batinku.
Aku memegang pipiku yang terasa panas karena ditampar oleh Laila “Cih, cuma itu yang bisa kau lakukan hah?” geramku.
“Mending lo pergi dari sini atau gue panggil satpam buat ngusir lo” ucap Laila sinis menatapku.
“Ada apa ini?” tanya Zindi tiba tiba, ia adalah asisten pribadiku dan hanya ia yang tahu hubunganku dengan abangku.
“Nona, wanita ini memaksa masuk ke kantor” ucap Laila sinis sambil menunjuk ke arahku membuat Zindi membulatkan matanya.
“Zindi bereskan dia, beritahu semua perusahaan lain tentang sikap dia yang tidak tahu diri dan jangan biarkan perusahaan lain menerimanya sebagai karyawan. Kalau sampai ada perusahaan yang menerimanya langsung kau bangkrutkan perusahaan itu dalam semalam!” perintahku lalu langsung pergi meninggalkan Laila.
“Apa apaan dia nyuruh nyuruh nona seperti itu. Nona tidak akan memecatku kan?” ucap Laila kepada Zindi.
“Kau sudah dengar yang dikatakan nona kan? Silahkan pergi atau akan saya seret jika kau tidak pergi dari sini sekarang juga!” tegas Zindi sambil menunjuk pintu keluar membuat Laila membulatkan mata.
Kemudian Laila pergi dari kantor dengan perasaan marah dan benci dengan seorang Lina. Sebelum ia pergi menjauhi area kantor, ia melihat sinis dengan kantor di hadapannya.
Kini aku duduk di kursi ruang CEO ku untuk mengerjakan beberapa tugas yang menumpuk walaupun masih ada rasa kesal. Aku dengan teliti membaca semua berkas yang ada di hadapanku satu persatu.
Hai everybody👋
Jangan lupa like, coment, and vote yang membangun yah🙋
__ADS_1
Oh iya, jangan lupa rate bintang 5 nya guys biar gw tambah semangat buat ceritanya.