
“Balas dendam...” jawabnya.
Aku mengernyitkan alisku karena aku tidak tahu tentang balas dendam yang di maksud oleh orang dihadapanku.
“Balas dendam?” tanyaku dan dijawab anggukan oleh orang dihadapanku.
“Tapi saya tidak tahu nyonya kami ingin balas dendam dengan siapa dan apa kaitannya dengan nona. Saya sungguh tidak tahuu....” jelasnya dan aku hanya diam saja.
“Nona...tolong jangan bunuh aku...” dia terus memohon kepadaku namun aku tetap diam.
Aku membalikkan badan dan langsung memberi kode ke mafiosoku untuk segera mengurus orang ini. Aku meninggalkam ruangan itu tanpa memperdulikan teriakannya. Aku langsung membersihkan tubuhku dan setelah selesai, aku juga langsung pulang karena hari sudah mulai malam. Saat aku sudah sampai di mansionku, aku melihat abangku yang tertidur di depan tv. Aku langsung mematikan tv itu dan langsung pergi ke kamar untuk beristirahat.
Di tempat lain, ada seorang pemuda yang terus melamun memikirkan seorang wanita. Tidak salah lagi kalau pemuda itu adalah Arga yang sedang memikirkan Arshe/Lina. Dia berdiri di dekat balkon kamarnya sambil memandangi bulan yang bersinar.
“Kenapa aku merasa kalau Arshe itu adalah Lina, dan Lina adalah Arshe.....” gumam Arga.
“Eh, ngapain aku mikirin dia sih. Gak guna juga aku mikirin dia....” gerutu Arga.
Arga yang sudah mulai mengantuk, akhirnya ia langsung beranjak menuju ranjangnya dan langsung merebahkan tubuhnya. Saat ia memejamkan matanya tiba tiba sosok Arshe/Lina muncul di pikirannya. Sehingga membuat Arga langsung membuka matanya dan duduk di ranjang.
“Astaga....kenapa sosok Lina dan Arshe tiba tiba muncul di pikiranku?” Arga bertanya pada dirinya sendiri.
“Ahk...bodoamatlah..” ucap Arga lalu mulai tidur kembali.
Pagi hari yang cerah, aku mulai terbangun dari tidurku. Aku langsung beranjak ke kamar mandi. Kemudian setelah aku selesai mandi, aku langsung keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian santai karena hari ini aku tidak ingin pergi ke kantor. Aku turun ke bawah untuk melihat Rendy, saat aku melewati meja makan langkah kakiku terhenti karena melihat Rendy yang sedang sarapan pagi.
“Tumben abang bikin makanan sendiri...” ucapku sambil menepuk bahu Rendy dengan pelan namun mengagetkannya.
“Astaga....kamu ini sering bikin abang jantungan aja yak...” sahut Rendy sambil mengelus dadanya dan membawa piringnya untuk di cuci karena dia sudah selesai makan.
“Hehehe....” aku hanya tertawa menanggapi ucapan Rendy.
“Oh iya, semalem kamu kemana aja dek?” tanya Rendy.
DEG
Pertanyaan Rendy membuatku berhenti tertawa.
“Aku cuma pergi ke....emm...”
“Pergi kemana?” tanya Rendy sambil mendekat ke arahku karena sudah selesai dengan acara mencuci piringnya.
“Anu...pergi ke Cafe, iya ke Cafe kok” sahutku lalu tersenyum.
“Yakin??”
“I – iya bang...” sahutku.
“Ya sudah kalau begitu...” ucap Rendy sambil merapikan kembali kemejanya.
__ADS_1
“Dek, nanti kamu mau pergi ke acara ulang tahunnya Anna gak?” tanya Rendy membuatku langsung menepuk jidatku dengan pelan.
“Aduhh bang...aku lupa beli kado buat anak tiri itu...” sahutku membuat Rendy juga menepuk jidatnya dengan pelan.
“Punya adek kok gini amat yak...” gumam Rendy namun masih terdengar olehku.
“Apa bang?”
“Eeh, ga ada apa apa kok. Sono beli kadonya nanti lupa lagi” ucap Rendy.
“Iya deh bang...” sahutku.
“Nanti abang gak bisa ikut kamu pergi ke acara itu. Abang ada pekerjaan kantor yang belum selesai” ucap Rendy.
“Yaelah bang...itu kan kantorku, kantor abang juga” gerutuku dan hanya di tanggapi tawa oleh Rendy
“Oh iya bang, kemarin pdkt nya ama Zindi gimana?” tanyaku sambil menaik turunkan alisku sedikit cepat.
BLUSHH
Wajah Rendy langsung memerah menahan malu, dia langsung pergi begitu saja membuatku tertawa puas karena sudah berhasil menggoda Rendy.
“Hahahaha....abangku sangat lucu” ucapku sambil tertawa.
“Hemm...lebih baik aku beri kado apa ya buat anak tiri itu?” gumamku sambil memegang daguku.
Aku tersenyum miring karena sudah mendapat ide untuk memberikan kado yang sangat mengejutkan anak tiri itu.
Kau pasti akan terkejut dengan kado pemberianku ini, batinku sambil tersenyum miring.
Siang hari kemudian, aku sudah bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun Anna. Aku memakai gaun putih yang panjangnya di atas lututku dengan sepatu high heels senada dan juga rambutku yang tergerai bebas. Polesan make up tipis menambah kecantikanku dan siapa saja yang melihatku mungkin akan iri kepadaku. Aku juga bersenandung merdu sambil menyisir lagi rambutku.
Drtttt Drttttt
Ponselku bergetar membuatku menoleh ke arah ponselku dan melihat nama penelfon itu adalah “Abang Lucknut” sehingga aku langsung mengangkat telfonnya.
“Halo bang”
“Kamu yakin mau pergi kesana dek?”
“Yakin bang, aku juga udah beli kadonya”
“Lebih baik kamu gak usah dateng dek...”
“Loh emangnya kenapa bang?”
“Abang khawatir sama kamu dek...”
“Abang tenang aja, aku gak akan kenapa napa kok”
__ADS_1
“Ya sudahlah, kalo kamu tetep kekeh mau pergi ke acara itu”
“Hehehe...bye abangku sayang”
“Byee adek abang yang cantik”
“Hehehe....”
Tut Tut Tut
Aku langsung memutuskan panggilan itu dan aku juga langsung pergi ke acara ulang tahun Anna sambil membawa kado. Aku kesana naik taxi agar keluarga Lend tidak tahu tentang kehidupanku yang berlimpah harta.
Saat aku sudah sampai di depan gerbang, aku langsung turun dari mobil taxi dan juga langsung membayarnya. Aku mendekat ke gerbang yang sudah di jaga oleh para bodyguard Ardan. Para bodyguard itu menatapku dengan tajam karena mereka tahu bahwa aku adalah anak yang di usir oleh tuannya.
“Mau apa nona kesini?” tanya bodyguard itu.
“Tentu saja menghadiri acara ulang tahun Anna” jawabku dengan sinis.
“Apa nona di undang ke acara ini?” tanyanya.
“Tentu saja” sahutku.
“Mana undangan nya? Undangan itu sebagai jaminan bahwa nona telah di undang ke acara ini” tanyanya membuatku membulatkan mata.
Waduhh...undangan nya kan sama bang Rendy. Dasar bodoh begitu saja sampai lupa, batinku merutuki kebodohanku sendiri.
“Kenapa diam saja nona? Atau jangan jangan nona ingin membohongi kami hah?” tanya bodyguard itu sambil mengamati gelagatku yang terlihat bingung.
“Aku tidak membohongi kalian kok...” sahutku.
“Lalu undangan nya mana?”
“Undangan nya ketinggalan” sahutku.
“Alah alasan saja, lebih baik nona pergi dari sini!!”
“Tidak!!” tolakku membuat para bodyguard itu marah.
Bodyguard itu mendorongku dan membuatku terjatuh di jalanan. Aku menatap mereka dengan tajam sambil berdiri kemudian aku membersihkan kakiku yang kotor akibat terjatuh di jalanan.
Tinnn Tinnn Tinnn
Suara klakson mobil menganggetkan ku dan membuatku langsung menoleh ke arah mobil itu. Aku baru sadar kalau aku berada di tengah jalan akibat dorongan para bodyguard itu dan mobil itu tepat menuju ke arahku.
“Aaaaaaaaa.....” teriakku sambil menutup mata.
“Awassss.....”
Hai kalian semua👋
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, and vote yang membangun yah🙋.
Oh iya, jangan lupa rate bintang 5 nya guys biar gw tambah semangat buat ceritanya.